Hari Pemutaran Terakhir

Ilustrasi dari http://filmbaruuuuuuuu.blogspot.com/
Udara AC di ruangan kantor terasa sangat dingin. Tapi aku malas untuk memeriksa remote control dan menaikkan temperatur—lagi pula rekan di seisi ruangan ini pasti bakal protes kalau aku melakukannya. Aku langsung mengenakan kembali sepatuku seusai menunaikan salat. Perutku yang kosong lantaran sedang berpuasa barangkali yang membuat udara AC makin terasa menggigit. Pada dasarnya aku memang tak kerasan dengan udara dingin, apalagi dari AC. mungkin tubuhku terbiasa dengan udara panas kampung kelahiranku di Cirebon, dan tak kunjung mampu beradaptasi.

Dari jendela kulihat sinar matahari garang menerjang apa saja  yang ada di luar. Rekan kerjaku yang baru datang mengeluhkan suhu yang panas. Tapi aku tak menimpali keluhannya. Malas bercakap-cakap. Lebih asyik menyibukkan diri membaca tulisan di situs-situs kegemaranku seperti yang biasa kulakukan saat pekerjaan sedang sepi. Aku membuka situs 21cineplex, mengecek apakah film ‘Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara’ masih diputar. Sudah lama aku pengin nonton film ini. Seorang kritikus film andal di media digital terkenal memuji film ini dalam ulasannya. Seorang sutradara yang film-filmnya kugemari dan kerap menang di festival film internasional juga memprovokasi untuk menonton film ini di akun twitter-nya.

Kemarin sebenarnya aku sudah berangkat ke bisokop dengan menumpang kendaraan rekan yang akan pulang. Tapi batal karena di perempatan Bundaran Hotel Indonesia kami dihadang kemacetan yang menggila. Ia putar balik mengantarkanku kembali ke kantor. Ia sendiri meneruskan perjalanan melalui jalur berbeda. Kupikir hari ini tidak boleh gagal lagi, mumpung pekerjaan sedang sepi. Karena bisa jadi ini hari terakhir film itu diputar. Tinggal bioskop di Blok M Square yang memutarnya.

Kuitung-itung tahun ini lumayan banyak juga aku menonton film di bioskop. Terakhir aku menonton film di Studio 21 Taman Ismail Marzuki akhir bulan lalu bersama rekan sebelah mejaku. Film komedi nasional yang lumayan kocak, ‘My Stupid Boss’. Rekan kerjaku yang nyaris tak pernah nonton film di bioskop tumben mau kuajak. Penata make up-nya teman kuliahku, dia bilang. Dia tampak puas ketika keluar dari gedung pertunjukan. Filmnya memang keren, sangat menghibur. Akting pemainnya sangat baik, ceritanya juga oke. Konsep warna, karakter, dan dialog-dialognya lumayan mulus. Salah satu unsur yang membangun kekocakan itu adalah elemen bahasa yang digunakan para karakternya. Mereka berdialog dalam dua bahasa berbeda; Melayu dan Indonesia. Aku gemar sekali mendengar percakapan dalam bahasa Melayu Malaysia. Iramanya terdengar lebih ‘puitis’ ketimbang bahasa Indonesia.

“Nanti nonton Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara’ yuk, ” ajak rekanku riang, dia ketagihan. Trailer film itu memang menjanjikan. Ketika film itu diputar dia tak menyinggung-nyinggung lagi rencananya. Tampaknya dia lupa. Aku enggan mengingatkannya. Memasuki bulan puasa ini mungkin tak terpikir lagi buat dia nonton film sepulang kerja. Maklumlah dia ibu rumah tangga yang harus menyiapkan perbukaan untuk keluarganya.

Sampai di Blok M Square aku mencari musala untuk sembahyang ashar. Jam pertunjukan kedua masih 60 menit lagi. Cukup banyak waktu untuk membeli karcis dan masuk ke studio. Musala itu terletak di basemen, satu lantai dengan lapak penjualan buku-buku bekas. Musala sangat penuh orang bersembahyang. Saking penuhnya, lorongnya pun tertutup oleh orang sembahyang. Tempatnya memang sangat sempit, cuma cukup untuk tiga shaf, dan setiap shaf tidak sampai 10 orang. Jadi aku harus menunggu 'gelombang kedua'.

Ketika membeli karcis aku menjadi pembeli pertama. Kuhitung penontonnya hanya belasan orang. Pada 20 menit pertama kulihat ada seorang penonton beranjak dari kursi meninggalkan pertunjukan. 20 menit pertama film ini memang mirip FTV. Selanjutnya ketahuan film ini digarap dengan bagus. Akting pemain, penyutradaraann, dan gambar-gambarnya memikat. Tetapi terutama ceritanya. Penulis skenarionya Jujur Prananto, cerpenis yang sering menulis cerpen-cerpen bernada komedi satir.          

“Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara” mengusung tema sensitif yang jarang digarap sineas kita; tentang perbedaan agama.  Aisyah, muslimah taat lulusan Ilmu pendidikan, dari Bandung nan sejuk hijau berangkat ke sebuah desa di Nusa Tenggara Timur nan gersang untuk mengajar anak-anak sekolah dasar.  

Konflik dan bagaimana ia ditangani, film ini menampilkannya dengan baik, tak mengada-ada. Keharuan, kekocakan muncul perlahan-lahan dari dialog Aisyah dengan murid-muridnya, Pedro, dan tetua desa. Dalam penyambutan kedatangan Aisyah ke desa , tetua menyebut Aisyah sebagai Suster Maria, yang membuat Aisyah pingsan karena kaget dan kelelahan. Tetua desa tak bisa membedakan kerudung Suster dengan Jilbab.

Yang lebih penting kukira film ini tidak sekadar bicara soal mengelola perbedaan agama, melainkan tentang kemanusiaan. Tak ada yang lebih penting dari kemanusiaan, bukan? Aku terharu dan mataku basah ketika adegan ibu murid-murid Aisyah mengumpulkan uang untuk ongkos Aisyah pulang berlebaran ke Jawa; itu mereka lakukan sebagai ungkapan solidaritas kemanusiaan sekaligus rasa terima kasih kepada Aisyah yang telah mengajar anak-anak mereka.

Aku keluar dari Blok M Square ketika maghrib telah lewat. Suasana temaram. Aku mampir sebentar makan tahu gejrot di bawah mal sebelum masuk ke terminal dan menanti bus Trans Jakarta…   

Comments