Melihat Kegembiraan di Festival Yoga

Yoga Festival 2016, di Taman Menteng, Sabtu (16/4)
Kau tak tahu, betapa aku susah
mencari hadiah untukmu.
Tak ada yang terasa pas
apa guna bawa emas?
ke tambang emas?
Atau air ke samudera?
Apa saja yang kupikirkan, cuma
bak bawakan rempah-rempah
untuk Timur.
Pun tak tepat berikan hati dan
jiwaku...
Karena kau telah memilikinya
maka kubawakan sebilah cermin.
Lihat dirimu, dan ingatlah aku.

Puisi karya penyair sufistik mistik Jalaludin Rumi itu dibacakan Yudhi Widdyantoro untuk Dyah Pratitasari seusai perempuan berparas ayu itu mengakhiri kelas yoga untuk wanita hamil di ajang Festival Yoga. Dyah merupakan satu dari sejumlah guru yoga yang memberi kelas pada perhelatan Festival Yoga di Taman Menteng pada Sabtu dan Minggu kemarin.  Untuk pekerjaannya itu Dyah Pratitasari hanya mendapat honor sekadarnya dari kotak donasi. Namun bagi Dyah itu lebih dari cukup. Ia merasa bahagia dapat berbagi ilmu dengan para penggemar yoga. Sedangkan Yudhi adalah ketua komunitas Yoga Gembira yang banyak menggerakkan dan mengembangkan komunitas yoga di taman-taman kota di Jakarta.

Sejak beberapa tahun terakhir komunitas yoga gembira tumbuh marak di Jakarta, ini tidak lepas dari peran Yudhi dan komunitasnya. Mereka menggelar latihan bersama  dibimbing pengajar-pengajar yang mengajar secara suka rela. Taman Surapati di Menteng, Jakarta, menjadi salah satu tempat berkumpulnya komunitas yoga gembira. Saban minggu pagi mereka datang berkumpul dan berlatih yoga. Ada pula di Lenggang Jakarta, di sayap kiri pelataran Monumen Nasional, seberang Balaikota Jakarta, serta di beberapa taman kota lain. Atas ajakan seorang kawan saya beberapa kali bergabung berlatih yoga di sana. Sejumlah gedung perkantoran juga menggelar latihan yoga saban minggu. Ada yang berbayar ada pula yang sifatnya donasi sukarela sahaja.

Sejumlah komunitas yoga yang tersebar di Jakarta itulah yang menginisiasi Festival Yoga di Taman Menteng. Akhlis Purnomo salah pengajar yoga menceritakan, keterlibatannya di festival yoga karena memang menggemari yoga. “Semakin banyak orang menggemari yoga tentu lebih bagus. Saya bahagia sekali dapat mengajak orang berlatih yoga ” kata dia. Komunitas yoga gembira memang mengubah taman-taman kota jadi lebih semarak dan hidup. Buntutnya orang tidak hanya jadi lebih sehat, mereka juga dapat bersosialisasi, membangun kebersamaan.

Komunitas yoga gembira tidak sekadar berlatih yoga dan bersehat-sehat sendiri. Mereka menyisihkan donasi yang dikumpulkan untuk kegiatan sosial. Bahkan donasi yang terkumpul selama festival disalurkan ke yayasan-yayasan yang membutuhkan di seputaran Jakarta.

Tahun ini merupakan tahun ketiga festival yoga. Dan baru kali ini saya berkesempatan ikut menjadi relawan sekalian ikut kelas. Menurut Yudhi, penyelenggaraan festival yoga tahun ini lebih banyak pesertanya. Panitia membangun beberapa tenda tertutup dan satu tenda terbuka. Di tenda-tenda tertutup ini dibuka kelas yoga untuk masyarakat yang menggemari yoga dengan pengajar-pengajar profesional. Mereka yang ingin yoga tidak dikenakan tarif, hanya donasi seikhlasnya.  Ada kelas untuk pemula, yoga untuk wanita hamil, bahkan ada yoga untuk anak-anak. Ada kelas asana atau postur yoga, kelas gaya hidup sehat, kelas Chakra Dance. Bagi Anda yang gemar suasana ramai bisa mengikuti kelas yoga yang diiringi musik hip hop. Di tenda terbuka, yoga festival juga ada kegiatan mendongeng.

Saya mengikuti kelas asana atau postur yoga setelah keliling kian kemari memotret. Hampir dua jam dan membuat badan saya bagai kain basah yang diperas. Kelas ini instrukturnya perempuan bule, entah bule mana. Badannya lentur sekali. Mengenakan pakaian yoga tipis ketat membuat lekuk liku tumbuhnya tergambar jelas. Berbeda dengan Dyah Pratitasari yang mendapat hadiah dibacakan puisi oleh Yuddi. Dyah mengajar kelas yoga untuk wanita hamil dengan mengenakan jilbab lebar atau sebagian orang menyebutnya jilbab syar’i. Yoga gembira memang baik untuk melatih kelenturan badan dan ketenangan jiwa. Praktik yang makin digemari orang modern, dari Timur hingga Barat. Dari penggemar puisi-puisi Jalaluddin Rumi hingga pecinta prosa-prosa Rabindranath Tagore.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka