Posts

Showing posts from April, 2016

Kalimat Thayibah yang Menghangatkan Benak

Image
Resensi ini pernah ditayangkan Lampung Post, Jumat 22 April 2016
Dongeng yang dituturkan orang-orang tua kita dahulu hampir selalu mengandung pesan untuk berlaku penuh kasih sayang kepada sesama atau hewan, serta merawat alam yang memberi kita kehidupan. Karena itulah memang tujuan utama mereka menuturkan dongeng. Menyampaikan pesan melalui dongeng bukanlah hal yang buruk. Supaya anak-anak mengambil hikmah dan berperilaku baik. Sekalipun selalu mengandung pesan, dongeng tidak membuat anak-anak seperti sedang dikhotbahi perihal apa yang boleh dilakukan dan tidak. Itulah keajaiban dongeng. Karena pesan yang terkandung di sana menjadi bagian dari alur dongeng. Dongeng menciptakan keintiman antara yang menuturkan dengan yang mendengarkan. Dongeng merangsang otak berimajinasi, aktif berpikir tentang apa saja yang mungkin. Ketahuilah, imajinasi adalah modal penting untuk membangun kebudayaan dan peradaban manusia. Seluruh kebudayaan yang ciptakan manusia berawal dan berasal dari imajinasi.���…

Melihat Kegembiraan di Festival Yoga

Image
Kau tak tahu, betapa aku susah
mencari hadiah untukmu.
Tak ada yang terasa pas
apa guna bawa emas?
ke tambang emas?
Atau air ke samudera?
Apa saja yang kupikirkan, cuma
bak bawakan rempah-rempah
untuk Timur.
Pun tak tepat berikan hati dan
jiwaku...
Karena kau telah memilikinya
maka kubawakan sebilah cermin.
Lihat dirimu, dan ingatlah aku.

Puisi karya penyair sufistik mistik Jalaludin Rumi itu dibacakan Yudhi Widdyantoro untuk Dyah Pratitasari seusai perempuan berparas ayu itu mengakhiri kelas yoga untuk wanita hamil di ajang Festival Yoga. Dyah merupakan satu dari sejumlah guru yoga yang memberi kelas pada perhelatan Festival Yoga di Taman Menteng pada Sabtu dan Minggu kemarin.  Untuk pekerjaannya itu Dyah Pratitasari hanya mendapat honor sekadarnya dari kotak donasi. Namun bagi Dyah itu lebih dari cukup. Ia merasa bahagia dapat berbagi ilmu dengan para penggemar yoga. Sedangkan Yudhi adalah ketua komunitas Yoga Gembira yang banyak menggerakkan dan mengembangkan komunitas yoga di taman-taman kota …

Dongeng Manusia dan Monyet

Image
Resensi ini awalnya disiarkan Jawa Pos, Minggu, 10 April 2016 Novel keempat Eka Kurniawan ini dikemas setengah fabel. Karena tokoh-tokohnya terdiri dari hewan dan manusia, bahkan benda-benda mati. Mereka hidup di dunianya masing-masing tapi saling bersinggungan. Secara cerdik pengarang berhasil menghubungkan secara selaras alur dunia hewan dan alur dunia manusia. Kedua alur ini serupa cermin bagi satu sama lain.    Memasuki novel terbaru pengarang yang masuk daftar The Man Booker International Prize 2016  ini kita laksana memasuki dunia yang riuh rendah oleh suara berbagai mahluk hidup. Suara manusia berbaur dengan suara kerabat-kerabatnya sesama mahluk hidup dari dunia hewan dan mahluk tak kasat mata. Mereka bersinggungan dan berinteraksi satu sama lain yang kadang bersilangan namun membentuk harmoni sekaligus kekacauan atau kekacauan dalam harmoni.

Memihak kepada yang Lemah

Image
Judul di atas barangkali terdengar rada bombastis seperti pidato kaum politisi menjelang pemilu. Gara-garanya adalah buku kumpulan feature Sindhunata yang tergeletak di meja seorang teman. Saya membacanya beberapa judul yang menarik sambil menemaninya bekerja.

Baiklah, saya akan mengawali membagi hasil pembacaan saya dengan kalimat yang agak klise, seperti ini:  Tidak banyak jurnalis yang mampu menulis reportase yang dikemas dalam bentuk feature yang humanis dan enak dibaca. Karena menulis jenis tulisan seperti itu, di luar kemampuan menulis dan ketekunan mengumpulkan data, harus memiliki empati dan kepedulian terhadap nasib wong cilik. Ini yang tidak gampang.  Setiap tindakan yang dilakukan harus mendapat bayaran setimpal, itulah konsekuensi modernitas. Selalu menimbang untung rugi. Kalau perlu mendapatkan untung sebesar-besarnya dari modal yang sekecil-kecilnya, itulah rumus kapitalis.

Dongeng tentang Kekuasaan yang Bikin Dungu dan Rakus

Image
Idayu tak bersorak gembira ketika Gelar, putranya, menceritakan bahwa ia telah membunuh Syahbandar Tuban Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahud Al Badawi alias Sayid Habibullah Almasawa. Perempuan itu justru sedih, kecewa Gelar menjadi pembunuh.

Dahulu, Idayu adalah seorang penari dari desa Awis Krambil. Ia tiga kali berturut-turut memenangi sayembara yang digelar Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Sementara  Galeng, kekasih dan pujaan hatinya, memenangi sayembara gulat. Atas prestasi  tersebut sejoli ini tinggal dan mengabdi di istana kadipaten.