Pelesiran ke Jerusalem



Model oleh Atiek Untari
Jerusalem barangkali kota yang tak pernah masuk dalam daftar kota yang ingin kamu kunjungi. Ia bukanlah kota yang asyik untuk jalan-jalan dan petualangan kuliner, kecuali kamu menyukai pelesiran yang menyerempet-nyerempet bahaya. Tetapi bisa jadi Jerusalem justru merupakan kota yang ingin kamu kunjungi lantaran inilah kota yang menyimpan sejarah para nabi dan mempengaruhi arah peradaban manusia di muka bumi.

Menyebut Jerusalem adalah melihat panggung kebuasan manusia; pertempuran yang melahirkan tragedi kemanusiaan yang tak kunjung sudah. Apa boleh buat, itulah yang kita saksikan hari ini sejak puluhan abad yang silam. Kesucian, keagungan, dan sejarah yang tersimpan di kota ini bagai lesap oleh letusan bom bunuh diri, hujan rudal yang berlesatan setiap hari sepanjang tahun. Atau jangan-jangan, karena pertempuran yang terus berkobar itulah yang membuat kota ini terasa kudus, suci, dan tak terjangkau. Kota ini menyimpan tempat-tempat suci ketiga agama samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Umat ketiga agama besar ini menjadikan tempat-temat suci sebagai lokasi untuk ziarah. 
Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam berada di sini. Tembok Ratapan kaum Yahudi terdapat di lingkungan yang sama. Begitu juga Gereja Makam Kristus yang dianggap tempat paling suci. Peperangan untuk merebut Jerusalem tidak hanya antar ketiga agama besar itu, tetapi bahkan internal umat Kristen terlibat konflik untuk menguasai Gereja Makam Kristus, yaitu Orthodok Yunani, Katholik Roma, dan Orthodok Armenia. Sultan Saladin yang berhasil merebut Jerusalem pada 1187 menyelamatkan gereja tersebut dan memberikan kuncinya kepada keluarga muslim sambil tetap memberikan keleluasaan umat Kristen beribadah di sana. Ketiga golongan Kristen berbagi kekuasaan atas bagian-bagian utama gereja tersebut. Begitu panjang dan rumit.   
Kini Jerusalem menjadi salah satu pemicu pertempuran tak kunjung reda antara bangsa Palestina dan bangsa bangsa Israel. Masing-masing pihak mengklaim sebagai pewaris paling sah dan paling berhak atas tanah Palestina yang membuat kota itu terus berkobar; satu sama lain berupaya saling melenyepakan. Melihat konflik ini, kita tahu merupakan buah dari egoisme masing-masing pihak yang bertikai; kenyataan yang membuat kita kesal sendiri saban mendengar korban terus berjatuhan. Para korban, apa pun agamanya, kau tahu, tetaplah seseorang yang memiliki  keluarga yang selalu menantinya pulang ke rumah dalam keadaan sehat, selamat, dan berbahagia.
Jerusalem, buku karya Trias Kuncahyono dengan tagline Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir ini, menuturkan perjalanan sejarah kota tua Jerusalem.  Trias menulis dengan gaya catatan perjalanan. Bagaimana ia berhasil memasuki kota yang dijaga ketat tentara Israel melalui jalan memutar yang mengundang bahaya dan menguji kesabaran. Trias terobsesi mengunjungi Jerusalem sejak ia mendengar kisah tentang kota itu dari ibu dan ayahnya.
Di ranah gaya penulisan catatan perjalanan kita mengenal Agustinus Wibowo. Bahkan Agustinus barangkali merupakan penulis terbaik untuk menulis catatan perjalanan. Ia bukan jenis penulis catatan perjalanan yang sekadar mengeksplor keunikan lokasi-lokasi wisata lengkap dengan kulinernya dengan cara yang dangkal seorang travel blogger. Agustinus memasuki setiap kota sampai ke pori-porinya; menguak sejarahnya sampai sekecil-kecilnya sambil memberi komentar-komentar personal dengan bahasa yang enak dikunyah oleh semua kalangan pembaca.      
Kenikmatan membaca catatan perjalanan Agustinus tidak kita dapatkan di buku Trias. Pewarta Harian Kompas ini bagi saya kurang halus mengolah data yang terlalu melimpah. Beberapa kali Trias mengulang kalimat yang sama untuk menggambarkan tuanya usia peradaban kota Jerusalem. Penuturan latar sejarah Jerusalem ditarik sejak Zaman Chalcolithic 4.500-3.200 Sebelum Masehi hingga Mandat Inggris (1917-1948) dan Periode Israel (1948 hingga sekarang).  
Zuhairi Misrawi yang memberi kata pengantar buku ini menilai Trias sudah berusaha  seobyektif mungkin untuk melihat Jerusalem dari tiga sumber agama-agama samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.  Tetapi bagi saya hal itu tidak hanya bisa dilihat sebagai kelebihan, tetapi pada saat bersamaan juga kekurangan. Karena hal ini membuat Trias terkesan terlalu hati-hati, dibebani self censorship yang membatasi kebebasan subyektifnya. Konflik Israel-Palestinaini memang ihwal yang sensitif bagi umat Islam, yang berkaitan dengan doktrin keagamaan.  Kita semua tahu itu. Umat Islam kerap baper, begitu kata anak gaul, saban menyinggung Israel-Palestina. Apa boleh buat.  Kita tidak  bisa mengubah kenyataan ini dalam waktu dekat.
Membaca buku ini barangkali membuatmu akan memasukkan Jerusalem ke dalam daftar kota yang harus  kamu kunjungi dalam waktu dekat, atau tidak sama sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka