Cerita dari Lereng Ciremai

Ilustrasi dari dinomarket.com
Pada malam yang telah direncanakan, Kodir datang lebih awal ke tepi telaga. Ia berdiri di atas bebatuan sambil memandang permukaan air telaga yang bergeriap permai itu dengan perasaan gelisah. Ia menajamkan mata dan telinganya untuk menangkap sosok atawa suara yang mencurigakan. Ia tengah menunggu Lilis. Mereka berjanji bertemu di tempat ini untuk melaksanakan rencana pelarian; keluar dari desa ini demi pernikahan yang ditabukan adat. Kodir membawa buntalan berisi beberapa potong baju dan secuil harta kekayaannya. Ia telah menjual dua ekor kambing untuk rencananya ini.
Aku mendengar cerita ini sambil tiduran berbantal pangkuan kakek. Sebelum melanjutkan kakek merasa perlu menjelaskan bahwa ini adalah cerita yang mengangkat tema lokal (atau tema lokal yang mengangkat cerita ini?), maka setting-nya di daerah yang jauh dari ibu kota atawa yang biasa kita sebut sebagai pusat. Lokasinya di desa terpencil di tepi lereng Gunung Ciremai. Tokoh-tokohnya tampaknya tidak tahu menahu tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di belahan bumi lain, termasuk perkembangan kecenderungan trend mode yang ada di ibu kota. Ada dua tokoh utama dalam cerita ini: Kodir dan Lilis. Mereka tidak terlibat dalam percakapan hingga cerita ini nanti berakhir, kecuali dialog-dialog pendek di secarik kertas kucel yang ditulis dalam bahasa lokal untuk sekadar mempertegas narasi dan deskripsi, dan tentu saja karakter masing-masing.
Konfliknya pun sangat picisan: Kodir dan Lilis saling jatuh cinta. Cinta mereka tak direstui oleh orang tua masing-masing lantaran mereka berasal dari dua desa berbeda yang dalam adat turun temurun sangat ditabukan untuk menikah. Lilis berasal dari Desa Sangkanhurip sedangkan Kodir dari Desa Garawangi. Dalam sejarah adat mereka, kedua desa ini pernah terjadi pertikaian hebat yang dipicu oleh perebutan tanah. Pertikaian yang mengobarkan peperangan dan memakan banyak korban di kedua belah pihak itu akhirnya dimenangi oleh warga Sangkanhurip. Orang-orang Sangkanhurip menunjukkan kecerdikan dan kekuatannya. Warga Desa Garawangi takluk. Mereka diberi dua pilihan, ditombak sampai mati atau menyerah dengan menjadi budak orang-orang Sangkanhurip.
Cerita ini sudah lama sekali berlalu. Orang-orang Sangkanhurip dan Garawangi sudah melupakannya. Mereka, terutama anak-anak muda, bahkan menganggap kisah itu mitos belaka. Orang-orang Garawangi dan Sangkanhurip pun hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain. Laki-laki Garawangi menikahi perempuan Sangkanhurip dan sebaliknya. Sebagian orang-orang tua memang masih ada yang suka bercerita tentang kisah itu kepada cucu-cucu mereka menjelang tidur, tapi mereka yang bijak akan mengakhiri kisahnya dengan mengatakan, “Tapi itu sudah lama berlalu, jangan diungkit-ungkit lagi. Kita hanya boleh mengambil pelajaran baik dari peristiwa tersebut, yaitu jangan serakah.”           
Namun, kata kakek, sebagaimana urusan lain di bumi fana ini, selalu ada kekecualian. Dialah orang tua Lilis, terutama bapak. Dia memegang teguh apa yang dia sebut sebagai pesan leluhurnya untuk tidak menikahkan anak gadisnya dengan lelaki dari Desa Garawangi. Sebagaimana cerita picisan yang mudah ditebak, Kodir dan Lilis, sejoli yang telanjur jatuh cinta ini bertekad melawan adat. Mereka merencanakan untuk kawin lari ke desa lain, atau kalau perlu ke Jakarta. Menurut cerita orang-orang yang mereka dengar, orang-orang di Jakarta tidak peduli pada adat apa pun karena mereka terlalu sibuk memburu uang. Begitulah, melalui pesan-pesan yang mereka selipkan di bawah tangga tajug, malam ini mereka akan bertemu di tepi telaga, di bawah naungan pohon akasia raksasa sekitar telaga.
“Kita bertemu lepas Isya di tepi telaga, Kodir,” tulis Lilis dalam bahasa lokal—maklumlah penulis cerita ini tidak terlalu menguasai bahasa lokal—dan simbol-simbol yang hanya mereka berdua yang tahu di secarik kertas kucel yang ia selipkan di bawah tangga tajug. Mereka tidak menggunakan SMS atau BBM atau whats ap karena setting waktu cerita ini beberapa tahun sebelum berhala mungil itu merasuk ke desa-desa terpencil tempat mereka tinggal.
“Telaga yang mana?” balas Lilis, melalui cara yang sama. Sekitar desa mereka di daerah lereng gunung itu memang terdapat beberapa telaga, bahkan ada yang airnya mengandung sulfur bersuhu tinggi. 
“Telaga Cikamundu, yang lebih dekat ke rumahmu.”
“Baiklah, aku menunggumu di sana,” balas Lilis. “Jangan sampai telat, nanti ketahuan orang tuaku,” tambah Lilis dalam pesannya. Namun, seperti yang sudah kita baca pada paragraf pertama, Kodir yang lebih dulu datang.  Dasar perempuan, gerutu Kodir dalam gelisah yang memukul-mukul perasaannya.  Lelaki yang sehari-hari bekerja mencari rumput untuk kambing-kambing yang digembalakannya itu sungguh khawatir Lilis mendapat halangan minggat dari rumahnya.
Kedekatan Kodir dan Lilis awalnya tidak diketahui orang tua Lilis. Sedangkan orang tua Kodir yang telah bertahun-tahun jadi perantau dan pulang ke desa sekali setahun tentu tidak peduli perkembangan anaknya. Warga desa yang melihat mereka berpacaran menganggapnya sebagai hal yang biasa terjadi di antara anak-anak muda. Lagi pula itu kan urusan pribadi keduanya, buat apa-apa repot-repot mengganggu, begitulah barangkali pikir mereka. Lama-lama kedekatan mereka diketahui orang tua Lilis. Mula-mula bapak Lilis menegur anak gadisnya itu baik-baik. Namun rupanya tak dihiraukan Lilis. Dia tampaknya punya bakat jadi pemberontak. Jangan campuri urusan anak muda, apalagi ini perkara cinta, gerutu Lilis dalam hati.
Melihat Lilis tetap berhubungan dengan Kodir, orang tua Lilis memanggil Lilis. Kepada anak gadisnya itu bapak Lilis menuturkan kisah yang terjadi antara orang-orang Sangkanhurip dan Garawangi di masa lalu, termasuk apa yang ia sebut sebagai pesan leluhur Desa Sangkanhurip.  
“Kalau kamu menikah dengan lelaki Garawangi, itu sama saja meruntuhkan kehormatan leluhur kita,” kata bapak Lilis dengan suara pelan namun penuh kemarahan.
“Tapi itu kan hanya dongeng, Pak,” cetus Lilis mencoba melawan.
“Sekali lagi kamu bilang dongeng, bapak tampar kamu,” ujar bapak menutup pembicaraan.
**
Sekarang, mari kita lihat keadaan Lilis di rumahnya. ..
Gadis bertubuh lampai itu sudah mengemasi pakaian dan sejumlah perhiasannya ke dalam tas jerami. Ia masih berada di kamarnya dengan perasaan cemas. Ia tengah menunggu orang tuanya terlelap. Namun yang ditunggu tampaknya masih asyik menonton televisi di ruang tengah. Bahkan mereka kemudian memanggilnya dan menyuruh Lilis membuatkan kopi untuk bapak yang sekarang bergerak ke ruang depan dan duduk di depan meja kerjanya. Bapaknya seorang juru tulis kelurahan yang dikenal sangat teguh memegang adat leluhur.
Sambil berjuang keras meredakan perasaan cemas dan gelisah, Lilis keluar dari kamarnya. Berjalan pelan menyeberangi ruang tengah dengan pandangan mata dibikin biasa-biasa saja ia mulai meracik kopi untuk bapaknya. Lilis mengantarkan kopi pesanan bapaknya dengan setengah menundukkan wajahnya supaya matanya tidak bersirobok dengan bapaknya punya mata.    
“Duduklah di sini, acaranya bagus. Tidak baik di dalam kamar terus,” ujar ibunya, saat Lilis hendak kembali ke dalam kamarnya.
“Tuh lihat, anak Kuningan masuk tivi. Cantik dia. Suaranya juga bagus,” kata ibunya mengomentari acara kontes dangdut yang ditontonnya dengan khusuk. Lilis ragu-ragu mengikuti imbauan ibunya. Ia berdiri gugup. Pikirannya makin gelisah membayangkan Kodir menunggunya penuh cemas di tepi telaga. Yang ia tahu siaran kontes dangdut durasinya sangat panjang sampai tengah malam. Ah, Kodir. Maukah kau bersabar menunggu sampai acara dangdut selesai dan orang tuaku lelap, pikirnya bimbang.
Demi menghindari kecurigaan ibunya, Lilis duduk bergabung nonton tivi. Lenggak lenggok penyanyi dangdut dan cerocosan pembawa acara sama sekali tak menarik minatnya. Tapi Lilis akan berpura-pura menunjukkan paras gembira ketika kontestan asal Kuningan itu menyanyi dan meminta dukungan bagi kemenangannya. Lilis juga tidak memperhatikan penyanyi Kuningan itu mengenakan pakaian bernuansa adat daerahnya. Waktu dirasakan Lilis berjalan begitu lambat seperti siput sedang meriang.
Lilis mendengar ibunya berbisik bahwa anak Kuningan yang sedang menyanyi di tivi itu berasal dari Desa Garawangi. Ketika selesai bisik-bisik tiba-tiba bapak nimbrung.
“Orang-orang Garawangi memang selalu membuat kerusakan moral,” ujar bapak dengan mata ikut menatap goyangan penyanyi dangdut di layar tivi. Ibu dan Lilis terus menatap layar tivi, mengabaikan ujaran bapak. Mereka sudah hapal, di mata bapak apa pun yang dilakukan orang Garawangi tidak ada baiknya. Bapak menuduh orang-orang Garawangi yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan dan pergaulan anak-anak muda di  desa yang berada lereng Gunung Ciremai itu. Orang-orang Garawangi yang terkenal sebagai perantau—di kota perantauan mereka kebanyakan menjadi pedagang bubur kacang ijo dan mie rebus—membawa gaya hidup dari kota perantauan ke desa mereka. Membuat anak-anak muda desa malas ke sawah dan lebih gemar nongkrong di perempatan sambil menghisap gele.
“Kamu tahu, mereka juga yang menjual lereng gunung ini kepada orang-orang kota untuk dijadikan hotel-hotel tempat mereka berbuat mesum! Mental budak orang-orang Garawangi memang tidak pernah berubah!” kata bapak. Pada saat itulah pintu depan di ketuk orang. Ketika daun pintu dikuak Kodir berdiri di sana. Tapi tampaknya jelas, rencana kawin lari Kodir dan Lilis tak akan terjadi, atau setidaknya tertunda. 
Cerpen ini pernah disiarkan Tribun Jabar, 11 September 2016

Comments