Menyimak Khotbah tentang Kopi di Bandar Lampung

Gerbang Kota Bandar Lampung, Selasa 15 November 2016
Suasana muram yang terbuat dari gerimis dan mendung menyambut kedatangan saya di Bandar Lampung. Angin pertengahan November yang basah membilas telapak tangan saya. Bandar Udara Radin Inten tampak sedang direnovasi. Saya tak sempat mampir sebentar di sebuah kedainya seperti tahun lalu.
Langkah saya bergegas menghampiri sopir yang tengah menanti saya di pintu bandara. Kami meluncur ke arah Tanjungkarang. Ini kota yang menyimpan banyak pengarang. Beberapa di antaranya kawan baik saya. Sayangnya, kedatangan saya kali ini bukan untuk bertemu dengan seorang pun dari mereka. Saya mengemban misi lain yang tidak memungkinkan bertemu mereka. Waktu saya sebentar. Hanya seharian untuk mengikuti kegiatan seorang pedagang kopi.
**
Semerbak harum aroma kopi yang begitu menggoda sudah tercium dari jarak beberapa meter sebelum kami memasuki kafe. Begitu kami berada di dalam kafe yang terletak di sisi sebuah jalan besar di kota Bandar Lampung itu, aroma kopi yang penuh selera semakin menguat. Membuat saya ingin segera menghirupnya. Di dalam ruangan utama kafe, tak jauh dari meja panjang tempat para barista bekerja meracik kopi. Teronggok mesin pemanggang dan penggiling kopi. Inilah rupanya yang membuat aroma kopi yang nikmat begitu kuat menyergap hidung.   
Kafe itu adalah El’s Coffee House.  Pemiliknya, Elkana Arlen Riswan, sosok anak muda kreatif yang punya mimpi besar membawa kopi Lampung tidak sekadar dikenal di Indonesia, tapi juga dunia. Mimpi itu berangkat dari kenyataan bahwa Lampung sebagai penghasil kopi robusta terbaik dan terbesar di dunia. Tapi selama ini hanya mengekspor kopi mentah. Sehingga petani kopi di Lampung tidak memperoleh kesejahteraan dari kopi yang dihasilkan buminya.
Keprihatinan inilah yang membuat pemuda Elkana, atau akrab disapa Elky, gelisah dan mendorongnya berbuat sesuatu untuk menciptakan nilai lebih bagi kopi Lampung. “Saya tumbuh, hidup, dan besar dari kopi,” kata Elky, mengingatkan saya kepada ungkapan mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Sutrisno Bachir: “Saya lahir dan besar bersama batik”.
Demi melihat penampilan dan menyimak gaya bicaranya saat mengungkai kisahnya berbisnis kopi, kau akan segera dapat menyimpulkan bahwa Elky berasal dari kalangan kaum berada. Sehingga tampaknya dia tidak perlu terlalu susah payah saat merintis bisnisnya, apalagi  sampai berdarah-darah. Tetapi jelas Elky bukan jenis anak muda yang gemar hura-hura menghabiskan doku dia punya orangtua tajir. Baiklah, mari kita simak khotbahnya lebih lanjut mengenai kopi.
**
Pelaku usaha kopi di Lampung selama ini hanya mengekspor kopi mentah. Mereka belum berpikir bagaimana mengolah dan mengemas produknya dengan baik untuk meningkatkan nilai jual yang tinggi. Kegelisahannya itu yang membuat Elky bertekad untuk belajar cara mengolah dan mengemas untuk meningkatkan citra sebuah produk tanpa mengabaikan kualitasnya.
Maka ia pun berangkat ke Melbourne, Australia, untuk belajar  marketing communication di Monash University. Di Negeri Kanguru itu Elky tinggal untuk belajar selama hampir sepuluh tahun, yakni sejak 1998 hingga 2007. Sepulang dari Australia, Elky mulai mencoba menerapkan ilmu yang diperolehnya. Dia beruntung mendapat dukungan besar dari kedua orangtua. Ayahnya yang merupakan salah seorang pengurus sebuah asosiasi eksportir kopi mendorong Elky mengeksplorasi kopi dari berbagai daerah untuk menemukan yang terbaik. 
Elky lantas menyewa sebuah tempat sendiri untuk memanggang, menggiling, kemudian mengemas kopi produksinya dengan menarik. “Pelaku bisnis kopi di Lampung ini kan belum menyadari pentingnya merek, bagaimana mengemas produk, dan menciptakan brand. Mereka membungkus produknya dengan plastik gitu aja,” kata Elky. Dia meminta pegawainya menyiapkan kopi es, menu minuman andalan kafenya, untuk kami. Sambil menyimak kisahnya, kami menyesap es kopi yang rasanya sedap sekali. 
Es kopi minuman berwujud kopi yang dibekukan. Cara menyajikannya, harus mencampurnya dengan segelas susu segar yang dituangkan sekaligus ke dalam cangkir. Es kopi yang mencair dan membaur dengan susu, makin lama makin lezat disesap.
**
El’s Coffee House, Bandar Lampung
Membuat merek dan mencipakan brand jelas butuh ketekunan, kata Elky. Waktu awal-awal membuat merek,  Elky sempat kebingungan bagaimana cara memasarkannya. Elky harus jeli melihat celah sebagai peluang untuk mengenalkan dan memasarkan mereknya. Dengan kemasan yang cantik dan  inovatif serta bahan material yang ramah lingkungan memang membuat harga produknya jadi sedikit lebih mahal. Tapi Elky percaya dengan strategi pemasaran yang tepat, mereknya dapat dikenal. Apalagi menurutnya sekarang masyarakat Indonesia makin sejahtera dan pintar memilih produk berkualitas. Kelas menengah tumbuh pesat. Dari yang semula low budget ke medium, dan yang semula medium kini bergeser ke high.
Upaya Elky tampaknya lumayan berhasil, brand-nya El’s Coffee mulai dikenal luas di Lampung dan sejumlah kota besar di Indonesia. El’s Coffe bahkan seperti menjadi ikon Lampung. Brand El’s Coffe memiliki kemasan unik dengan warna-warna cerah yang seolah menggambarkan harapan dan optimisme Elky. Tidak sekadar menonjolkan kemewahan tapi inovasi. Kemasan terdapat lubang yang dapat mengeluarkan udara dari dalam tetapi udara dari luar tidak dapat masuk.  
Dari lubang yang terdapat pada kemasan itu, kita dapat menghirup harumnya kopi El’s Coffe. Dan untuk segera menikmatinya kita dapat menikmatinya di El’s Coffee House. Brand kafe yang dikembangkan pria yang menggemari traveling dan kuliner ini. El’s Coffee House kini menjadi tempat nongkrong anak-anak muda dan para pelancong paling hits di Bandar Lampung.
“El’s Coffee House punya standar khusus dalam layanan, suasana dan kualitas produk, tidak kalah dengan kafe waralaba asing,” ujar Elky. Standar khusus yang dimaksud Elky adalah layanan yang serba prima dengan para barista yang sudah terlatih secara profesional. Beberapa barista di El’s Coffee House  bahkan didatangkan dari Italia.
El’s Coffee House menerapkan konsep pasar di dalam supermarket. Wujudnya antara lain proses pembuatan kopi dilakukan secara langsung di depan umum dengan cara menghadirkan mesin giling di dalam kafe. Para pengunjung tidak sekadar menikmati kopi tetapi juga dapat melihat langsung proses memanggang dan menggiling kopi. Tak main-main mesin pemanggang dan penggiling kopi diimpor langsung dari Turki, Italia, dan Perancis. Tak heran aroma kopi sudah dapat terendus dari jarak beberapa meter sebelum masuk kafe.
El’s Coffee House yang semula hanya menempati ruko kecil dengan beberapa meja, kini telah tumbuh pesat. El’s Coffee House  memiliki sekurangnya enam outlet di Bandar Lampung, dengan lokasi-lokasi startegis, seperti mal besar, kampus, dan dalam waktu dekat di Bandara Radin Inten. Apabila kita ke Medan atau Palembang, kita juga dapat menemukan El’s Coffee House. Bahkan kalau kita sedang jalan-jalan ke Kuala Lumpur, Malaysia, El’s Coffee House  siap menjadi tempat menikmati kopi Lampung di negeri tetangga.
“Saya memilih lebih dulu ekspansi ke Kuala Lumpur ketimbang Jakarta karena ingin lebih dulu mengenalkan brand saya di mancanegara,” ujar Elky yang selalu berinovasi menciptakan menu-menu baru minuman kopi.
Dengan mengangkat kopi Lampung ke mancanegara, pria kelahiran Bandar Lampung, 23 Juli 1986 ini, tidak sekadar menerapkan ilmu bisnisnya menciptakan brand. Tetapi juga turut mengangkat kearifan lokal. Upaya itu juga dilakukan dengan menggandeng pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata Kota Bandar Lampung membuat berbagai even, seperti Festival Kopi Lampung dan mendapuk Felicia Hwang runner up Putri Indonesia 2015 asal Lampung, sebagai brand ambassador El’s Coffee House. Dia juga bekerja sama dengan seniman Lampung, khususnya pelukis, membuat lomba melukis dengan media biji dan ampas kopi. 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka