Memihak kepada yang Lemah

Model oleh Astrid Idris
Judul di atas barangkali terdengar rada bombastis seperti pidato kaum politisi menjelang pemilu. Gara-garanya adalah buku kumpulan feature Sindhunata yang tergeletak di meja seorang teman. Saya membacanya beberapa judul yang menarik sambil menemaninya bekerja.

Baiklah, saya akan mengawali membagi hasil pembacaan saya dengan kalimat yang agak klise, seperti ini:  Tidak banyak jurnalis yang mampu menulis reportase yang dikemas dalam bentuk feature yang humanis dan enak dibaca. Karena menulis jenis tulisan seperti itu, di luar kemampuan menulis dan ketekunan mengumpulkan data, harus memiliki empati dan kepedulian terhadap nasib wong cilik. Ini yang tidak gampang.  Setiap tindakan yang dilakukan harus mendapat bayaran setimpal, itulah konsekuensi modernitas. Selalu menimbang untung rugi. Kalau perlu mendapatkan untung sebesar-besarnya dari modal yang sekecil-kecilnya, itulah rumus kapitalis.

Paragraf di atas maafkan kalau terkesan kelewatan sok tahu dan belaga serius. Saya lanjutkan saja, bahwa modernitas yang melahirkan kapitalisme menyuburkan sikap pragmatis itu mungkin benar. Dari sana lahirlah para jurnalis yang kerap tidak lagi mengabdi kepada tugas hakiki mengabarkan, menyebarkan, dan membela nilai-nilai kemanusiaan.   Buku Burung-Burung di Bundaran HI ini menghimpun feature yang sangat terasa digarap  dengan empati yang besar kepada kemanusiaan, pemihakan kepada orang-orang yang tak berdaya.

Feature-feature karya Sindhunata ini berhasil menyentuh, menggugah, bahkan mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan perubahan atau sekurangnya tertulari sikap empati penulisnya. Kita dapat merasakan situasi yang dihadapi gadis-gadis yang baru mekar yang harus menghuni kamar-kamar di kompleks pelacuran terbesar di Jakarta, Kramat Tunggak, ketik aitu. Bahkan suasana psikologis mereka menjalani peran sebagai perempuan pemuas napsu laki-laki dalam tulisan berjudul Kisah Si Mungil dari Indramayu.

Feature Sindhunata menelusuri keseharian mereka dan bagaimana mereka terjerumus ke dalam kegiatan menjual kehangatan tubuh. Sindhunata memasuki lapisan-lapisan hidup mereka yang membuat kita tercenung sekaligus tersenyum getir. Di antara tamu-tamu langganan, mereka akan menemukan salah seorang yang menjadi kekasih. Kepada lelaki semacam ini mereka melayani dengan sepenuh hati, tulus. Tetapi menjadikan pelanggan sebagai kekasih dan memperlakukannya lebih istimewa dibanding kepada pelanggan lain akan mengundang sikap tidak suka sang mucikari, karena hal itu berarti mengurangi setoran. Padahal si mucikari harus membayar ‘pajak’ kepada kepala RT, kelurahan, dan seterusnya.

Ada pedagang rambutan yang datang dari Bogor. Mereka mengayuh sepeda dinihari menuju Jakarta. Mereka harus menginap di trotoar bersama dagangan mereka. Tak jarang kerja keras mereka berakhir pahit; dagangan dirampas polisi pamongpraja karena dianggap mengganggu ketertiban atau dipalak preman. Paling ringan dagangannya ditawar murah sekali oleh nyonya sosialita yang membeli dari balik jendela sedan mewah.

Feature yang terhimpun di sini merupakan karya Sindhunata semasa menjadi wartawan di Kompas sejak 1978. Semuanya tentang manusia-manusia pinggiran Jakarta.  Sindhunata tak jarang mengawali tulisannya dengan puisi atau petikan-petikan pemikiran filsuf yang menghangatkan hati pembaca. Apabila kita membaca reportase yang ditulis dengan teknik jurnalisme sastrawi, gaya penulisan feature barangkali akan mengingatkan kita kepada teknik penulisan semacam itu. Tetapi yang khas dari feature Sindhunata adalah kehangatan dari rasa empati yang mendalam kepada yang lemah itu.

Para jurnalis muda era digital yang selalu dikejar-kejar obsesi paling cepat menyajikan reportase, ada baiknya menarik napas sebentar untuk membaca buku ini.  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka