Puisi tentang Tubuh dan Pengkhianatan

dari Pusat Kebudayaan Perancis, Jekardah
Gambar kelamin untuk film ‘Prenjak (In the Year of Monkey)’ itu penting bagi keseluruhan cerita. Ibaratnya ia merupakan inti dari cerita film berdurasi 12 menit ini. Apabila gambar kelamin ditiadakan atau katakanlah diganti dengan metafor-metafor tertentu, maka gagasan yang hendak disampaikan film ini tidak akan sampai kepada penonton. Tetapi tentu bukan gambar kelamin Rosa Winenggar dan Yohanes Budyambara, dua pemain yang memerankan karakter di film itu. Yang langsung terpikir oleh Wregas Bhanuteja, sang sutradara, untuk mendapatkan gambar kelamin adalah di kompleks pelacuran Pasar Kembang di Yogyakarta yang legendaris itu. Maka Wregas bersama tim keluar asuk rumah pelacuran. Namun rupanya untuk merekam gambar kelamin milik pelacur di kompleks pelacuran pun bukan perkara mudah. 
Dari sekian rumah pelacuran yang didatangi Wregas bersama tim, satu pun tak ada germo yang bersedia mengijinkan anak asuhnya direkam kelaminnya sekalipun untuk itu mereka dibayar 2 juta (padahal hanya direkam bagian kelaminnya sahaja dan tidak diapa-apain). Mereka mensyaratkan harus ada izin RT RW setempat segala, sebuah persyaratan mengada-ada yang tidak mungkin dipenuhi Wregas.
Akhirnya Wregas mendapatkan gambar kelamin dari sebuah agen model. Dua orang model lelaki dan perempuan bersedia dibayar untuk direkam kelaminnya dengan syarat namanya tidak dicantumkan dalam credit title. Itu diceritakan Wregas usai pemutaran lima film pendeknya di pusat Kebudayaan Perancis  di Jakarta, beberapa hari lalu. Ia menceritakan itu setelah ada wartawan yang bertanya kepada Rosa apakah gambar kelamin dalam film itu asli miliknya. Rosa sendiri hanya mesem-mesem mendapat pertanyaan tak terduga dan kedengaran agak nyinyir itu.
“Prenjak” yang mendapat penghargaan film pendek terbaik pilihan juri utama atawa Leica Cine Discovery Prize  di Semaine de la Critique, Festival de Cannes 2016, itu bercerita tentang Diah, seorang single parent  yang perani oleh Rosa. Ia tinggal di rumah kontrakan bersama anaknya.  Ia membutuhkan uang segera untuk membayar kontrakan. Kepada Jarwo (Yohanes), kawan kerjanya di sebuah restoran, Diah menawari untuk membeli korek api seharga 10 ribu per batang. Dengan nyala api dari batang korek itu Jarwo dapat melihat kelamin Diah melalui kolong meja.
Bagi kaum feminis, Prenjak sebuah film yang mengusung semangat feminisme. Diah tanpa bantuan lelaki yang telah memberinya anak mampu menghidupi anaknya seorang diri. Ia hanya memanfaatkan tubuhnya untuk tak lebih dari diintip laki-laki; dan dengan itu ia mendapatkan uang. Dia tetap menguasai dan mengontrol tubuhnya.
Sebuah karya seni apa pun, termasuk film, ketika dilempar ke publik maka menjadi milik publik. Publik punya hak menafsirkan apa saja atas sebuah karya yang dinikmatinya. Bagi Wregas sendiri, melalui film ini ingin membabar tentang tanggungjawab dan pengkhianatan.
“Orang harus memiliki komitmen terhadap keputusan yang telah ambil dalam hidupnya. Kalau kau telah memutuskan  untuk memilih hidup dengan seseorang, maka kau harus berkomitmen untuk menanggung bersama-sama sampai mati. Kalau tidak maka ada yang akan menderita. Kau berarti tidak punya komitmen, kau berkhianat. Diah harus bekerja lebih keras seorang diri untuk menghidup anak yang telah ‘diciptakan’  bersama,” kata Wregas.
Banyak pengamat bilang ‘Prenjak’ seperti puisi ringkas yang menyentak. Puisi tentang tubuh, komitmen, dan pengkhianatan, barangkali.         

Comments