Posts

Showing posts from October, 2016

Harga Buku Langka

Image
Melalui telepon, Andre Tanama (34), seorang bibliophile, sebutan untuk kolektor buku langka, menuturkan perihal buku langka. Menurutnya, buku langka tidak selalu buku kuno yang berumur ratusan tahun. Dosen seni rupa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini, mengategorikan buku langka berdasarkan sekurangnya empat hal, yaitu tampilan fisik seperti desain perwajahan, umur buku, isi, dan pengarang.

Andre mengajukan contoh sejumlah buku terbitan penerbit Yogakarta awal 1990-2000 an, seperti Bentang Budaya, Teplok Press, Mata Bangsa, Pohon Sukma, Pustaka Promethea, Jendela, Yayasan Aksara Indonesia sebagai buku-buku langka yang kini banyak diburu peminat karena desainnya menarik secara artistik dan diterbitkan dalam jumlah terbatas.

Tiga Dara Memotret Jakarta Tahun 50-an

Image
Bagaimana kita ‘memasuki’ suasana Jakarta pada era 1950-an? Kita mungkin bisa mendapatkannya melalui kisah fiksi atau buku-buku sejarah. Tetapi melalui buku belaka ternyata tidak cukup, terutama bagi saya atau Anda yang tidak terlalu tekun menyusuri halaman-halaman buku sejarah, mengingat kita dibesarkan dalam tradisi lisan dan gambar yang terlalu kuat. Sejarah yang dikonstruksi melalui deretan kata dalam halaman-halaman buku kurang memberikan pengalaman nyata, begitulah barangkali apologi kita. Pasalnya, setiap kepala memiliki tafsir dan imajinasi berbeda ketika menghadapi bacaan yang sama sekalipun. Menikmati suasana Jakarta era puluhan tahun yang silam melalui buku-buku sejarah tetap penting. Dan gambar bergerak atau film hadir untuk melengkapinya. Film memiliki kekuatan untuk menggenapi imajinasi yang diciptakan bacaan. Suasana Jakarta era 1950-an misalnya ketika ditampilkan dalam film memberikan pengalaman atau gambaran yang lebih nyata. Maka untuk mengetahui atau ‘memasuki’ suas…

Tentang Penyitaan Buku Berlogo Palu Arit dan Cara Asia Memandang G30 S

Image
Perhelatan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016 yang adem-adem saja, tiba-tiba heboh. Media yang semula anteng mendadak ramai memberitakannya. Sayangnya, kehebohan ini bukan lantaran pengunjung yang sekonyong-konyong membludak dan memborong buku, melainkan karena peristiwa memalukan yang mungkin hanya terjadi di Indonesia yang kita cintai ini: sekawanan polisi menyerbu masuk ruang pameran dan menyita buku bergambar palu arit yang sedang dipajang di salah satu stan Malaysia, si tamu kehormatan pameran berlevel internasional ini.

Tidak cukup menyita, mereka juga ‘mengamankan dan memeriksa empat warga Malaysia yang memajang buku berjudul 'Manifesto Komunis-Karl Marx & Friedrik Engels' itu. Entahlah mau ditaruh di mana muka bangsa ini dalam pergaulan dunia internasional. Peristiwa yang membuat miris nan menyedihkan ini langsung menyebar cepat di jejaring media sosial. Dengan nada marah dan putus asa sekaligus sinis, Mumu Aloha, seorang pecinta buku, menulis di dinding