Posts

Showing posts from September, 2016

Buku Cetak, Buku Digital

Image
Ilham Q Moehiddin, seorang penulis cerpen, mendigitalisasi cerpen-cerpen yang pernah terbit di koran. Ia lantas membagikannya secara gratis kepada teman-teman yang membutuhkan. Hal yang sama dilakukan Fanny Jonathan Poyk. Putri  pengarang Gerson Poyk itu mendokumentasikan cerpen-cerpen karyanya dan beberapa karya komunitasnya dalam bentuk digital untuk dibagikan secara cuma-cuma. Apa yang dilakukan kedua pengarang ini memperlihatkan media cetak sudah tak cukup lagi untuk mendokumentasikan karya sastra. Media digital menjadi cara mudah dan murah untuk memelihara karya-karya sastra yang terserak di media cetak dan internet. Media  digital seakan menunjukkan kekuatannya menjadi penjagal bengis bagi media cetak. Tengoklah, setelah koran dan majalah cetak bertumbangan satu persatu, kini buku cetak tengah menghadapi ancaman yang sama: malih rupa menjadi buku digital atawa e-book. Orang beralih ke media digital untuk mendapatkan bacaan. Mereka tidak perlu lagi repot membawa buku cetak untuk …

Perempuan Menulis Lelaki

Image
Meski aktivitas menulis dan bersastra lebih dulu dilakukan Aishah Basar, tetapi saya mengenal perempuan ini pertama kali sebagai seorang aktor. Waktu itu, 2005, saya dan teman-teman Dewan Kesenian Tangerang mengundangnya untuk mementaskan lakon monolog, beberapa malam setelah ia mementaskan lakon yang sama di ajang “Para Aktor Bicara” yang digelar Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta. Aishah tidak sekadar mementaskan, melainkan juga menulis dan menyutradarai sendiri lakon monolog yang berkisah tentang seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya yang memberontak lantaran si gadis terlalu banyak membaca buku. Saya masih ingat salah satu adegan paling dramatis: ia mengobrak-abrik buku-buku yang tersusun rapi di rak.  

Cerita dari Lereng Ciremai

Image
Pada malam yang telah direncanakan, Kodir datang lebih awal ke tepi telaga. Ia berdiri di atas bebatuan sambil memandang permukaan air telaga yang bergeriap permai itu dengan perasaan gelisah. Ia menajamkan mata dan telinganya untuk menangkap sosok atawa suara yang mencurigakan. Ia tengah menunggu Lilis. Mereka berjanji bertemu di tempat ini untuk melaksanakan rencana pelarian; keluar dari desa ini demi pernikahan yang ditabukan adat. Kodir membawa buntalan berisi beberapa potong baju dan secuil harta kekayaannya. Ia telah menjual dua ekor kambing untuk rencananya ini.

Mengarak Jember Fashion Carnaval

Image
Matahari memanggang Jember pada Sabtu terakhir bulan Agustus 2016. Sengatan panasnya sangat terasa menekan kulit begitu aku bersama rombongan turun dari elf. Sopir yang membawa kami dari hotel Royal di tengah kota Jember itu, menghentikan elf persis di depan pintu masuk studio Dynand Fariz yang merangkap kantor Jember Fashion Carnaval Center. Di dalam Dynand sudah menunggu kedatangan kami. Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC) itu menyambut kami dengan ramah sekali.
Kami memang sudah membuat janji untuk wawancara atawa ngobrol-ngobrol. Dia mengenakan oblong putih bergambar karnaval, dipadu jaket hitam bertuliskan JFC di bagian kanan dan  bendera merah putih kecil di sebelah kiri. Rambutnya dilapisi jeli, disisir menumpuk ke tengah. Paduan celana jeans biru tua dan sepatu model tinggi yang menutup hingga di atas mata kaki menyempurnakan  penampilan Dynand laksana anak muda. Sebelum ngobrol-ngobrol kami diberi waktu untuk melihat-lihat studionya selama 10 menit. Studionya cukup luas, d…