Terang Redup Prambanan

Kompleks Candi Prambanan, Jumat (4/3).
Jam digital di telepon seluler saya baru menunjuk pukul setengah delapan pagi ketika mobil yang mengantar kami memasuki kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, Jumat dua pekan lalu. Cuaca tidak menentu waktu kami sampai di pelataran candi Prambanan. Langit sebentar redup  bergerimis, sebentar terang. Saya mengamati bangunan candi dari jarak dekat, meraba-raba tumpukan batu dan relief-relief yang terpahat di dindingnya. Bahkan saya sempat mendaki candi yang paling tinggi dan masuk ke dalam ruangan yang dulu digunakan sebagai tempat bertapa raja dan pendeta.  Para petugas pemelihara tampak sedang bekerja membersihkan candi. Mereka bergelayutan menggunakan tambang yang melilit pinggang untuk menjangkau celah-celah candi  bagian atas. Mereka tak tampak kuatir tergelincir. 
Terdapat beberapa candi di kompleks Prambanan ini, ada candi Bubrah, Syiwa, Apit, Cetho, dan banyak lagi candi kecil-kecil.  Dari ketinggian sini saya dapat menatap kemegahannya. Ada satu candi yang pucuk stupanya patah oleh guncangan gempa yang terjadi beberapa tahun lalu. Patahnnya dijadikan monumen di sekitar bangunan candi. Dipagari dan diberi tulisan tentang peristiwa gempa yang menyebabkannya patah.
Taman Wisata Prambanan berada di Desa Prambanan, Kecamatan Bokoharjo. Sekitar 100 meter dari Jalan Raya Yogya-Solo. Sebagian dari kawasan wisata yang terletak pada ketinggian 154 meter di atas permukaan laut ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Sleman. sedangkan sebagian lagi masuk dalam wilayah Klaten.
Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Indonesia. Belum ada catatan yang dapat menjelaskan kapan candi ini dibangun dan atas perintah siapa, namun diperkirakan dibangun sekitar pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu. Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta menjadi dasar perkiraan tersebut. Prasasti berangka tahun 778 Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Candi Prambanan terus mengalami pemugaran untuk perawatan, sejak pertama kali ditemukan sekitar abad 16. Di sebuah dinding bagian luar terpahat angka 1932. Itulah pemugaran terakhir yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda. Aku mengamati dan meraba pahatan angka itu.  
Belum ada pengunjung yang datang karena hari memang masih pagi. Kawan fotografer saya tengah sibuk ke sana kemari, mencari sudut yang bagus untuk pemotretan. Dia mau memotret narasumber yang saya wawancara di kawasan candi. Dia tampak cemas melihat cuaca yang terang redup itu. Bukan hanya karena kesulitan mencari sudut yang bagus dan kuatir air hujan membasahi lensa kamera, tapi juga lantaran mulai bosan menunggu si narasumber yang tak kunjung tiba. Padahal waktu kami sedang sarapan di kedai soto, sang sekretaris narasumber mewanti-wanti kami untuk secepatnya ke lokasi. “Cari view yang bagus ya, Mas. Bapak segera datang,” ujarnya di telepon.
Hamparan reruntuhan Istana Ratu Boko, Jumat (4/3)
Asisten yang mengantar kami ke candi juga tampak gelisah. Tatapannya memohon maaf atas keterlambatan bosnya.  “Ini pohon apa, Pak?” saya bertanya untuk sekadar mengurangi kecemasnnya. Pohon keben, dia bilang setelah meminta kepastian nama pohon kepada petugas yang melintas di sana.  Di langit awan berarak, perlahan menjauh. Matahari kini leluasa menyemprotkan sinarnya.  Para pengunjung mulai berdatangan. Kebanyakan rombongan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Ada sepasang turis Jepang yang berjalan tertatih-tatih mendaki tangga. Memotret ke sana kemari, lalu duduk di bangku di bawah pohon keben. Ketika saya sapa dalam bahasa Inggris si turis menyahut dalam bahasa Indonesia. Rupanya mereka sudah lama tinggal di Indonesia, tepatnya di Bali. Saya tidak sempat ngobrol lebih jauh karena narasumber yang saya tunggu sudah tiba bersama rombongan. Pemotretan pun dilakukan dan dilanjutkan dengan  wawancara. Semuanya berlangsung tidak sampai tiga jam.
kompleks Candi Ratu Boko
Kami melanjutkan perjalanan lepas tengah hari menuju Candi Ratu Boko. Jaraknya sekitar setengah jam dari Prambanan melewati jalanan yang meliuk-liuk dan menanjak. Candi Ratu Boko letaknya memang di atas bukit. Dari gerbang Taman Wisata Candi Ratu Boko, kami harus mendaki tangga batu yang lumayan panjang dan landai. Dari sana dapat melihat lanskap pemandangan sawah-sawah, perdesaan, dan jalanan yang tadi kami lalui. Candi Prambanan juga terlihat dari sini.
Tak banyak bangunan candi yang tinggi di Istana Candi Ratu Boko. Hanya berupa gerbang batu, hamparan lantai batu yang luas, beberapa benteng istana, dan sebuah kolam. Situs-situs ini dihubungkan oleh jalan setapak selebar satu setengah meter yang di beberapa titik diapit pohon melinjo. Di luar area Istana Ratu Boko tampak rumah-rumpah penduduk. Beberapa di antaranya membuka warung. Saya mampir ke sana dan memesan air kelapa muda. Meski cuaca agak redup, namun air kelapa muda tak pernah gagal menyegarkan tenggorokan siapa pun yang kehausan, apalagi setelah lelah mengelilingi candi Ratu Boko. Pukul tiga sore sopir mengantarkan kami ke Bandara Adi Sucipto.   

Comments