Bercocok Tanam di Lahan Sempit

Pohon sirsak
Baiknya tidak memahami judul di atas dengan makna konotatif, mengingat saya membuat judul tersebut untuk arti sejujurnya. Tetapi apabila kau mau membacanya sebagai metafora untuk sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas yang mengandung unsur erotika, apa boleh buat. Saya tidak bisa mengekang imajinasimu.
Saya hanya hendak menuliskan kegiatan menyenangkan libur Ramadan kemarin. Begini.  Hari keenam atau ketujuh Ramadan yang lalu, saya membeli bibit sirsak, belimbing, dan alpukat. Masing-masing satu tangkai.  Tengah dan bungsuku membantu membuat lubang. Ketiganya  saya tanam di pekarangan samping rumah menemani pohon mangga yang pernah berbuah dan sekarang sedang kembali  berbunga.  Saya tidak tahu persis jenis mangga yang  saya tanam. Istri saya bilang, mangga manalagi. Dagingnya tebal dan lembut  dan bijinya kecil tipis. Kami memetiknya ketika matang di dahan.
Selain tanaman buah berbatang kayu keras, saya juga menanam jenis sayur seperti cabe, tomat, dan pepaya. Saya berencana menanam kangkung dan sawi juga. Cabe dan tomat kutanam dalam pot. Bibitnya kudapat dari sisa sayuran yang membusuk di dapur. Istriku menebarkan cabe busuk di tanah begitu saja. Ketika biji-biji itu tumbuh saya memindahkannya ke dalam pot.
Mengurusi mereka memberiku keasyikan yang tak kudapatkan dari kegiatan lain. Setiap malam saya kangen pagi untuk menengok mereka, melihat pertumbuhannya. Rasanya gembira dan takjub memandangi kehijauan tumbuh dari segumpal tanah. Saya suka berlama-lama berdiri di antara tanaman itu sambil mengingat ucapan seorang filosof entah siapa namanya:  ‘beruntunglah orang yang dapat menghidupi dirinya dari tanah yang dimilikinya’. Kurasa makna ucapan itu adalah semangat kemandirian. Sebuah semangat yang tidak dimiliki bangsa ini. Tengoklah, acara-acara televisi, radio, iklan, film, bersatu padu mendorong orang untuk hidup dalam gairah konsumtifisme, ketergantungan kepada negara lain. Para pemimpin dan intelektual kita membiarkan masyarakat terjebak dalam pola hidup bergantung kepada sesuatu di luar diri mereka.
Saya suka berkhayal mampu memenuhi kebutuhan sayur mayur dari lahan sempit samping rumah. Syukur-syukur bisa lebih untuk tetangga sebelah atau dijual ke pasar.  Semoga khayalanku menemukan wujud nyata, yeeaah…
Bercocok tanam ternyata juga bicara tentang mengelola kesabaran. Kesabaran merawat dan ketelatenan menjalani proses. Akan selalu ada ujian. Misalnya ulah ayam-ayam tetangga yang gemar ngelayap ke pekarangan. Mereka sering mematuki daun-daun  cabe dan tomat yang baru tumbuh membuat tanamanku  rusak dan mati. Saya tentu saja tak bisa memarahi ayam atau pemiliknya yang membiarkan piarannya keluyuran ke pekarangan orang.  
Maka yang  saya lakukan adalah memagari tanaman dari jangkauan ayam-ayam dan anak-anak kecil sekutu si bungsu yang suka iseng mematahkan dahan tanaman. Jadi, libur lebaran kemarin setelah menanam alpukat, sirsak, belimbing dan tanaman sayur, saya membuat pagar dari batang-batang bambu untuk melindungi tanaman. Ternyata membuat pagar bambu bukan perkara sederhana. Tangan saya sampai kapalan dan pegal-pegal hingga beberapa malam setelahnya. 
Meskipun orangtua saya bukan peladang (kami tak memiliki sawah atau kebun yang luas), sejak kecil saya gemar sekali dengan kegiatan tanam menanam. Rasanya nyaman hidup dikelilingi rerimbun tumbuhan. Seiring bertambahnya umur, pengalaman, dan bahan bacaan, saya makin menyukai kegiatan ini di samping menulis dan membaca. Obsesi saya pada tanaman ini makin menjadi ketika mendengar cerita seorang teman di desa sebelah berhasil memanen cabe hingga sepuluh kilogram dengan memanfaatkan lahan sempit sekitar rumah. Yuk manfaatkan sisa lahan sempit sekitar rumah untuk berkebun…

Comments