Perempuan Menulis Lelaki

model oleh Astrid dan Nenny.
Meski aktivitas menulis dan bersastra lebih dulu dilakukan Aishah Basar, tetapi saya mengenal perempuan ini pertama kali sebagai seorang aktor. Waktu itu, 2005, saya dan teman-teman Dewan Kesenian Tangerang mengundangnya untuk mementaskan lakon monolog, beberapa malam setelah ia mementaskan lakon yang sama di ajang “Para Aktor Bicara” yang digelar Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta.
Aishah tidak sekadar mementaskan, melainkan juga menulis dan menyutradarai sendiri lakon monolog yang berkisah tentang seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya yang memberontak lantaran si gadis terlalu banyak membaca buku. Saya masih ingat salah satu adegan paling dramatis: ia mengobrak-abrik buku-buku yang tersusun rapi di rak.  
Dua buah cerpennya yang muncul dalam bunga rampai terbitan Creative Writing Institute, Jakarta 2003 dan 2004 baru saya sadari setelah pementasan lakon monolog. Beberapa tahun kemudian Aishah menerbitkan kumpulan cerpen bertajuk Mawar Rebah dan Mimpi Mimpi Leila (2012) dan kumpulan puisi Surat buat Emak (2016). Ada benang merah yang jelas dari lakon monolog, cerpen, dan puisi yang ditulis pujangga kelahiran Rantauprapat, Sumatera Utara, 1971 ini. Benang merah itu adalah tokoh-tokohnya yang kebanyakan perempuan mandiri, kuat, dan cenderung pemberontak terhadap lingkungan sosialnya.
Subyek pada monolog dan sebagian besar cerpen dan puisi yang ditulis Aisah adalah akuAku di sana kerap seorang perempuan. Kadang ibu, kadang anak gadis. Pada monolog-nya penuturnya adalah seorang ibu yang kesepian kehilangan anak gadisnya yang pergi merantau demi mengejar cita-cita. Pada puncak kekesalannya ia mengobrak-abrik buku-buku sambil meraungkan penyesalannya telah memberikan anak gadisnya begitu banyak buku.
Pun puisi-puisinya yang terangkum dalam buku Surat Buat Emak, subyek liriknya adalah seorang anak perempuan yang merindukan ibunya. Simaklah bait pertama puisi Surat buat Emak berikut ini: Aku akan pulang, Mak/ Raih waktu di sela desing peluru/Gelimang jiwa terlunta di tanah leluhur sendiri/ Tuntaskanlah rindumu menggunung/ pada selembar kisah masa kanakku// .  atau bait kedua sajak Panggilan Ibu, di bawah ini:
Tak guna mengumbar perih/ pada ruang-ruang resepsi yang tak sempat peduli/ Pulanglah ke rumah ibu/ tempat dulu kau bermain, berlari/ berteriak sepuasmu di halamannya: /laut lepas membentang/tarik sampanmu ke pantai/ Melautlah, bangun mimpimu yang baru/di atas gelombangnya.  
Kedua puisi ini secara gamblang menggambarkan aku, subyek lirik, seseorang yang gemar bertarung. Tentu bertarung melawan kerasnya hidup. Pada sajak pertama aku harus mencari waktu di tengah kesibukan yang bagai desing peluru. Sambil menunggu kedatangan aku, aku lirik menyarankan kepada Emak menuntaskan rindu yang menggunung kepada selembar kisah masa kanaknya.
Dalam cerpen-cerpennya, akan semakin banyak kita jumpai tokoh-tokoh perempuan lengkap dengan aneka persoalan dan konfliknya yang khas. Perempuan-perempuan dalam cerpen  Mawar Rebah dan Mimpi Mimpi Leila memiliki karakter yang hampir serupa satu sama lain, seorang perempuan yang mandiri, kuat, dan berani bersikap terhadap laki-laki.  Cerpen Mawar Itu Rebah di Pangkuanku tokohnya adalah aku, seorang orangtua tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. 
Perempuan dalam cerpen  Perempuan yang Berlari, adalah seseorang yang berani meninggalkan keluarganya demi memenuhi panggilan hatinya mengajar di sebuah sekolah yang jauh di pedalaman. Demikian pula pada cerpen Perempuan Bersepeda,  perempuan yang berjuang seorang diri membesarkan anak. Saban hari dia bersepeda berjualan sayur mayur ke pasar. Ia tak lagi menunggu suaminya yang  tak kunjung datang.
Lelaki-lelaki Lembut
Sebaliknya, lelaki dalam cerpen-cerpen Aishah hadir dalam sifat yang lembut, cenderung mengakui kesalahan, dan tidak menunjukkan superioritas laki-laki. Tengoklah Arya, lelaki dalam cerpen Kabut Pecah di Benakku, yang ingin kembali ke pelukan aku (penutur, perempuan)  setelah kisah cinta mereka bubar bertahun-tahun yang lalu. Penyebabnya, aku meninggalkannya begitu saja. Selama perpisahan itu Arya tidak pernah berhubungan dengan perempuan lain. Arya tampaknya menerima begitu saja perlakukan zalim aku terhadapnya.  Aku akhirnya menerima keinginan Arya untuk kembali. 
Pada cerpen Slow Dancing in the Little House, kita berpapasan dengan Sadewo. Laki-laki ini bertemu dengan Sitah dalam sebuah pesta karnaval. Sadewo mengajak Sitah menginap di hotel. Sitah jatuh cinta kepada lelaki yang baru dijumpainya dua jam lalu ini. Sadewo berkarakter tenang dan mengagungkan Sitah. Lelaki ini tidak menjamah tubuh Sitah meski perempuan itu telah berada dalam kamar hotel berdua sahaja dengannya.
Cerpen Nyanyian Pulang barangkali menampilkan tokoh lelaki yang paling rapuh.  Krisna sorang penyanyi yang merasa dikhianti Helga Braun  yang berselingkuh dengan Rainer, pelukis yang menjadikan Helga modelnya. Krisna pulang ke Indonesia membawa hati yang luka. Simak pula Wim, lelaki dalam cerpen Ah, Luka Itu,  ia mengakui luka yang dideritanya disebabkan perselingkuhan yang dilakukan istrinya. Wim memvonis istrinya sebagai pengkhianat. Maka ia harus membalas sakit hatinya dengan cara meninggalkan istrinya.
Tetapi keputusan Wim menyisakan luka mendalam di hatinya. Wim, si penutur dalam cerpen ini merasakan luka menganga di hatinya. Apakah istrinya merasakan hal yang sama? Wim tidak menjelaskannya. Ia lebih sibuk berperang melawan batinnya yang tidak menyetujui keputusannya. Karena batinnya melihat bahwa perselingkuhan istrinya berasal dari kesalahan dia juga: sering meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Sikap dan keputusan Wim, meskipun tipis, tidak berpihak kepada superioritas laki-laki. Wim yang merasa dikhianati hanya meminta istrinya pergi tanpa rencana segera mencari pengganti istrinya. Wim justru berkubang dalam kesedihan dan perang batin.    

Feminis
Perempuan-perempuan yang  hadir dalam karya-karya Aishah, sekalipun mereka tidak memahami konsep kesetaran gender seperti yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya A Room of One’s Own (1929). Tetapi sikap mereka jelas sangat menolak supermasi atawa superioritas laki-laki atas perempuan. Apabila kebanyakan perempuan pengarang Indonesia secara tidak sadar turut merayakan dan melestarikan sistem patriarkis dalam karya-karya mereka, Aishah mencoba melawannya, sekalipun tidak keras.

Melalui sastra, Aisah mencoba membendung budaya patriarki yang merembes dan dirembeskan melalui bahasa. Dengan begitu, apabila saya boleh menggunkaan kalimat dramatis untuk menggambarkan, Aishah telah menjalankan fungsinya sebagai sastrawan dan kaum intelektual. Sastra tidak sekadar untuk memuaskan hasrat kepada estetika tetapi juga kontrol sosial.  
Disiarkan Sumut Pos, Minggu 18 September 2016, dengan judul 'Perempuan-perempuan Anggitan Aishah Basar'

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka