Mengarak Jember Fashion Carnaval

Jember Fashion Carnaval 2016, Minggu (28/8)
Matahari memanggang Jember pada Sabtu terakhir bulan Agustus 2016. Sengatan panasnya sangat terasa menekan kulit begitu aku bersama rombongan turun dari elf. Sopir yang membawa kami dari hotel Royal di tengah kota Jember itu, menghentikan elf persis di depan pintu masuk studio Dynand Fariz yang merangkap kantor Jember Fashion Carnaval Center. Di dalam Dynand sudah menunggu kedatangan kami. Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC) itu menyambut kami dengan ramah sekali.

Kami memang sudah membuat janji untuk wawancara atawa ngobrol-ngobrol. Dia mengenakan oblong putih bergambar karnaval, dipadu jaket hitam bertuliskan JFC di bagian kanan dan  bendera merah putih kecil di sebelah kiri. Rambutnya dilapisi jeli, disisir menumpuk ke tengah. Paduan celana jeans biru tua dan sepatu model tinggi yang menutup hingga di atas mata kaki menyempurnakan  penampilan Dynand laksana anak muda. Sebelum ngobrol-ngobrol kami diberi waktu untuk melihat-lihat studionya selama 10 menit. Studionya cukup luas, dibagi-bagi dalam beberapa ruangan: ruangan untuk mesin jahit listrik, ruangan untuk make up dan pemotretan, ruangan mendesain dan meletakkan contoh-contoh kostum. Di sejumlah sudut terlihat manekin mengenakan aneka kostum dalam beragam posisi.  Kami merubung Dynand di meja kerjanya yang letaknya pojok depan studio.      

Ngobrol-ngobrol kami dengan Dynand Fariz dimulai dengan cerita awal mula perjalanannya menyelenggarakan JFC yang terkenal dan menjadi salah satu karnaval busana terbesar sejagat. JFC rupanya berawal dari karnaval keluarga. Kegemaran Dynand Fariz mengkreasikan kostum berbagai macam profesi saat awal masa remaja membutuhkan panggung untuk memamerkan krasinya. Karnaval keluarga itulah panggung pertama Dynand.

Ia mengajak saudara-saudaranya parade dengan mengenakan kostum yang dia rancang sendiri dengan meniru berbagai atribut seragam bermacam profesi. Berawal di pelataran rumah orangtua, mereka lalu keluar berarakan ke rumah saudara-saudara sepupunya. Saudara-saudaranya mengikuti arak-arakan dengan mengenakan kostum bermacam profesi pula.

“Lama-lama saya bosen lagi-lagi hanya meniru seragam profesi dokter polisi, pilot dan seragam profesi lainnya,” cerita Dinan Fariz.     

Dynand Fariz
Waktu kecil Dynand sempat bercita-cita jadi dokter, pilot, polisi, guru, dan profesi-profesi favorit yang dicita-citakan anak-anak kecil pada umumnya. Tetapi Dynand ingat, ia sekadar ikut-ikutan anak-anak sebayanya. Cita-citanya kemudian berubah ingin menjadi arsitektur. Tetapi itu pun tidak lama. Cita-cita Dynand bergeser lagi, kali ini yang paling sesuai dengan hatinya, perancang kostum. “Sebenarnya sejak kecil saya ingin menjadi perancang kostum,” ujar Dynand.

Maka, sejak memantapkan cita-citanya menjadi perancang busana, Dynand  tidak lagi membuat kreasi  busana seragam profesi-profesi yang disebut tadi. Ia merancang busana sekehendak hatinya untuk karnaval bersama saudara-saudaranya di lingkungan rumah mereka saban lebaran tiba.
Kini JFC memasuki tahun ke 15. Namanya telah menggema ke seluruh penjuru dunia. Wisatawan mancanegara datang ke Jember, sebuah kota kecil di Jawa Timur, untuk menyaksikan karnaval busana yang mengundang perhatian.

JFC digelar pertama kali pada 2002. Seperti pekerjaan bidang apa pun, masa-masa merintis tidak pernah mudah. Selalu lekat dengan tantangan. Yang paling ringan adalah cemooh dan pelecehan masyarakat. Itu yang dialami Dynand Fariz. JFC dibenturkan dengan predikat Jember sebagai Kota Santri. Karnaval busana dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai santri.

Namun Dynand terus melaju. Setelah seluruh institusi negara mengunci pintu, Dynand nekat bertemu langsung dengan bupati Jember—waktu itu Samsul Hadi Siswoyo. Setelah menyimak presentasi Dynand, Bupati Samsul memberi sokongan. Tetapi sokongan yang didapat dari orang nomor satu di Jember itu bukan berarti jalan bagi JFC langsung mulus. Tentangan terus datang berganti-ganti.

Dynand bahkan sempat disidang anggota dewan (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). Dia tak pernah lupa, menjelang pelaksanaan JFC ketiga, ia dipanggil oleh anggota DPRD Jember. Waktu itu, seminggu menjelang pelaksanaan JFC. DPRD menyatakan keberatan penyelenggaraan JFC. Mereka menuduh Dynand membawa budaya asing yang merusak anak-anak muda Jember. Saat menceritakan penolakan orang-orang dewan Dynand tampak emosi. Suaranya bergetar, dan kelopak matanya digenangi air.

Dynand tak mau menyerah. Ia meminta waktu kepada orang-orang dewan untuk menyaksikan karnaval sebelum mereka menilai dan memutuskan. Pimpinan sidang setuju. Dynand langsung menyiapkan segala fasilitas untuk menjamu semua anggota dewan. "Pada saat itu aku pasangin tenda, semua anggota dewan datang dan mereka melihat. Aku juga minta mereka menulis apakah JFC perlu diteruskan atau tidak," kata Dynand.

Esoknya, hampir semua koran, baik lokal maupun nasional menulis dengan nada simpatik dan positif JFC. Gelaran itu dianggap sukses dan menumbuhkan iklim kreatif anak-anak muda Jember. Nama Dynand dielu-elukan banyak orang. Sosoknya dianggap menginspirasi. Sepanjang 1,8 kilometer parade, banyak orang menyalaminya. Namun, di tengah kegembiraan itu, tiba-tiba Dynand mengalami situasi yang tidak mengenakkan. Ketika membalas uluran tangan dari seseorang untuk bersalaman, tiba-tiba tangannya ditarik, kemudian ia diludahi. Dynand sempat sedih, syok dengan kejadian ini. Tetapi ia tidak berminat mengejar orang yang melecehkannya dan memperkarakannya. Peristiwa itu dianggap sebagai ujian yang harus dia terima dengan dada lapang.

Tahun ke 15 JFC semakin kokoh menjadi icon Kota Jember. Para pelancong berdatangan dari mana-mana. Aku sempat ngobrol dengan tamu di hotel tempat kami menginap. Seorang ibu muda yang sengaja datang dari Jakarta ke Jember bersama keluarganya ntuk menyaksikan JFC.

Prestasi demi prestasi di tingkat internasional berhasil dihelanya. Yang terbaru JFC meraih juara ketiga dalam ajang Carnaval International de Victoria pada April 2016 di Seychelles, Afrika. Posisi pertama diisi oleh Notting Hill (USA) dan Reunion (Perancis). Pada 2014 kostum rancangan Dynand menang di ajang Miss Universe.

Meski namanya berkibar di panggung dunia dan JFC makin diakui sebagai kebanggan Jember, Dynand tidak lantas berpuas diri. “Karena menjaga JFC tetap bertahan dengan mutu yang tetap baik lebih sukar daripada merintisnya,” kata Dynand. Ia senantiasa terus belajar supaya dari tahun ke tahun JFC tidak sekadar menjadi kegiatan rutin tanpa ada hal baru yang mampu memberi kejutan dan rasa takjub kepada peminatnya.

Comments