Menegakkan Martabat dengan Melacur

Model Denita Rosa Kartika
Bagi Firdaus, menjadi pelacur adalah bentuk perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan laki-laki atas tubuh perempuan. Melalui tubuh yang dijualnya, Firdaus, karakter sentral novel Perempuan di Titik Nol besutan novelis feminis Mesir Nawal el Saadawi, memperoleh kembali kemerdekaan atas tubuhnya yang terampas sejak ia remaja. 

Menjadi pelacur adalah upaya terakhir Firdaus untuk menegakkan martabatnya sebagai manusia yang punya kehendak dan kesadaran. Firdaus berkuasa menentukan harga bagi tubuhnya. Tak ada laki-laki yang boleh menjamah tubuhnya kecuali mereka sanggup membayar harga yang dipatok Firdaus. Seorang lelaki yang selalu merasa berkuasa atas perempuan tak pernah sanggup menerima penolakan. Maka ia akan membayar berapa pun yang diinginkan Firdaus. Suatu hal yang mustahil ketika Firdaus bekerja sebagai pegawai di kantor pemerintahan atau instansi swasta mana pun. Seorang perempuan pegawai tidak mampu menolak perlakuan bos atas tubuhnnya. Gaji yang diperoleh dari pekerjaan itu pun tidak seberapa. 

Mahluk berjalan tegak dengan bentuk kelamin menjuntai keluar itu senantiasa mengganggap perempuan semata sebagai obyek seksual. Sejak lulus sekolah menengah Firdaus jatuh dari kebuasan satu laki-laki ke laki-laki berikutnya. Puncak pesimisme Firdaus terhadap laki-laki adalah manakala ia mengagumi dan jatuh cinta kepada Ibrahim, seorang revolusioner yang memperjuangkan hak-hak karyawan di sebuah perusahaan tempat di mana Firdaus diterima bekerja. Kekaguman dan rasa cinta Firdaus membuat ia jadi pengikut setia Ibrahim, jadi seorang revolusioner; rela menyerahkan hampir seluruh gajinya untuk perjuangan. Namun ternyata Ibrahim hanya memperalat tubuh Firdaus sebagai pelampiasan hasrat seksnya secara cuma-cuma.

Menjadi revolusioner hanya modus bagi Ibrahim untuk mendapatkan kedudukan di kantornya dan meraih hati gadis putri pemimpin perusahaan. Ketika tujuannya tercapai, dicampakannya Firdaus.         

Menjadi pelacur akhirnya merupakan pilihan terbaik bagi Firdaus untuk merebut kembali kendali atas tubuhnya sendiri. Sebuah kebebasan yang harus dipertahankan walau nyawa taruhannya. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, di negeri yang memandang perempuan sekadar pelengkap, menjadi seorang istri atau perempuan baik-baik adalah menyerahkan diri ke dalam perbudakan. Dan itu yang coba ditolak Firdaus, meski ia harus menanggung konsekuensi dieksekusi mati oleh pejabat pemerintah yang korup.

Bagi Firdaus, perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita. (hal 126) 

Bandingkan motif Firdaus menjadi pelacur dengan Nidah Kirani menjadi pelacur dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur anggitan Muhidin M Dahlan. Nidah Kirani menjadi pelacur dengan motif melampiaskan kekecewaan terhadap harapannya sendiri atas agama yang ingin diperjuangkannya. Harapan yang ternyata hanya ilusi dan bertepuk sebelah tangan. Orang-orang yang dikaguminya dalam kelompok pergerakan Islam tak lebih dari sekelompok begundal. Nidah Kirani kehilangan pegangan. Nidah melacur untuk melampiaskan dendam; praktik melacurkan diri bagi Nidah Kirani adalah lokasi pelarian. 

Lalu secara sinis ia memohon ijin kepada Tuhan untuk menjadi pelacur. Sedangkan motif Firdaus lebih besar dari sekadar dendam, yaitu seperti dikatakan di awal tulisan ini, sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan. Menjadi pelacur untuk menegakkan kehormatan. Sikap Nidah Kirani terhadap keputusannya menjadi pelacur cenderung fatalis-pesimistik, Sedangkan Firdaus memandang kepelacurannya sebagai dengan sikap optimis untuk meraih kemenangan.  

Gagasan yang diusung kedua novel ini memang sensitif bagi masyarakat di Mesir maupun Indonesia yang dikuasai kaum hiperreligius patriarkis. Tak heran di negerinya masing-masing kedua pengarang ini mendapat kecaman keras. Saadawi bahkan diancam dibunuh setelah menerbitkan novel ini. Buku non fiksi Saadawi berjudul Women and Sex  yang terbit pada 1972 membuatnya dibebastugaskan dari jabatannya sebagai direktur dan juga sebagai pemimpin redaksi majalah Health.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka