Sepasang Sahabat dari Masa Lalu

Lukisan karya seniman Prancis, Paul Cezanne, diambil dari http://cahcilik95.blogspot.com/
Barangkali aib atau sesuatu yang dianggap aib dapat berguna untuk membungkam nurani, begitulah yang diingat Hasan dari sebuah percakapan dengan istrinya dulu. Hasan mengatakan kembali hal itu dalam percakapan dengan cucunya, Rifki.
“Kakek tak menyangka akan bertemu kembali dengan kawan baik kakek dalam suasana yang sama sekali tak menyenangkan,” ujar Hasan. Dalam benak Hasan kembali berkelebatan adegan  pertemuannya dengan Rahmat suatu pagi di ruang kepala sekolah. Ia masih kurus seperti dulu; dibungkus kemeja batik yang telah kusam. Hasan tertegun sebentar begitu mengenali Rahmat. Seperti halnya Hasan, Rahmat terlihat terkejut, tak menyangka akan  mendapati perjumpaan dengan Hasan setelah sekian puluh tahun tak bertemu.
Dengan sikap yang masih kikuk, Hasan mengulurkan tangan untuk bersalaman, lalu mempersilakan Rahmat duduk. Mereka berhadap-hadapan dan bertatapan dengan perasaan yang sukar dirumuskan. Pandangan Rahmat  menyapu seisi ruangan. Rak dari kayu jati yang memajang puluhan buku menutupi dinding. Di sudut ruangan ada sederet piala yang diletakkan dalam lemari kaca. Sebuah bola dunia di pojok meja yang mereka hadapi, di antara kotak-kotak kecil tempat pulpen. Tumpukan kertas bergaris  memenuhi sisi yang lain, tak jauh dari situ terletak plakat kayu yang menuliskan nama sahabat lamanya lengkap dengan gelar haji dan M.Pd.
Hasan mengenakan kemeja batik motif mega mendung yang tersetrika rapi. Kulitnya putih dan tampak segar dengan tanda hitam di dahinya bekas sering dipakai sujud. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah arloji berwarna keemasan yang kelihatannya merek mahal. Ia berdeham. Mereka masih tak mempercayai kehadiran satu sama lain, dan butuh waktu beberapa menit untuk menteralisir dan memulai percakapan. Rahmat yakin Hasan sudah tahu maksud kedatangannya dari guru kelas yang menerimanya pagi tadi. Emosi Rahmat belum sepenuhnya reda mendengar jawaban tak memuaskan dari guru kelas. Dengan nada geram Rahmat mengatakan kepadanya bahwa pemerintah telah memberi anggaran pendidikan gratis. 
“Sekolah tidak diseharusnya memungut biaya apa pun kepada orang tua murid. Tapi kalau memang sekolah kekurangan anggaran kami tak keberatan membayar biaya daftar ulang dengan syarat sekolah membuat surat edaran yang distempel dan ditandatangani kepala sekolah,” ujar Rahmat dengan emosi meninggi. Rahmat ngotot meminta bertemu langsung dengan kepala sekolah.
Rahmat dan Hasan bukan hanya sahabat dekat biasa. Mereka satu kelas di sekolah menengah berjarak 20 kilometer. Terakhir bertemu dengan Hasan saat Rahmat mengantarnya di stasiun ketika Hasan mau berangkat ke Yogyakarta untuk mesantren dan melanjutkan kuliah beberapa hari setelah kelulusan. Beberapa bulan kemudian Rahmat pun meninggalkan desa. Bukan untuk meneruskan kuliah, melainkan bekerja serabutan di ibu kota. Di kota sana Rahmat bergabung dengan gerakan masyarakat miskin kota. Mereka masih saling berkirim kabar melalui surat hingga dua tahun pertama. 
