Posts

Showing posts from May, 2016

Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi

Image
Baris sajak Sapardi Djoko Damono yang saya jadikan judul di atas mungkin hendak mengatakan yang sebaliknya. Tetapi bisa jadi juga ingin mengungkapkan yang sebenarnya: yang fana adalah kehidupan, kematian abadi. Siapakah yang dapat mengukur panjang waktu setelah kematian? Kita hanya dapat menghitung usia atau rentang waktu hidup seseorang; di luar itu kita tak tahu bagaimana cara menghitungnya.  
Bagi kaum beriman kematian adalah pintu masuk menuju perjalanan panjang berikutnya. Manusia terdiri dan jasad dan ruh, begitulah para pemuka agama memberi tahu, dan kita selalu berupaya untuk percaya. Jazad bersifat fana; ia menua, rapuh lalu hancur oleh perjalanan waktu. Tetapi ruh bersifat baka. Ruhlah yang akan mengarungi perjalanan panjang setelah jasad tak mampu bergerak lagi. Konon ruh pula yang akan mempertanggungjawabkan apa-apa yang dijalani semasa jazad hidup.

Menguping Celoteh Warga Negarabatin

Image
Hampir setiap koran dan majalah memiliki kolom khusus. Pada koran harian biasanya muncul pada hari Minggu. Kolumnisnya kadang bukan bagian dari orang dalam koran bersangkutan. Harian Kompas misalnya, dulu punya kolom Asal Usul yang diisi secara bergantian oleh Ariel Heryanto dan Mohamad Sobary dan jauh sebelumnya oleh Mahbub Djunaidy—sekarang bernama Udar Rasa yang ditulis secara bergiliran oleh Bre Redana, Seno Gumira Ajidarma, dan Jean Couteau. Majalah Tempo punya kolom Catatan Pinggir dengan Goenawan Mohamad sebagai penulis tetapnya hingga sekarang. Kedaulatan Rakyat ada kolom Sketsa yang ditulis Umar Kayam. Suara Pembaruan punya kolom Cemplon yang ditulis Umar Nur Zain. Kolom khusus di Koran Jakarta penulisnya Arswendo Atmowiloto. Lampung Post, sebuah koran terbesar di Lampung punya kolom Nuansa yang ditulis oleh Udo Z Karzi (alias Zulkarnain Zubairi) yang kemudian dibukukan dengan judul Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali. Udo menulis kolom di harian tersebut sejak 2009 hingga 2015…

Dongeng Tanah Jawa

Image
resensi ini sebelumnya ditayangkan basabasi.co Lupakan Babad Tanah Jawa anggitan para pujangga keraton kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tanah Jawa. Sebab kita sedang menghadapi sebuah babad yang lain tentang raja-raja dan pangeran di tanah yang sama. Inilah dongeng Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, ditulis oleh Yusi Avianto Pareanom, seorang pujangga kekinian, mantan pewarta dari sebuah majalah berita yang terbit saban minggu, Tempo. Dongeng Mandasia Si Pencuri Daging Sapi memang menceritakan tentang para raja dan pangeran di tanah Jawa. Tetapi soal keseruan dongeng ini tampaknya mengungguli karya sejarah para pujangga keraton Jawa yang agung itu. Bukan hanya deskripsi adegan seks dan pernik-pernik kulinernya yang membikin pembaca ngiler saja bawaanya, pengen makan (baik makan daging mentah maupun yang sudah diolah),  tetapi juga alur, konflik, dan tentu saja unsur dramatiknya yang menakjubkan. Kita seperti menonton film kolosal yang garap dengan ketelitian cerita maksimal.

Pelesiran ke Jerusalem

Image
Jerusalem barangkali kota yang tak pernah masuk dalam daftar kota yang ingin kamu kunjungi. Ia bukanlah kota yang asyik untuk jalan-jalan dan petualangan kuliner, kecuali kamu menyukai pelesiran yang menyerempet-nyerempet bahaya. Tetapi bisa jadi Jerusalem justru merupakan kota yang ingin kamu kunjungi lantaran inilah kota yang menyimpan sejarah para nabi dan mempengaruhi arah peradaban manusia di muka bumi.

Menyebut Jerusalem adalah melihat panggung kebuasan manusia; pertempuran yang melahirkan tragedi kemanusiaan yang tak kunjung sudah. Apa boleh buat, itulah yang kita saksikan hari ini sejak puluhan abad yang silam. Kesucian, keagungan, dan sejarah yang tersimpan di kota ini bagai lesap oleh letusan bom bunuh diri, hujan rudal yang berlesatan setiap hari sepanjang tahun. Atau jangan-jangan, karena pertempuran yang terus berkobar itulah yang membuat kota ini terasa kudus, suci, dan tak terjangkau. Kota ini menyimpan tempat-tempat suci ketiga agama samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan I…