Jagoan tanpa Petatah Petitih

Model oleh Dedi Kurniadi
Aku menemukan buku ini di ajang Indonesia International Book Fair 2016 awal Oktober lalu yang heboh gegara kasus penyitaan buku berlogo palu arit di stand Malaysia oleh kawanan polisi NKRI. Jaka Wulung, novel silat garapan Hermawan Aksan ini nyelip di rak buku-buku yang dijual dengan potongan harga gila-gilaan. Aku hanya menemukan jilid pertama dari tiga jilid lainnya.  Aku segera membawanya ke kasir. Aku malas untuk bertanya kenapa hanya ada jilid pertama kepada pramuniaga, ke mana dua jilid lainnya. Aku sudah mengaduk-aduk buku di rak dan di dalam peti yang belum dipajang, ketika tak menemukan yang kucari maka aku segera pergi  dari sana.
Tujuan ke pameran buku awalnya memang bukan untuk beli buku, melainkan ikut lomba baca puisi Korea yang digelar di panggung utama. Sial, pergelaran lomba baca puisi sudah lewat sejam sebelum aku tiba, rupanya aku salah membaca jadwal lomba. Sejak dua tahun lalu aku menjadi anggota perpustakaan daerah DKI, dan teman-temanku banyak yang punya perpustakaan pribadi dan pedagang buku, aku bisa setiap saat pinjam atau beli dari mereka yang selalu berbaik hati kepadaku. Belum lagi perpustakaan di kantor, lalu kiriman dari satu dua penerbit  sebagai upah aku menulis resensi buku mereka di koran. Jadi aku merasa tidak perlu membeli buku di arena pameran. Lagi pula aku lagi mengencangkan ikat pinggang, alias pengiritan.
Tapi kalau sudah ke pameran buku, ada potongan harga pula, hasratku membeli buku meronta-ronta untuk dipenuhi. Aku tak berdaya. Meskipun tidak sampai kalap. Akhirnya kuambil beberapa buku, di antaranya novel Jaka Wulung ini. Aku sudah membaca beberapa buku silat garapan pengarang kelahiran Brebes ini, Niskala dan Dyah Pitaloka. Tidak terlalu istimewa sebenarnya. Tetapi kalau novel silat aku hampir selalu suka. Lagi pula lumayan seru. Hermawan menguasai peralatan bahasa yang menjadi media kerjanya.
Bagiku cerita silat atawa dunia persilatan memiliki pesona dan daya pukau tersendiri.  Mungkin karena awal-awal aku mengenal dunia cerita melalui cerita silat sandiwara radio Saur Sepuh, kemudian disusul komik Jaka Sembung, Si Buta dari Gua Hantu, film silat klasik lokal maupun Mandarin di bioskop kampung. 
Daya pukau utama cerita silat tentu saja adegan pertarungan, yang sering dan paling seru pertarungan di warung makan yang membuat peralatan makan yang terbuat dari gerabah berterbangan serta meja kursi rak porak poranda; pengembaraan di hutan-hutan, menyeberangi sungai, mendaki gunung menuruni  lembah, mandi di bawah air terjun.
Seorang jagoan dikeroyok oleh sejumlah musuh hingga terdesak dan jatuh ke dalam jurang. Jangan khawatir, tubuhnya tidak akan jatuh berkeping-keping disambut bebatuan di dasar jurang. Karena akan ada bayangan yang berkelebat dan menangkap tubuhnya lalu membawanya ke pondok untuk mengobati luka-luka di tubuhnya.   
Membaca cerita silat bagiku adalah serupa perjalanan  menikmati nostalgia yang memberiku perasaan gembira. Dan perasaan gembira ini tidak ada kaitannya dengan pendapat bahwa cerita silat menyajikan hiburan semata yang tidak akan membuat keningmu berkerut dan tak memberi kekayaan pengetahuan. Terus terang aku tidak sependapat. Seperti juga novel-novel pop semisal karangan Fredy S dan Eddy D Iskandar yang memiliki peluang yang sama untuk dipelajari, ditelisik, dan direnungkan sebagaimana dikatakan Sapardi Djoko Damono, novel-novel silat pun demikian.
Baiklah, novel Jaka Wulung jilid Pertarungan di Bukit Sagara ini dibuka dengan narasi yang hendak menjelaskan latar belakang sejarah kisah novel. Narasi ini serta merta melejitkan imajinasiku ke sebuah peradaban masa lalu Nusantara. Seperti ini.
Tahun 1580-an adalah salah satu masa paling muram dalam sejarah Nusantara. Keraton Majapatan sudah puluhan tahun runtuh nyaris tapa bekas. Tapi sisa sisa pasukannya  masih berkeliaran di gunung-gunung, perkampungan, dan kotaraja, kadang dengan membawa-bawa nama Brawijaya meskipun pakaianya koyak moyak.
Jaka Wulung pada jilid pertama buku ini belum tersingkap asal-usulnya. Doi digambarkan seperti bocah gelandangan namun memiliki bakat dan kemampuan kanuragan yang hebat. Dia muncul dan diperkenalkan kepada kita saat sedang mengintai latihan silat yang digelar Senapatiyuda Jayeng Sagara dan tiga muridnya, Lingga Prawata, Dyah Wulankencana, dan Watu Ageng.  Jayeng Sagara adalah  seorang kesatria Kadipaten Jipang Panolan. Sebelum Jipang Panolan diserbu Pajang, ia adalah kepala pasukan yang posisinya dua lapis  di bawah Arya Penangsang, pimpinan tertinggi angkatan perang Jipang.
Kelak Jaka Wulung menjadi musuh Lingga Prawata lantaran jejaka tampan lagi sakti ini menarik perhatian Dyah Wulankencana, gacoan Lingga Prawata. Jaka Wulung pula yang secara tidak sengaja mewarisi ajian gulung maung, sebuah ajian kanuragan tingkat tinggi ciptaan Prabu Siliwangi melalui Resi Darmakusumah.  
Seperti alur cerita umumnya,  novel  Jaka Wulung berkisah tentang perebutan sebuah kitab yang menyimpan ilmu gulung maung Sang Prabu. Para pendekar dari segala penjuru dan berbagai golongan (putih, hitam, dan abu-abu) memburunya hingga mereka bertemu dan bertarung di bukit Sagara. Tempo novel ini bergerak cepat tanpa petitah petitih dan ungkapan-ungkapan filsafat yang sering kita temui di cerita-cerita silat Seno Gumira Ajidarma maupun Asmaran S Kho Ping Ho.
Kepada siapa kelak Kitab Siliwangi ini jatuh, siapa sesungguhnya Jaka Wulung, bagaimana nasib asmaranya dengan Dyah Wulankencana? Semoga jilid kedua dan ketiga novel ini segera saya dapatkan dengan potongan harga gila-gilaan. 

Comments