Tahun ketiga Hasan kembali mengirim kabar dan mengundang Rahmat ke rumahnya saat lebaran. Namun Rahmat tak membalas. Rahmat enggan karena merasa ideologinya berseberangan. Tapi itu hanya dalih, alasan sesungguhnya Rahmat tak percaya diri bertemu dengan Hasan yang seorang mahasiswa terpandang sedangkan dirinya hanya buruh serabutan tanpa harapan.  Sejak itu mereka benar-benar putus kontak. Hasan berasal dari keluarga kyai terpandang di desanya; pemilik peternakan bebek dan hektaran sawah. Sejak mengenalnya Rahmat melihat hidup sahabatnya begitu mudah dan enak. Dan hal itu tampaknya terus dicecapnya hingga sekarang.
“Wah, sudah lama sekali ya kita tak bertemu,” ujar Hasan dengan keramahan yang sangat Rahmat kenal sejak dulu. Senyumnya mengembang. Melihat senyum itu sejujurnya membuat Rahmat sedikit bimbang. Tekadnya untuk membongkar praktik pungli di sekolah ini, perlahan redup. Menghadapi sahabatnya itu Rahmat justru terhanyut dalam kenangan masa remaja yang meski telah menjauh, makin menjauh, dan terus-terusan menjauh, namun justru makin jelas dan seakan baru kemarin terjadi.
Beberapa waktu kemudian baru terpikirkan oleh Hasan, apa sesungguhnya yang membuat hubungan persahabatannya dengan Rahmat dulu begitu dekat. Padahal seingatnya, mereka tidak memiliki kegemaran yang sama. Hasan banyak menghabiskan waktunya untuk mengaji dan kegiatan keagamaan, entah karena kepatuhan kepada orang tua atau lantaran merasa sebagai tanggungjawab dan kewajiban. Sementara Rahmat gandrung pada kesenian. Ia suka menulis sajak, bermain teater, dan kegiatan pramuka di sekolah. Ah, mungkin karena dia menjadi petugas perpustakaan yang ada di desanya, pikir Rahmat. Sementara Rahmat gemar ke sana untuk meminjam dan membaca buku.
Rahmat tak mungkin lupa, suatu hari sepulang sekolah ia tergopoh ke rumah Hasan. Meminta tolong sahabatnya meminjamkan mesin tik untuk mengetik sajak-sajak yang hendak dikirim ke koran lokal yang terbit di kota kabupaten. Kakak Hasan yang bekerja sebagai aparat desa, memudahkan ia meminjamkan mesin tik desa untuk Rahmat. Sampai hampir tengah malam Hasan terkantuk-kantuk menemani Rahmat mengetik sajak-sajak di kamarnya yang nyaman.     
Kakak perempuannya masuk membawakan teh dan pisang goreng. Nikmat sekali mengudap pisang goreng panas-panas di malam yang sunyi dan dingin. Halimah, demikian nama kakak perempuannya itu, duduk di antara mereka memperhatikan Rahmat mengetik. Seperti ibunya, Halimah perempuan lembut yang gemar memberi nasihat-nasihat agama. Rahmat jarang melihat bapak Hasan. Setiap Rahmat main ke rumahnya bapak Hasan selalu sibuk melayani tamu yang tak ada habis-habisnya datang dan pergi meminta air untuk kesembuhan si sakit, atau doa-doa keselamatan dan kesuksesan bagi orang yang mau berangkat jadi TKI keluar negeri.
Rahmat baru rampung mengetik sajak-sajak selepas tengah malam. Hasan sudah tertidur. Suasana sangat sepi. Tamu-tamu bapaknya tak ada yang tersisa lagi. Seusai memberesi hasil ketikan Rahmat langsung menyusulnya tidur dengan sedikit gugup dan lupa mengucapkan terima kasih. Pada hari yang lain Hasan ikut menemani Rahmat ke kota kabupaten untuk mengikuti lomba baca puisi. Rahmat hampir saja batal mengikuti lomba karena tak punya uang untuk ongkos bus ke sana. Hasan lagi-lagi yang membantu Rahmat. Sahabatnya itu meminjami Rahmat uang sekaligus mengantar dan memberinya semangat. 
Berangkatlah mereka naik bus ke kota kabupaten. Hasan membawa bekal yang lebih dari cukup. Bahkan ibunya membekali biskuit dan kue-kue lainnya lengkap dengan minuman kemasan botol yang dimasukannya dalam tas seakan mereka mau pergi jauh. Peserta lomba ternyata banyak sekali, membuat nyali Rahmat sedikit ciut. Peserta yang banyak menyebabkan lomba baru selesai seusai isya. Rahmat tak mendapat juara harapan sekalipun. Melihat Rahmat kecewa Hasan menghiburnya.
“Hutangmu tidak perlu bayar. Kuanggap lunas,” kata Hasan, melegakan Rahmat. Malam itu mereka tak bisa pulang. Bus jurusan ke kecamatan mereka hanya sampai pukul lima. Rahmat kebingungan memikirkan tidur di mana. Terbayang olehnya bakal tidur di trotoar atau emper toko. Tapi Hasan terlihat tetap tenang.
“Ayo jalan,” ajak Hasan. Tanpa banyak tanya Rahmat ikut saja dengan lesu. Menyusuri trotoar kota kecil mereka yang mulai senyap pukul sepuluh malam. Keluar masuk gang. Rahmat malas bertanya, mau ke mana. Langkah Hasan berhenti di depan sebuah rumah besar di kompleks perumnas.
“Ayo kita masuk. Ini rumah kenalan bapakku. Aku pernah diajak ke sini. Aku akan minta tolong untuk numpang nginap malam ini,” ujar Hasan.
**
“Masih menulis puisi?” ucap Hasan, agak mengejutkan Rahmat, “santailah, silakan diminum dulu.” Hasan berupaya mencairkan suasana.
Rahmat meraih air putih di depannya, lalu meminumnya seteguk untuk sekadar meredakan ketegangan seperti saran sahabatnya.
“Jadi anakmu murid kami. Wah, seandainya saya tahu…” kata-kata Hasan terputus sampai di sana. Rahmat menduga-duga apa lanjutan dan maksud kata-kata sahabatnya.
“Apa yang kamu katakan mungkin benar, tapi keputusan kami direstui kepala dinas. Dan mereka meminta jatah. Tidak hanya sekolah ini, tapi semua sekolah di kabupaten ini melakukannya” kata Hasan.
Sepanjang perjalanan pulang Rahmat dilanda kebimbangan oleh kata-kata sahabatnya itu. Kata-katanya terus menggema dalam pendengaran Rahmat. Hasan berjanji akan membebaskan anaknya dari beban biaya daftar ulang. Bahkan Hasan juga berjanji akan memberi beasiswa asalkan Rahmat tidak membocorkan perihal ini kepada orang tua murid yang lain, dan terutama media. Rahmat ingin melawan. Tapi ia tidak tahu cara melawan yang baik. Dan itu membuat Rahmat merasa tertekan.
**
“Kakek memang membebaskan putri sahabat kakek dari biaya daftar ulang yang sesungguhnya memang pungutan liar,” ujar Hasan, penuh sesal. Namun Rifki terlihat belum puas mendengar akhir kisah kakeknya. 
“Aib apa yang dilakukan Rahmat sehingga dia tidak melanjutkan niatnya membongkar praktik pungli yang dilakukan kakek dan pihak sekolah?”
Hasan menggelengkan kepala sembari bangkit ke halaman belakang rumahnya. Dia duduk di sana melanjutkan pekerjaan rutinnya setelah pensiun sejak belasan tahun lalu, memandangi bunga-bunga dan menyimak cericit burung piaraannya. Dia enggan mengungkapkan kepada cucunya apa sesungguhnya aib Rahmat. Mungkin akan selamanya Hasan simpan sendiri dalam benaknya peristiwa Rahmat terlibat pemerkosaan atas gadis bisu yang mengidap keterbelakangan mental bersama gengnya. Hasan mengancam akan membeberkan peristiwa ini kepada anak gadisnya apabila Rahmat tetap ngotot mau membongkar praktik pungli di sekolahnya.

Gondangdia, 17 Agustus 2015.  

cerpen ini pernah disiarkan Sumut Pos, 13 November 2016

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka