Kalimat Thayibah yang Menghangatkan Benak

Model oeh Maureen
Resensi ini pernah ditayangkan Lampung Post, Jumat 22 April 2016
Dongeng yang dituturkan orang-orang tua kita dahulu hampir selalu mengandung pesan untuk berlaku penuh kasih sayang kepada sesama atau hewan, serta merawat alam yang memberi kita kehidupan. Karena itulah memang tujuan utama mereka menuturkan dongeng. Menyampaikan pesan melalui dongeng bukanlah hal yang buruk. Supaya anak-anak mengambil hikmah dan berperilaku baik. Sekalipun selalu mengandung pesan, dongeng tidak membuat anak-anak seperti sedang dikhotbahi perihal apa yang boleh dilakukan dan tidak. Itulah keajaiban dongeng. Karena pesan yang terkandung di sana menjadi bagian dari alur dongeng.
Dongeng menciptakan keintiman antara yang menuturkan dengan yang mendengarkan. Dongeng merangsang otak berimajinasi, aktif berpikir tentang apa saja yang mungkin. Ketahuilah, imajinasi adalah modal penting untuk membangun kebudayaan dan peradaban manusia. Seluruh kebudayaan yang ciptakan manusia berawal dan berasal dari imajinasi.    
Sayangnya, mendengarkan dongeng yang dituturkan orang tua bagi anak-anak generasi digital sekarang  menjadi hal yang langka, dan karena itu menjadi sangat istimewa. Televisi, gawai, play station telah mengambil peran orang tua untuk menuturkan dongeng. Sedihnya, para orang tua telah merasa cukup dengan itu dan anak-anak seakan tidak perlu mendengarkan dongeng. 
Orang-orang tua masa kini dengan kesibukan yang begitu tinggi, baik kesibukan kerja maupun sekadar nonton televisi atau sibuk main gawai tak lagi sempat mendongeng. Ketika ada waktu mendongeng, mereka lupa dongeng apa yang ingin dituturkan kepada anak-anak mereka. Kehadiran buku kumpulan cerita (: dongeng) karya Wikan Satriati ini dapat menjadi pilihan untuk dibacakan orang-orang tua kepada anak-anak mereka. Atau apabila mereka masih tak sempat membacakan, dapat langsung memberikannya kepada anak-anak untuk membaca sendiri.
Dongeng-dongeng dalam buku ini digubah Wikan Satriati dari kisah-kisah sejarah nabi dan sejumlah sahabatnya. Dengan pengalaman puluhan tahun sebagai editor buku-buku sastra serta bacaan yang luas, Wikan berhasil meramu kisah-kisah sejarah nabi menjadi cerita dengan ‘napas’ yang berbeda, lebih lembut hingga sanggup merasuki bagian terdasar kemanusiaan kita. Bahasanya indah namun tetap ‘ramah’ bagi pembaca anak-anak. Kisah-kisah teladan yang dituturkannya begitu menghangatkan benak.
Sebagai penutur, Wikan tidak menempatkan diri sebagai tukang mengadili karakter-karakternya sebagai tokoh jahat dan tokoh baik. Tokoh-tokoh antagonis yang memusuhi nabi dan sahabatnya dituturkan bukan sebagai pihak yang harus dibenci dan diperangi, melainkan orang-orang yang perlu dipeluk, disayangi, diperhatikan dan dipahami. Cara Wikan mendeskripsikan kelakuan bocah yang dianggap nakal oleh orang dewasa, sungguh menakjubkan. Wikan seperti mengerti betul dunia dalam pikiran bocah-bocah itu.
Wikan secara cerdik menghubungkan kisah sejarah nabi ke dalam kehidupan kini. Misalkan pada kisah  Assalaamu’alaikum, Salam Sejehtera Bagimu. Suatu hari seorang bocah nakal yang gemar menghambur-hamburkan makanan dibawa seseorang ke sebuah peristiwa yang terjadi di rumah keluarga miskin pada masa kekhalihan Umar. Seorang ibu memasak sebongkah batu, supaya anak-anaknya yang kelaparan tertidur karena lelah menunggu masakan yang tak pernah ada.
Selain pesan-pesan kebaikan, dongeng-dongeng Wikan menyindir bahkan mengkritik keras prilaku orang-orangtua masa kini dalam memperlakukan anak-anak. Kita kutipkan beberapa paragraf berikut ini.  
…orangtua si Bocah tidak pernah benar-benar mengetahui kelakuan si Bocah. Mereka hanya bertemu si Bocah sesekali saja. Kadang mereka memang menemani bocah itu piknik ke taman bermain atau sekadar jalan-jalan di pusat pertokoan.
Tetapi pada saat itu, Ayah mungkin sedang sibuk mengetik pesan-pesan penting di telepon pintarnya saat si Bocah mendadak lenyap di kerumunan orang dan si Nona perawat kalang kabut mencarinya.
Ibu mungkin sedang asyik memilih baju-baju di gerai adibusana saat si Bocah masuk ke bagian mainan dan memasukkan hampir semua jenis mainan ke keranjang belanja.
Atau mungkin Ibu sedang sibuk mengunggah foto diri di media sosial saat Si Bocah masuk ke gerai kue-kue dan memesan semua jenis kue .(hal 33).


Melangkah dengan Bismillah pantas dibaca anak-anak dan orang-orangtua masa kini maupun ‘masa lalu’, yang tinggal di perkotaan maupun pelosok kampung atau di antaranya, yang hidup di antara gang sempit-lusuh maupun perumahan dengan taman-taman yang luas, yang angka di rekening tabungannya berderet maupun yang tidak punya rekening tabungan sama sekali. Dongeng-dongeng ini menghangatkan benak semua orang.      

Comments