Dongeng tentang Kekuasaan yang Bikin Dungu dan Rakus

Model oleh Indra Maulana
Idayu tak bersorak gembira ketika Gelar, putranya, menceritakan bahwa ia telah membunuh Syahbandar Tuban Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahud Al Badawi alias Sayid Habibullah Almasawa. Perempuan itu justru sedih, kecewa Gelar menjadi pembunuh.

Dahulu, Idayu adalah seorang penari dari desa Awis Krambil. Ia tiga kali berturut-turut memenangi sayembara yang digelar Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Sementara  Galeng, kekasih dan pujaan hatinya, memenangi sayembara gulat. Atas prestasi  tersebut sejoli ini tinggal dan mengabdi di istana kadipaten.


Idayu menjadi penari istana dan Galeng diangkat sebagai prajurit. Mereka menjadi sepasang kekasih yang dipuja-puja oleh seluruh rakyat Kadipaten Tuban. Kisah cinta pasangan ini menjadi kebanggaan dan  inspirasi bagi rakyat Kadipaten Tuban tentang keteguhan dan kesetian cinta. Ini adalah sebuah keberuntungan. Karena biasanya, gadis pemenang sayembara tari segera diambil menjadi selir oleh sang adipati.

Kekuatan cinta keduanya membuat adipati kemudian menikahkan mereka. Namun, ketika Galeng sebagai prajurit dikirim ke Demak, Syahbandar Almasawa, orang kepercayaan sang adipati nan culas, membius dan menggagahi Idayu saban perempuan itu selesai menunaikan tugasnya menari. Perbuatan bejat Syahbandar menyebabkan Idayu mengandung dan melahirkan Gelar.

Sekalipun Idayu meminta Galeng untuk menikamkan cundrik ke dadanya sebagai hukuman atas ketidaksetiaannya, lelaki itu dengan kebesaran hati yang luar biasa memaafkan Idayu dan menerima Gelar sebagai anak kandungnya sendiri. Dalam sebuah pertempuran memadamkan pemberontakan Sunan Rajeg, Galeng mengangkat diri menjadi Senapati Wiranggaleng setelah membunuh adik sang adipati meragukan kemampuan tentara tuban memadamkan pemberontakan Sunan Rajeg. Tindakan Galeng mengangkat diri sendiri sebagai senopati bukan untuk kemashuran diri sendiri melainkan demi menyelamatkan kewibawaan Tuban.

Kisah mereka terangkum dalam novel Arus Balik Pramoedya Ananta Toer; yang mengambil latar sejarah bangkitnya kerajaan Islam Demak di atas kejatuhana kerajaan Hindu Majapahit pada 1478 M. Ketika itu bangsa Eropa yaitu Peranggi atawa Portugis dan Spanyol atawa Ispanya mulai memasuki perairan Nusantara. Mereka menaklukan dan merebut Malaka dan membangun kekuatan dan bandar besar di sana untuk mengumpulkan dan mengirimkan rempah-rempah ke pasar Eropa.  
Kadipaten Tuban yang berada di bawah taklukan Demak berada di persimpangan; membantu Demak melawan Peranggi atau berkongsi dengan Serambi untuk melawan Demak. Dua-duanya bukan pilihan yang mengenakan laksana buah simalakama. Dimakan ibu mati, tak dimakan ayah yang tewas.

Tranggono penerus kerajaan Demak setelah kematian sang abang, Dipati Unus, lebih mementingkan kebesaran kekuasaan dirinya ketimbang menyatukan dan menggalang kekuatan kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk mengusir Peranggi dari Malaka dan seluruh perairan Nusantara. Sikap politik dan moral Tranggono sungguh berseberangan dengan sang abang Dipati Unus yang sepanjang hidupnya memimpin berjuang Demak menyatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara guna menyerang dan mengusir Portugis dari Malaka.

Tranggono memberi kepercayaan Fatahillah dari Sunda Kelapa menaklukan kerajaan-kerjaan kecil di Nusantara di bawah telapak kakinya dengan muslihat; meminta Tuban dan kerjaan-kerjaan kecil Nusantara mengirim pasukan untuk menggempur  Portugis di Malaka, pada saat bala tentara kepercayaan kerajaan-kerajaan kecil itu berangkat ke Malaka, tentara Demak pimpinan Fatahillah menakukan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara.

Muslihat ini membuat Wiranggaleng marah dan membenci kekuasaan yang membuat para bangsawan rakus, dungu dan kehilangan nuraninya. Setelah berhasil memimpin pasukan mengusir Peranggi Wiranggaleng pulang ke desa dan menjadi petani.

Kisah novel ini bagi saya setidakanya menyembulkan dua teks; yaitu kerakusan yang membuat seseorang jadi dungu dan kesetiaan rakyat jelata yang dieksploitasi demi kerakusan para bangsawan.

Karakter Wiranggaleng barangkali begitu sempurna. Ia seorang anak desa yang memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. Ia seseorang yang, kalau zaman sekarang kita menyebutnya, memiliki kesadaran feminis dan sangat humanis. Bab penutup novel sangat menarik, dituturkan melalui catatan harian Sylvester da Costa, tentara Peranggi yang diselamatkan Wiranggaleng. Dari catatan harian da Costa kita mendapat informasi akhir kisah perjalanan Gelar, Wiranggaleng, Idayu, dan putra mereka Kumbang.    

Comments