Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi

gambar dari internet
Baris sajak Sapardi Djoko Damono yang saya jadikan judul di atas mungkin hendak mengatakan yang sebaliknya. Tetapi bisa jadi juga ingin mengungkapkan yang sebenarnya: yang fana adalah kehidupan, kematian abadi. Siapakah yang dapat mengukur panjang waktu setelah kematian? Kita hanya dapat menghitung usia atau rentang waktu hidup seseorang; di luar itu kita tak tahu bagaimana cara menghitungnya.  

Bagi kaum beriman kematian adalah pintu masuk menuju perjalanan panjang berikutnya. Manusia terdiri dan jasad dan ruh, begitulah para pemuka agama memberi tahu, dan kita selalu berupaya untuk percaya. Jazad bersifat fana; ia menua, rapuh lalu hancur oleh perjalanan waktu. Tetapi ruh bersifat baka. Ruhlah yang akan mengarungi perjalanan panjang setelah jasad tak mampu bergerak lagi. Konon ruh pula yang akan mempertanggungjawabkan apa-apa yang dijalani semasa jazad hidup.

Untuk kaum rasionalis, tidak ada apa-apa setelah jazad tak lagi berfungsi. Ilmuan Fisika Quantum Stephen Hawking berujar, kerja otak manusia mirip komputer (yang benar kerja komputer meniru otak manusia). Ketika sistem kerjanya rusak karena komponen-komponennya telah aus, maka ia tak lagi berfungsi menampilkan data. Tempat yang layak bagi bangkai komputer adalah gudang sebelum dikirim ke pembuangan akhir, lalu masuk mesin penghancur untuk dijadikan bahan daur ulang. 

Sejujurnya, selama empat hari di rumah sakit menjaga ibu mertua dirawat, saya berada di antara dua pandangan yang tampaknya bertolakan ini. Saya setengah ragu manakala membisikan kalimat-kalimat tasbih ke telinga ibu saya ketika menghadapi maut di ruang ICU rumah sakit Rabu, dua pekan yang lalu. Sebagian diri saya tak yakin tindakan saya membawa manfaat bagi ibu saya. Sebagian diri saya yang lain percaya ada gunanya sebagaimana ditanamkan guru-guru agama.

Saya gemetar ketika bersama dua orang kerabat turun ke liang lahat untuk menangkap jenazah yang diangsurkan dari atas, membaringkannya di dasar liang, membuka ikatan kafan, menghadapkan wajah jenazah ke arah kiblat, lalu menutupnya dengan papan dan menguruknya dengan tanah. Saya kerap mengikuti prosesi pemakaman. Ketika saya menikah dan pindah rumah di seberang kompleks permakaman desa, saya makin sering menyaksikan iring-iringan orang mengusung jenazah. Tetapi inilah pengalaman pertama saya membopong dan membaringkan jenazah ke liang lahat. Beberapa waktu sebelum ini tak dapat dibayangkan saya sanggup melakukannya. Melihat kematian, apalagi yang dialami orang terdekat, bagi saya sesuatu yang mengerikan.

Pada masa kanak dulu, menyaksikan usungan jenazah yang hendak dikuburkan serupa hiburan tersendiri. Kami, anak-anak desa, berlarian riang gembira di antara iring-iringan pengusung jenazah. Prosesi pemakaman jadi tontonan menakjubkan bagi kami. Ketika jenazah ditimbun dan pemuka agama selesai memimpin doa yang diikuti para pengiring meninggalkan kuburan. Setelah langkah ketujuh para pengantar jenazah meninggalkan kuburan, kami membayangkan dua malaikat datang membangunkan si jenazah untuk memberi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan tepat. Apabila tak mampu menjawab, dua malaikat akan menggodam kepala si jenazah. Begitulah yang sering kami dengar dalam pengajian-pengajian. Membayangkan itu tumbuh rasa ngeri dan kesenangan yang aneh dalam benak kami tanpa mampu kami jelaskan kenapa demikian. Perasaan ngeri sedikit berkurang dari benak saya ketika membopong dan membaringkan jenazah ibu saya ke liang lahat.

Usia ibu saya terhenti pada angka 54 tahun. Tensi darahnya naik tak terkendali, membuatnya tak sanggup menahan beban tubuhnya. Ia tak menyelesaikan pekerjaannya menampi beras, ia berjalan terhuyung ke dalam rumah, mencari pembaringan, dan jatuh menanggalkan kesadarannya di sana. Sulungku menelpon saya dengan nada panik.

Kami membawanya ke rumah sakit. Ia tak sadar lagi hingga menghembuskan napasnya yang penghabisan setelah empat hari dirawat. Istriku sempat jatuh pingsan ketika dokter menyatakan kematian ibunya.  Selama empat hari tiga malam kami menjaganya di rumah sakit. Melihat napasnya tersengal, mendengar mulutnya mengerang lirih. Selama empat hari saya menghirup semesta rumah sakit. Menyusuri koridor rumah sakit, melihat kereta jenazah didorong tergesa, mendengar orang-orang meratapi kematian istri, suami, anak, ayah, ibu, saudara. Rumah sakit serupa panggung kefanaan waktu.

Selama tujuh hari kami menggelar tahlil, saya percaya sangat ini baik bagi kami yang hidup. Kaum kerabat kami dan para tetangga berkumpul dan berbincang; sesuatu yang tak mudah kami lakukan tanpa ada momen kematian orang terdekat.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka