Tiga Dara Memotret Jakarta Tahun 50-an

dari Kompasiana
Bagaimana kita ‘memasuki’ suasana Jakarta pada era 1950-an? Kita mungkin bisa mendapatkannya melalui kisah fiksi atau buku-buku sejarah. Tetapi melalui buku belaka ternyata tidak cukup, terutama bagi saya atau Anda yang tidak terlalu tekun menyusuri halaman-halaman buku sejarah, mengingat kita dibesarkan dalam tradisi lisan dan gambar yang terlalu kuat. Sejarah yang dikonstruksi melalui deretan kata dalam halaman-halaman buku kurang memberikan pengalaman nyata, begitulah barangkali apologi kita. Pasalnya, setiap kepala memiliki tafsir dan imajinasi berbeda ketika menghadapi bacaan yang sama sekalipun.
Menikmati suasana Jakarta era puluhan tahun yang silam melalui buku-buku sejarah tetap penting. Dan gambar bergerak atau film hadir untuk melengkapinya. Film memiliki kekuatan untuk menggenapi imajinasi yang diciptakan bacaan. Suasana Jakarta era 1950-an misalnya ketika ditampilkan dalam film memberikan pengalaman atau gambaran yang lebih nyata. Maka untuk mengetahui atau ‘memasuki’ suasana Jakarta melalui film boleh dikatakan lebih efektif, dalam arti, sensasinya lebih kuat dirasakan oleh kebanyakan orang. Namun bagaimana kita dapat ‘memasuki’ Jakarta pada masa yang telah puluhan tahun berlalu apabila film sebagai media untuk mendokumentasikannya telah rusak dimakan waktu?
Pada titik inilah merestorasi film produksi tempo doeloe menjadi gagasan yang amat sangat membantu kita untuk ‘memasuki’ sejarah Jakarta masa lalu. Maka kita patut bergembira dengan terwujudnya restorasi film Tiga Dara karya sutradara Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail (1921-1971) oleh sineas muda (teamwork of PT Render Digital Indonesia) yang punya kepedulian kepada sejarah film kita. Sehingga kita dapat menikmatinya di bioskop-bisokop sejak 11 Agustus 2016 yang lalu. Restorasi film Tiga Dara jelas merupakan upaya anak-anak bangsa kita menyelamatkan sejarah dan mengembalikan aset bangsa yang sangat berharga.
Film Tiga Dara bukan yang pertama direstorasi. Pada 2012 lalu, sejumlah sineas berhasil menginisiasi dan merestorasi film legendaris Lewat Djam Malam dari karya sutradara yang sama. Tentu kita berharap restorasi tidak berhenti sampai di film Tiga Dara. Pemerintah harus terlibat dalam proyek restorasi film untuk menyelamatkan sejarah kita.
Melalui film Tiga Dara yang telah direstorasi dengan sukses, kita dapat melihat kondisi fisik kota Jakarta masa itu, lengkap dengan pergaulan sosial masyarakatnya, gaya berbahasa, mode busana, gaya berpacaran dan lain sebagainya. Menikmati semua itu melalui film Tiga Dara kita tidak semata diajak untuk bernostalgia, melainkan juga untuk melihat wajah Jakarta atau wajah kita di masa lalu. Kata seorang filsuf, mengenal sejarah masa lalu penting diakukan untuk menentukan arah masa depan kita.                  
Tiga Dara berkisah tentang liku-liku tiga dara kakak beradik dalam mendapatkan jodoh mereka masing-masing. Tiga dara itu adalah Nunung (Citra Dewi) si sulung, Nana (Mieke Wijaya), dan  si bungsu Neni (Indriati Iskak). Sepeninggal sang ibu, ketiganya hidup bersama ayah mereka, Sukandar (Hassan Sanusi), dan nenek mereka (Fifi Young) di Jakarta.
Nenek mereka tak henti-hentinya berupaya mencarikan jodoh untuk ketiga cucu perempuannya. Nenek resah lantaran Nunungyang sudah cukup umur belum juga menemukan jodohnya. Si Sulung yang senantiasa mengenakan kebaya itu susah bergaul alias kuper, mudah merajuk, selalu sibuk di dapur dan mengurus pekerjaan rumah tangga mulai dari masak, mencuci, nyetrika, membuatkan kopi. Berbeda dengan Nana yang pintar bergaul dan mudah mencari kawan. Nenek mendorong Sukandar mengundang teman-teman kantornya ke rumah untuk berkenalan dengan Nunung. Tetapi yang datang tentu saja laki-laki sebaya Sukandar. Lalu dimintanya Neni mengundang kawan-kawannya. Kali ini sebaliknya yang terjadi: yang datang adalah laki-laki ingusan. Ketika suatu hari datang Toto (Rendra Karno), lelaki yang menabrak Nunung, untuk meminta maaf sekaligus membawa bunga untuknya, konflik dan kelucuan pun muncul. Nana, sang adik justru bersaing untuk mendapatkan perhatian laki-laki itu.  
Hasil restorasi terbilang sukses karena film produksi tahun 1956 itu bagai film baru. Kecuali warnanya yang hitam putih, kita dapat menikmati gambar-gambarnya yang jernih, tajam, dan suaranya yang bening. Menikmati akting dan alur ceritanya yang bagus dan tergarap sangat baik bahkan bila dibanding film karya-karya sutradara kenamaan masa sekarang. Tiga Dara digarap dengan menggunakan pemahaman, gagasan, sudut pandang, dan cara penyampaian yang berakar dari keseharian masyarakat Indonesia. Yang paling menarik adalah film ini disampaikan dengan genre musikal yang mudah dipahami hingga oleh generasi masa kini. Musik dan nyanyian dimunculkan pada saat yang tepat. Tidak heran pada masanya, film Tiga Dara yang terinspirasi komedi musikal Three Smart Girls (1936) sanggup bertahan delapan pekan di bioskop sejak tayang perdana pada Agustus 1957.

Karya yang bagus memang selalu mampu merangsang dan menginspirasi orang lain untuk berkarya pula bahkan hingga generasi berpuluh-puluh tahun sesudahnya. Itulah yang terjadi dengan Tiga Dara. Nia Dinata, wanita sineas Indonesia kenamaan terinspirasi dan membuat film Ini Kisah Tiga Dara dari film Tiga Dara yang telah direstorasi ini. Jadi, betapa pentingnya merestorasi film (bermutu), bukan?  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka