Tentang Penyitaan Buku Berlogo Palu Arit dan Cara Asia Memandang G30 S

Model oleh Dianita (kanan) dan Delisa
Perhelatan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016 yang adem-adem saja, tiba-tiba heboh. Media yang semula anteng mendadak ramai memberitakannya. Sayangnya, kehebohan ini bukan lantaran pengunjung yang sekonyong-konyong membludak dan memborong buku, melainkan karena peristiwa memalukan yang mungkin hanya terjadi di Indonesia yang kita cintai ini: sekawanan polisi menyerbu masuk ruang pameran dan menyita buku bergambar palu arit yang sedang dipajang di salah satu stan Malaysia, si tamu kehormatan pameran berlevel internasional ini.

Tidak cukup menyita, mereka juga ‘mengamankan dan memeriksa empat warga Malaysia yang memajang buku berjudul 'Manifesto Komunis-Karl Marx & Friedrik Engels' itu. Entahlah mau ditaruh di mana muka bangsa ini dalam pergaulan dunia internasional. Peristiwa yang membuat miris nan menyedihkan ini langsung menyebar cepat di jejaring media sosial. Dengan nada marah dan putus asa sekaligus sinis, Mumu Aloha, seorang pecinta buku, menulis di dinding Facebook-nya seperti ini:


polisi NKRI makin nyampaaaaah!!!!
....yang disita buku terbitan malaysia yang lagi jadi tamu kehormatan. emang nggak berbakat jadi bangsa beradab. sudahlah nggak usah sok maju bikin "international book fair"....bikin aja pasar kaget pake dangdut di gang hahihahi badut-badutan aja

Kemarahan dan keputusasaan netizen itu menggambarkan perasaan kita semua sebagai kaum beradab atas ulah bodoh polisi yang terus berulang dan kita (baca: negara) tak berdaya apa-apa. Sudah tak terhitung polisi melakukan kekerasan terhadap dunia buku dan intelektualitas, mulai dari menyita, membakar, hingga membubarkan diskusi buku. Yang tersisa mungkin pertanyan, apakah sebenarnya yang ada dalam kepala kawanan polisi tentang ajaran komunis?
Tampaknya jawabannya jelas: mereka tak tahu apa-apa kecuali memelihara ketakutan (dan kebodohan) yang tak beralasan. IIBF yang berakhir Minggu (2/10) kemarin pun barangkali akan dikenang sebagai perhelatan paling memalukan yang pernah terjadi di muka bumi. Peristiwa ini tentu saja keberhasilan rezim Orde Baru menanamkan antipati terhadap Partai Komunis Indonesia yang disponsori ajaran komunisme yang dianggap anti-Tuhan dan dituduh mendalangi peristiwa   G 30 S.
Tetapi, apakah sesungguhnya yang terjadi dalam peristiwa G30 S itu? Baru-baru ini saya membaca buku Buku G30 S dan Asia Dalam Bayang Bayang Perang Dingin.  Buku ini merangkum bagaimana Asia bersikap dan memandang peristiwa G30 S. Buku yang berasal dari kumpulan makalah para peneliti Jepang ini berupaya melihat dan mendudukan Asia dalam posisinya ketika peristiwa itu terjadi.
Penjelasan menarik perihal cara pandang Asia dapat diikuti dari kata pengantar buku ini yang ditulis oleh Asvi Warman Adam bahwa G 30 S meletus ketika terjadi perang dingin antara blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok Tim yang dikomandoi Uni Soviet. Di sisi lain terjadi kebangkitan negara-negara berkembang yang menentang neokolonialismse, seperti Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia yang dianggap sebagai boneka Inggris. Pada saat itu negara-negara Asia disibukkan dengan persoalan dalam negeri masing-masing.
Dari perspektf ini kita dapat melihat bahwa peristiwa G 30 S tidak dapat dilepaskan dari situasi global yang terbelah antara blok Barat dan blok Timur. Hampir seluruh negara-negara berkembang menerima dampak dari perang antara dua kekuatan besar yang mencabik negara-negara berkembang ke dalam perpecahan.
Ketidakterlibatan Tiongkok
Tetapi pemerintah Orde Baru menuduh Tiongkok terlibat dalam peristiwa G30 S, seperti ditulis oleh Harian Angkatan Bersenjata 25 April 1966 (“Kisah Gagalnja Coup Gestapu jang Dimasak di Peking’; “Rezim Peking perintahkan bunuh 7 Djenderal & semua perwira ‘reaksinoner’; RRT Sanggupi pengiriman sendjata & pelengkapan untuk 30. 000 orang”). Padahal, berdasarkan arsip dokumen sejarah yang sempat dibuka untuk publik oleh pemerintah Tiongkok, Negeri Tirai Bambu itu tidak terlibat. Beberapa petinggi PKI seperti Sobron Aidit memang mengunjungi negeri itu, tetapi bukan dalam rangka merencanakan peristiwa G30 S. Kalau Sobron merencanakannya di Tiongkok, pemerintah komunis Tiongkok berada di luar mereka.
Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama mengulas perihal hubungan Tiongkok dengan G30 S. Hubungan Tiongkok, Taiwan, dan Indonesia pascaG30S, Jepang dan G30S, serta gagalnya perjuangan Serawak dan G30S. Disebutkan bahwa kekuatan komunis di Serawak menguat. Mereka menentang pembentukan Malaysia oleh Inggris. Hal yang menjelaskan bagaimana negara-negara berkembang terbelah dalam dua ideologi besar.
Bagian kedua adalah perihal situasi dan sikap-sikap negara-negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Filipina, Vietnam, Korea, dan tentu saja Jepang. Buku ini menelusuri sikap dan cara memandang negara-negara tersebut melalui pemberitaan surat kabar di negeri-negeri bersangkutan atas peristiwa G30 S. Sayangnya, Asia dalam perspektif buku ini tidak termasuk India dan negara-negara di Timur Tengah. 
Buku ini melengkapi data tentang G30 S dari perspektif internasional yang telah terbit lebih dulu, yaitu G30 S dan Dunia (2013) yang mengulas sikap dan cara memandang Eropa dan Australia.  Kita tinggal menunggu buku yang menyingkap sikap dan cara memandang negara-negara Timur Tengah atas peristiwa  G30 S.
Seandainya buku ini sampulnya bergambar logo palu arit, mungkin polisi akan menyitanya juga dari rak buku seluruh toko Gramedia.
Data Buku

Judul:  G30S dan Asia • Penulis: Taomo Zhou dkk • Penerjemah: A Dahana, Th Bambang Murtianto, dkk • Penerbit:  Penerbit Buku Kompas •  Cetakan:  I,  2016 • Tebal :  xxvi + 308 halaman

Comments