Posts

Showing posts from August, 2016

Pelukan Laut

Image
Langit bergelimang warna merah, Maura, lihatlah. Hempas gelombang, deru angin, kepak camar menggaris cakrawala. Bukankah ini waktu yang paling kamu suka? Kamu sering berhari-hari meninggalkan aku hanya untuk menikmati saat-saat seperti ini; manakala matahari telah melewati tigaperempat perjalanannya, perlahan terbenam ke balik laut. Menyepuh seluruh permukaan bumi dengan warna yang lebih merah dari pewarna bibir yang kamu pakai.  
Ayolah Maura, genggam tanganku. Kita berkejaran di pantai sepuasnya, mencari ketam dan kulit kerang, atau duduk menikmati langit yang berkobar bagai tembaga yang dipanaskan.  Maura, ayolah kamu tidak boleh begini terus. Toh aku selalu merelakan diri mendengar ceritamu tentang ketam dan kulit kerang, tentang perahu-perahu nelayan yang timbul tenggelam dimainkan gelombang di kejauhan, tentang pantai yang menyala merah bagai tercampur darah.

Simfoni Negeriku

Image
Sabtu pekan kemarin aku nonton konser Simfoni Negeriku Twilite Orchestra di Aula Simfonia, Kemayoran, Jakarta. Asyik. Menghibur. Permainan musik mereka terus menggaung dan meninggalkan kesan menyenangkan dalam benakku berhari-hari setelahnya. Biasalah, kalau aku nonton konser musik klasik atawa pertunjukan apa pun yang harga karcisnya ratusan ribu ke atas, artinya aku nonton secara gratis. Aku selalu senang menonton pertunjukan musik, apalagi disertai tarian. Hentakan musik dan gerakan para penari seperti memompakan energi yang membuatku bergairah. Paduan musik dan dan gerak tari mampu melarikan pikiranku dari segala keruwetan. Bahkan konser musik klasik pun mampu memberikan sensasi yang sama dalam benakku. Alunan musik klasik terasa begitu megah dalam semesta pendengaranku. Ketika Twilite Orchestra memainkan lagu perjuangan ‘Syukur’, aku merasa tersentuh, hatiku tergetar, lalu basahlah kelopak mataku.

Putri Raja dan Babi Hutan

Image
Pada minggu pertama bekerja sebagai asisten rumah tangga di negeri jiran, Ramini menemukan lelaki yang pernah datang dalam mimpinya. Ia adalah sopir tetangga majikannya. Berkulit hitam, bertubuh pendek kekar, dan bersorot mata tajam. Namanya Mustafa, lelaki asal Bangaladesh yang memiliki senyum manis. Beberapa detik setelah berkenalan Ramini langsung jatuh cinta dan meyakini bahwa laki-laki ini adalah sosok yang pernah menyelamatkannya pada kehidupan sebelumnya. Maka tanpa merasa perlu berlama-lama mempertimbangkan, Ramini mengirim pesan kepada Bardi, suaminya, di Purworejo, supaya menceraikannya. Jangan berharap dan menunggu kepulangannya karena ia akan menikah dengan lelaki Bangladesh itu. Ramini meminta maaf dan berjanji akan mengirim uang untuk mengurus perceraian mereka secepatnya. Ramini tidak peduli bahwa pesan itu bagai gempa bagi Bardi dan memerosokkan laki-laki itu ke palung bumi tanpa ampun.

Bercocok Tanam di Lahan Sempit

Image
Baiknya tidak memahami judul di atas dengan makna konotatif, mengingat saya membuat judul tersebut untuk arti sejujurnya. Tetapi apabila kau mau membacanya sebagai metafora untuk sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas yang mengandung unsur erotika, apa boleh buat. Saya tidak bisa mengekang imajinasimu. Saya hanya hendak menuliskan kegiatan menyenangkan libur Ramadan kemarin. Begini.  Hari keenam atau ketujuh Ramadan yang lalu, saya membeli bibit sirsak, belimbing, dan alpukat. Masing-masing satu tangkai.  Tengah dan bungsuku membantu membuat lubang. Ketiganya  saya tanam di pekarangan samping rumah menemani pohon mangga yang pernah berbuah dan sekarang sedang kembali  berbunga.  Saya tidak tahu persis jenis mangga yang  saya tanam. Istri saya bilang, mangga manalagi. Dagingnya tebal dan lembut  dan bijinya kecil tipis. Kami memetiknya ketika matang di dahan.

Pelangon

Image
Sepuluh tahun kemudian, seperti janjiku, aku mengunjungi Taman Wisata Pelangon untuk membuktikan kebenaran kata-kata nenek itu bahwa salah satu dari monyet-monyet yang menghuni taman wisata ini adalah ibuku. Aku keluar dari rumah secara diam-diam setelah menjerang air, menanak nasi, dan menyiapkan lauk-pauk untuk sarapan dan makan siang serta segala keperluan ayah. Aku berjalan berjingkat  keluar melalui pintu samping. Ayah masih berbaring di kamarnya ketika aku mengintipnya lewat jendela sebelum berjalan ke arah jalan beraspal. Ayah akan marah kalau tahu aku pergi ke Pelangon. Bukan karena aku percaya kata-kata nenek itu, melainkan karena dia membenci ibuku yang telah mengkhianatinya. “Ibumu telah mati, Punang. Lupakan dia,” kata ayah setiap aku bertanya tentang ibuku. Lalu duduk menekur seperti memikirkan persoalan yang tak dapat dipecahkan. Wajahnya penuh gurat kasar. Matanya cekung dengan tulang pipi bertonjolan. Di atas kelopak mata itu selapis bulu-bulu halus serupa ditempelkan s…