Kisah Romantis Putra Bangkalan

Model diperani oleh Hartini alias Tin Tin
Limabelas menit setelah pulang dari rumah perempuan yang ditaksirnya, pemuda itu menelpon. Dia menelpon sang kekasih, menanyakan apakah ada sesuatu miliknya yang tertinggal? Sang kekasih bersikeras mengatakan tidak ada yang tertinggal di rumah. Tetapi pemuda itu ngotot. “Kayaknya hatiku tertinggal di rumah Mbak.”  Lalu sang kekasih pun menjawab, “Kayaknya hatiku juga terbawa, ikut kamu, Mas.”
Secuil kisah romantis itu kita temui di buku Putra Bangkalan di Pojok Senayan. Ini buku yang disusun oleh kawan saya. Dia meminta saya menuliskan resensinya. Jujur saja, saya tidak begitu tertarik membaca apalagi menuliskan resensi buku semacam ini. Maksud saya buku proyek biografi seorang pejabat yang dibuat untuk melayani kepentingan promosi politik dan sekadar buang-buang duit.
Kita tahu banyak pejabat-pejabat narsis di negeri ini; mereka yang belum memiliki jejak panjang dan prestasi penting untuk perjalanan bangsa, namun begitu besar keinginannya untuk dikenal dan dicatat dalam sejarah. Dengan menerbitkan sebuah buku tentang diri mereka, mereka berharap keinginannya dapat terakomodasi. Kita juga tahu begitu banyak penulis yang mencari proyek pembuatan buku semacam itu untuk mendapatkan penghasilan. Kedua entitas kepentingan bertemu. Klop
Baiklah, kita tidak boleh sinis dengan proyek pekerjaan teman sendiri. Nanti dikira sirik. Jadi begini. Buku yang merangkum sepenggal kisah perjalanan hidup serta  kertas kerja Menteri Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Imam Nahrawi ini pada hemat saya cukup rapi penampilan fisiknya. Rancangan sampulnya juga. Isinya?
Menceritakan lelaki berpembawaan kalem kelahiran Bangkalan yang tumbuh dalam kultur pesantren. Sebuah kultur yang mengedepakan kejujuran, ketulusan belajar, dan kesederhanaan. Kultur inilah yang dibawa Imam Nahrawi dalam menjalankan tugasnya di Kementerian Pemuda dan Olahraga Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.  Dengan kultur bawaan pesantren itu, alhasil Imam Nahrawi tidak perlu banyak melakukan penyesuaian dengan irama kerja Presiden Joko Widodo. Karena kultur kerja kedua orang ini senapas.
Sebagaimana Presiden Joko Widodo, Imam Nahrawi pun tak mau percaya begitu saja dengan laporan bawahannya. Dia dengan sigap melakukan blusukan untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi dan dibutuhkan kementerian dan lembaga-lembaga yang menjadi tanggungjawabnya.
Kertas kerja awal-awal politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini begitu memimpin Kementerian Pemuda dan Olahraga membabar aksi blusukannya ke tempat-tempat latihan atlet. Mulai dari Kompleks Gelora Bung Karno, tempat latihan atlet bulutangkis di Cipayung, Jakarta Timur. Tak ada yang luput dari amatan sang menteri saat mengunjungi tempat para atlet berlatih ini.  Ngobrol dengan atlet dan para pelatih guna menggali persoalan yang dihadapi dan mencarikan solusinya secara cepat dan terukur.
Blusukan Menteri Imam tidak sekadar di seputaran Jakarta yang mudah dijangkau, melainkan ke daerah-daerah. Di sana Imam banyak menemukan secara langsung betapanya banyaknya persoalan yang harus dibenahi.             
Sejumlah gebrakan berani Menteri Imam yang perlu dicatat adalah pembekuan Persatuan Sepakbola  Seluruh Iondonesia (PSSI), memberi dukungan dana bagi pebalap Rio Haryanto untuk masuk arena balap mobil paling prestisius di dunia Formula 1, dan memberikan bonus secara tepat waktu bagi atlet-atlet yang telah mengharumkan nama bangsa dalam ajang SEA Games di Singapura pada 2015.
Bagi Nawawi, spirit olahraga sepak bola—dan olahraga apa pun tentu saja,  adalah sportifitas atawa kejujuran. Sebuah spirit yang menghidupinya di dunia pesantren.  Tak mungkin sportifitas sebagai ruh olah raga dapat ditegakkan apabila dunia sepak bola dipenuhi mafia dan kecurangan. Terdapat sekelompok orang yang mengatur skor pertandingan, suap menyuap wasit, gaji pemain yang setiap musim bermasalah tidak terbayar, pembagian hak siar yang tidak transparan, hingga bermuara pada buruknya prestasi dunia olahraga nasional.
Buku ini terbagi dalam dua bagian utama. Pertama, mengenai siapa Imam Nahrawi. Bagian ini menjadi pengantar untuk bagian berikutnya, yaitu himpunan kertas kerja Menteri Imam Nahrawi pada tahun-tahun pertama menjabat. Himpunan kertas kerja disusun  apa adanya hanya berdasarkan periode waktu kegiatan yang dilakukan Menteri Imam Nahrawi  dengan kata ganti orang pertama.
Dengan cara semacam itu mengantarkan pembaca melihat setiap detil kegiatan Menteri Imam Nahrawi di Kementerian yang dipimpinnya. Kita menjadi akrab dan dapat mengendus dengan jelas gagasan-gagasan segar dan cerdas sekaligus sikap lugu sang menteri.
Sedangkan dari bagian pertama kita mendapati perjalanan masa kanak dan remaja Menteri Imam Nahrawi secara sepintas sahaja. Dia berasal dari keluarga sederhana di Bangkalan Madura yang kerap kesulitan mengirim uang saat Imam menempuh pendidikan di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Lembaga pendidikan yang membuka jalan bagi putra dari pasangan Moh. Irsyad dan Maskuna ini ke dalam pergaulan organisasi kemahasiswaan yang kelak mengantarkannya menjadi politisi.
Kilasan peristiwa mengesankan kehidupan pribadi Menteri Imam Nahrawi seperti yang  dikutip di awal tulisan ini ada di bagian pertama. Juga kisah kocak ketika Imam Nahrawi remaja berjalan sambil tidur sewaktu pulang usai tugas menunggu warung keluarganya suatu malam sehingga tersesat ke jalan yang salah. Jadi, buku ini menarik bukan karena penuh informasi kerja-kerja di kantor Kemenpora, tapi juga kisah romantis macam di atas.

Data Buku

Judul:  Putra Bangkalan di Pojok Senayan • Penulis: Amar Hamsyah •  Penerbit:  Penerbit Buku Expose •  Cetakan:  I,  Agustus 2016 • Tebal :  xviii + 272 halaman

Comments