Posts

Showing posts from November, 2016

Menyimak Khotbah tentang Kopi di Bandar Lampung

Image
Suasana muram yang terbuat dari gerimis dan mendung menyambut kedatangan saya di Bandar Lampung. Angin pertengahan November yang basah membilas telapak tangan saya. Bandar Udara Radin Inten tampak sedang direnovasi. Saya tak sempat mampir sebentar di sebuah kedainya seperti tahun lalu. Langkah saya bergegas menghampiri sopir yang tengah menanti saya di pintu bandara. Kami meluncur ke arah Tanjungkarang. Ini kota yang menyimpan banyak pengarang. Beberapa di antaranya kawan baik saya. Sayangnya, kedatangan saya kali ini bukan untuk bertemu dengan seorang pun dari mereka. Saya mengemban misi lain yang tidak memungkinkan bertemu mereka. Waktu saya sebentar. Hanya seharian untuk mengikuti kegiatan seorang pedagang kopi. **

Kisah Romantis Putra Bangkalan

Image
Limabelas menit setelah pulang dari rumah perempuan yang ditaksirnya, pemuda itu menelpon. Dia menelpon sang kekasih, menanyakan apakah ada sesuatu miliknya yang tertinggal? Sang kekasih bersikeras mengatakan tidak ada yang tertinggal di rumah. Tetapi pemuda itu ngotot. “Kayaknya hatiku tertinggal di rumah Mbak.”  Lalu sang kekasih pun menjawab, “Kayaknya hatiku juga terbawa, ikut kamu, Mas.” Secuil kisah romantis itu kita temui di buku Putra Bangkalan di Pojok Senayan. Ini buku yang disusun oleh kawan saya. Dia meminta saya menuliskan resensinya. Jujur saja, saya tidak begitu tertarik membaca apalagi menuliskan resensi buku semacam ini. Maksud saya buku proyek biografi seorang pejabat yang dibuat untuk melayani kepentingan promosi politik dan sekadar buang-buang duit. Kita tahu banyak pejabat-pejabat narsis di negeri ini; mereka yang belum memiliki jejak panjang dan prestasi penting untuk perjalanan bangsa, namun begitu besar keinginannya untuk dikenal dan dicatat dalam sejarah. Dengan…

Sepasang Sahabat dari Masa Lalu

Image
Barangkali aib atau sesuatu yang dianggap aib dapat berguna untuk membungkam nurani, begitulah yang diingat Hasan dari sebuah percakapan dengan istrinya dulu. Hasan mengatakan kembali hal itu dalam percakapan dengan cucunya, Rifki. “Kakek tak menyangka akan bertemu kembali dengan kawan baik kakek dalam suasana yang sama sekali tak menyenangkan,” ujar Hasan. Dalam benak Hasan kembali berkelebatan adegan  pertemuannya dengan Rahmat suatu pagi di ruang kepala sekolah. Ia masih kurus seperti dulu; dibungkus kemeja batik yang telah kusam. Hasan tertegun sebentar begitu mengenali Rahmat. Seperti halnya Hasan, Rahmat terlihat terkejut, tak menyangka akan  mendapati perjumpaan dengan Hasan setelah sekian puluh tahun tak bertemu. Dengan sikap yang masih kikuk, Hasan mengulurkan tangan untuk bersalaman, lalu mempersilakan Rahmat duduk. Mereka berhadap-hadapan dan bertatapan dengan perasaan yang sukar dirumuskan. Pandangan Rahmat  menyapu seisi ruangan. Rak dari kayu jati yang memajang puluhan bu…

Ziarah Terakhir

Image
Sudah saatnya Bardi menceritakan kisah rahasia antara ia dengan mendiang istrinya kepada mereka. Bardi tahu rahasia ini tidak penting untuk mereka ketahui. Tetapi ia merasa harus menceritakannya.Sore itu seusai membersihkan kuburan mendiang istrinya dari rumput alang-alang, Bardi berencana mampir ke rumah anak dan menantu tirinya yang berada di seberang kompleks perkuburan desa. Bardi berdiri dekat persilangan hendak menyeberang, ketika tiba-tiba sebuah sepeda motor yang dikendarai tiga remaja tanggung berlari kencang ke arahnya… Dulu sebelum meninggalkan rumah ini 40 hari setelah istrinya meninggal, sepuluh tahun lalu, Bardi telah meminta maaf kepada anak dan menantu tirinya dan mohon diperkenankan sesekali datang menjenguk ke rumah ini untuk sekadar mengenang mendiang istrinya. Mereka tak sepenuh hati memaafkan Bardi, tetapi tak sampai hati mengusir laki-laki itu saban ia datang berkunjung.

Jagoan tanpa Petatah Petitih

Image
Aku menemukan buku ini di ajang Indonesia International Book Fair 2016 awal Oktober lalu yang heboh gegara kasus penyitaan buku berlogo palu arit di stand Malaysia oleh kawanan polisi NKRI. Jaka Wulung, novel silat garapan Hermawan Aksan ini nyelip di rak buku-buku yang dijual dengan potongan harga gila-gilaan. Aku hanya menemukan jilid pertama dari tiga jilid lainnya.  Aku segera membawanya ke kasir. Aku malas untuk bertanya kenapa hanya ada jilid pertama kepada pramuniaga, ke mana dua jilid lainnya. Aku sudah mengaduk-aduk buku di rak dan di dalam peti yang belum dipajang, ketika tak menemukan yang kucari maka aku segera pergi  dari sana. Tujuan ke pameran buku awalnya memang bukan untuk beli buku, melainkan ikut lomba baca puisi Korea yang digelar di panggung utama. Sial, pergelaran lomba baca puisi sudah lewat sejam sebelum aku tiba, rupanya aku salah membaca jadwal lomba. Sejak dua tahun lalu aku menjadi anggota perpustakaan daerah DKI, dan teman-temanku banyak yang punya perpusta…