Perlawanan Pasif Warga Minoritas

Model oleh Sheilla
Dalam masyarakat kita yang hiperelijius, lesbian gay biseksual transgender (LGBT) masih menjadi isu sensitif yang kerap meletupkan kontroversi. Beberapa waktu yang belum lama berlalu bahkan menjadi topik panas. Preferernsi seksual seseorang yang sejatinya wilayah privat dianggap mengganggu dan dipaksa berhadap-hadapan dengan agama, sistem nilai, dan norma mayoritas masyarakat.
Bagaimanakah sastra, dalam konteks ini puisi, merespons isu tersebut? Kita menjumpai sepasang lelaki muda  di basemen P3 fX Sudirman. Mereka….mencuri tempat dan waktu untuk bersama-sama sebentar,/ berdekapan dengan mata terbuka—berjaga-jaga dari satuan/ keamanan dan kebersihan yang mungkin lewat—/ sambil melepaskan semua kesepian setelah satu minggu lagi hidup/  seolah sebagai rang lain…
Begitulah Norman Erikson Pasaribu, nama baru dalam blantika perpuisian Indonesia, menyodori kita puisi bertema LGBT dalam manuskrip kumpulan puisi Sergius Mencari Bacchus yang pernah memenangi Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Anak muda ini dengan kalem menarasikan tema LGBT. Larik-lariknya bahkan seperti tak berpretensi puitis.
Tema LGBT dalam puisi Norman muncul bukan dalam semangat pembelaan yang heroik terhadap kaum tersebut, juga tidak dipenuhi ratapan mengiba belas kasihan, melainkan melalui pengungkapan yang santai dari subyek yang tertindas, bernada satir, dan peristiwa yang dibangun hampir sepele. Mungkin kita akan merasakan nada gugatan, tapi alih-alih menghasut untuk melawan, gugatan Norman terdengar sayup-sayup sampai, tertelan semangat menertawakan kesedihan yang menimpa dirinya.
Peristiwa yang dibangun dalam puisi-puisi Norman pun bukan peristiwa besar dan menggebu yang berpretensi mengobarkan perlawanan atas penindasan atau seruan untuk menaruh empati  kepada kaum tersebut, melainkan peristiwa yang biasa kita temui sehari-hari yang kerap kita abaikan. Tengoklah, puisi Norman bertutur tentang sekelompok pemuda sehabis menonton sebuah film bertema gay. Mereka kemudian nongkrong di gerai makanan cepat saji, berikut ini:
Sejak pukul lima pagi kalian berada di McDonald’s,/ kemarin malam kalian menonton/ Prayers for Bobby, dan ketika tokoh utama meratapi/ aksi bunuh diri putranya kepada pendeta,  Pandji tertawa/ dan bilang, Toni nangis!/ kalian ikut tertawa sambil diam-diam dalam gelap melap air mata sendiri. / Sepanjang sisa malam kalian mengobrol/ tentang orangtua/ dan mimpi pindah ke Belanda/…/Dua tahun lalu Toni mengaku pada orangtuanya, dan semenjak itu/ belum pernah pulang. Sekali ia menelepon ibunya…/ Sambil menangis ibunya bilang, “Pulanglah, Toni/ nanti Mami temani kamu ke Dokter Fani,” —seolah Aku hanya bisa menyukai laki-laki adalah gejala diare. (puisi ‘Aubade’).
Pembaca disuguhi puisi yang menceritakan adegan yang bahkan para tokoh-tokohnya menertawakan kisah kemalangan mereka sendiri. Norman seperti hanya mengajak pembaca menyaksikan ulah kawan-kawannya yang sedang bercanda sebagaimana galibnya anak-anak muda yang gemar menjadikan topik apa saja sebagai bahan candaan semata untuk hiburan saat begadang menunggu pagi.
Kegetiran kaum minoritas
Puisi-puisi Norman bersetting kota metropolitan dan kehidupan warga urban yang kesepian. Ia seperti menggamit lengan kita untuk menonton sejumlah tragedi yang dialami kawan-kawannya, yang pada saat bersamaan kita merasakan bahwa mereka adalah dirinya, atau bisa jadi diri kita.
Misalkan dalam puisi ‘Curiculum Vitae’. Norman dengan enteng namun penuh satir menuturkan peristiwa sepele tentang riwayat seseorang yang berbeda dari mayoritas, begini  : 1) Tiga bulan sebelum ia lahir diktator Romania beserta istri,/ Nicolae dan Elena Ceausescu, dihukum mati oleh regu tembak,/ dan sampai hari ini ibunya masih membicarakan kejadian itu//…3)…ketika jam istirahat, adalah ada seorang gadis di dalam dirinya,./ ia berpikir kelak ketika dewasa penisnya akan luluh/ dan payudaranya akan tumbuh//…6) Beberapa orangtua di tempat ia tinggal tak mengijinkan/ anak mereka bermain dengan ia dan adik-adiknya karena/ keluarganya Batak dan Kristen.//  10) Suatu Minggu ayahnya mengajak ia dan adik-adiknya lari pagi dan/ bermain sepakbola di lapangan bulutangkis dekat rumah mereka./Ayahnya meneriaki ia “banci” di depan orang-orang//..
Puisi Norman menyuarakan kegetiran nasib seseorang yang hanya karena berbeda preferensi seksualnya. Melalui puisi itu Norman juga mengungkap posisi yang minoritas dalam agama yang dianutnya. Puisi menjadi media untuk melihat secara wajar kesedihan yang menimpa seseorang yang berbeda.
Kita menjumpai kisah sendu waria dalam puisi ‘Merebus Mie Instan di Ujung Pelangi’, tentang persahabatan dua orang waria yang dipisahkan oleh kematian. Karina —yang dulu bilang kepadamu Aku sedang menggedor pintu sorga, semoga kelak dibuka/... kini sudah tiada. Ditemukan tubuhnya di kolong jembatan. Dia datang ke mimpimu lusa lalu, dan bilang/ di ujung pelangi tak ada apa-apa.
Tetapi Norman memberi kita kesenangan, ia tidak larut dalam kesenduan nasib kaum waria. Dalam puisinya yang lain, berjudul ‘Keindahan Hidup’, Norman menebar harapan kehidupan publik yang lebih baik bagi kaum yang selalu diletakkan dalam narasi mesum, …waria-waria di kota dipekerjakan di taman,/ menjadi tukang kebun, petugas kebersihan,/ satuan keamanan, dokter hewan, ahli penyait tanaman, desainer lanksap, akunan,/ manajer rekreasi, dan bahkan penjaga tepi danau/…Mereka tak lagi kelaparan/ tak menunggu mobil yang nelambat dan kemudian berhenti/…
Sastra Indonesia tidak asing dengan tema LGBT. Di ranah prosa, tema ini lebih dari satu dekade lalu sempat booming. Norman sendiri sebelumnya telah melahirkan kumpulan cerpen “Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu” (2015) yang mengusung tema serupa. Apakah membawa tema LGBT ke dalam puisi dapat dilihat sebagai sebuah keberanian? Bisa jadi, terutama bila kita menganggap masih jarang penyair Indonesia mengangkat tema tersebut ke ranah puisi.
Norman terampil meracik tema ini dalam konteks kekinian dan mengaduknya dengan kisah-kisah dalam tradisi iman Katholik abad ketujuh, yang memperlihatkan kekayaan referensi. Di luar itu, Norman hampir tidak melakukan eksplorasi bahasa. Sebagai penyair, Norman tampaknya memang tidak menggebu melakukan terobosan gaya berbahasa. Ia hanya ingin membantu kita melihat tragedi kaum minoritas seksual yang terjadi di sebelah kita.

Comments