Buku Cetak, Buku Digital

gambar dari goodereader.com
Ilham Q Moehiddin, seorang penulis cerpen, mendigitalisasi cerpen-cerpen yang pernah terbit di koran. Ia lantas membagikannya secara gratis kepada teman-teman yang membutuhkan. Hal yang sama dilakukan Fanny Jonathan Poyk. Putri  pengarang Gerson Poyk itu mendokumentasikan cerpen-cerpen karyanya dan beberapa karya komunitasnya dalam bentuk digital untuk dibagikan secara cuma-cuma. Apa yang dilakukan kedua pengarang ini memperlihatkan media cetak sudah tak cukup lagi untuk mendokumentasikan karya sastra. Media digital menjadi cara mudah dan murah untuk memelihara karya-karya sastra yang terserak di media cetak dan internet.
Media  digital seakan menunjukkan kekuatannya menjadi penjagal bengis bagi media cetak. Tengoklah, setelah koran dan majalah cetak bertumbangan satu persatu, kini buku cetak tengah menghadapi ancaman yang sama: malih rupa menjadi buku digital atawa e-book. Orang beralih ke media digital untuk mendapatkan bacaan. Mereka tidak perlu lagi repot membawa buku cetak untuk memuaskan kesenangan membaca. Cukup diakses melalui telepon pintar, puluhan bahkan ratusan judul buku dapat tersimpan dengan aman di sana dan siap dibaca kapan dan di mana saja tanpa membebani kita dengan berat seperti yang dimiliki buku-buku cetak. Keberadaan e-book diprediksi cepat atau lambat bakal menggeser buku cetak yang telah berabad-abad mewarnai perdaban dan kebudayaan manusia.
Penerbit buku kini akan menerbitkan buku-bukunya dalam dua versi: cetak dan digital, kemudian menjualnya melalui jaringan internet.  Sebuah operator selular sejak dua tahun lalu menciptakan  aplikasi cipika bookmate, sebuah aplikasi untuk membaca berbagai jenis buku kegemaran dengan cara berlangganan bulanan dengan harga yang jauh lebih murah dibanding harga satuan buku cetak. Kini buku cetak tak dapat berkelit dari realitas berhadap-hadapan dengan e-book, dan posisinya mulai terdesak. Benarkah demikian?
Novelis Leila S Chudori, dalam sebuah perbincangan mengenai buku cetak vs e-book yang digelar sebuah operator selular dalam merayakan dua tahun peluncuran aplikasi cipika bookmate, melihat keberadaan e-book bukan sebagai ancaman bagi buku cetak. Leila ingin mengoreksi “Buku Cetak Vs E Book ” sebagai tema perbincangan.
“Karena kedua media ini memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Keduanya saling melengkapi dan memudahkan para penggemar buku membaca buku-buku yang mereka senangi,” ujar Leila.
Bagi Leila, kedua media ini dapat hidup berdampingan tanpa perlu dipertentangkan. “Bagi sebagian orang tetap lebih merasa nyaman membaca buku cetak ketimbang e-book,” kata Leila. Redaktur senior majalah Tempo ini bercerita bahwa ketika berada di rumah ia akan tetap memilih membaca buku cetak. Selain lebih nyaman, buku cetak memiliki aroma khas dan romantisme yang tidak dimiliki buku digital. Namun, ketika ia melakukan perjalanan jauh keluar kota atau keluar negeri, membawa buku cetak memang terasa akan membebani dan merepotkan. Maka ia akan memilih membaca buku digital.
Geduung Indosat, Jakarta, Rabu (24/8)
Seberapa besar kekuatan buku digital untuk menggusur buku cetak?  Riset kecil-kecilan yang saya lakukan menunjukkan, sembilan dari sepuluh pembaca buku mengaku lebih nyaman membaca buku cetak. Penulis fiksi dan resensi Nur Mursidi (40 tahun) sampai saat ini tak pernah tuntas membaca buku digital. Saat bepergian keluar kota, penulis buku Tidur Berbantal Koran ini tetap memilih membawa buku cetak. Hal serupa diakui penyair Toto ST Radik (50 tahun). Ia merasa sama sekali tak nyaman memaca buku digital. “Mata jadul, gak bisa nyaman baca buku digital. Cepat lelah,” kata Toto. Pada generasi yang lebih muda, penulis fiksi Niduparas Erlang (30 tahun), mengatakan keberadaan buku digital memang lebih memudahkan dan murah. Tetapi ia kadang-kadang saja membaca buku digital. Berbeda dengan Wikan Satriati (40), editor sebuah penerbitan di Jakarta. Bagi dia membaca buku digital dan buku cetak sama nyamannya. Untuk sejumlah buku terjemahan bahkan dia memilih membaca versi digital, seperti  The Girl Who Saved King of Sweden karya Jonas Jonason, buku-buku karya Wiliam Saroyan, Ruth Krauss, dan Eva Ibbotson. Padahal dia mengakses buku digital melalui telepon pintar generasi pertama.
Buku digital dan buku cetak pada akhirnya hanya perkara kebiasaan dan selera. Seperti dikatakan Leila S Chudori, kedua media ini tidak seharusnya dipertentangkan. Keberadaan keduanya saling menggenapi. Buku cetak memiliki kelemahan memakan tempat, merepotkan dibawa. Tapi asyik dibaca dan menjadi format penting di masanya. Sebaliknya, di luar kelemahannya, buku digital mudah dibawa dan praktis, lebih murah dan mudah pemeliharannya untuk ratusan tahun ke depan. 

Comments