Ziarah Terakhir

Gambar dari duniaarwah.blogspot.co.id
Sudah saatnya Bardi menceritakan kisah rahasia antara ia dengan mendiang istrinya kepada mereka. Bardi tahu rahasia ini tidak penting untuk mereka ketahui. Tetapi ia merasa harus menceritakannya. Sore itu seusai membersihkan kuburan mendiang istrinya dari rumput alang-alang, Bardi berencana mampir ke rumah anak dan menantu tirinya yang berada di seberang kompleks perkuburan desa. Bardi berdiri dekat persilangan hendak menyeberang, ketika tiba-tiba sebuah sepeda motor yang dikendarai tiga remaja tanggung berlari kencang ke arahnya…
Dulu sebelum meninggalkan rumah ini 40 hari setelah istrinya meninggal, sepuluh tahun lalu, Bardi telah meminta maaf kepada anak dan menantu tirinya dan mohon diperkenankan sesekali datang menjenguk ke rumah ini untuk sekadar mengenang mendiang istrinya. Mereka tak sepenuh hati memaafkan Bardi, tetapi tak sampai hati mengusir laki-laki itu saban ia datang berkunjung.
Pada tahun pertama hampir saban Jumat Kliwon Bardi ziarah ke kuburan istrinya dan mampir ke rumah anak tirinya. Bardi akan berdiri lama memandangi setiap jengkal teras dan pekarangan sebelum mengetuk pintu. Anak tirinya akan muncul, dan menatapnya dengan bosan. Anak tirinya menyilakannya duduk di kursi teras dan memberinya segelas teh manis. Tak terjadi percakapan apa-apa selain ‘apa kabar’. Tahun-tahun berikutnya Bardi semakin jarang mampir lantaran merasa tak enak sendiri. Anak dan menantu tirinya mulai terlihat sebal mendapat kunjungan Bardi. Mereka tak lagi membuatkan teh. Lima tahun terakhir Bardi hanya setahun sekali ziarah ke makam mendiang istrinya, setiap lebaran.
Bardi tak punya pekerjaan, tepatnya pemalas. Ia selalu punya banyak waktu luang untuk duduk-duduk dan keluyuran dengan sepeda motor kebanggannya. Bardi menjalani pernikahan dengan perempuan itu lebih dari 20 tahun, dan selama itu ia menjadi serupa benalu. Anak dan menantu tirinya sangat membencinya. Setiap hari kegiatannya hanya mengelap-elap sepeda motornya yang sudah mengkilap, lalu duduk di teras rumah sambil merokok dan minum kopi seusai mengantar isterinya ke pasar subuh-subuh untuk mengurus toko warisan suami terdahulu. Sore hari Bardi keluyuran entah ke mana. Ia tak pernah sudi membantu menantunya membetulkan pagar halaman yang rusak, pekarangan yang kotor oleh serakan sampah dan guguran daun-daun mangga, saluran got yang mampat di belakang dapur, atau atap bocor karena ada genting yang pecah atau melorot.
Dengan santai, cuek saja Bardi duduk selonjor sembari menghirup kopi dan memandang pohon mangga di halaman. Dari mulutnya kadang terdengar siulan kepada burung-burung yang hinggap di dahan pohon mangga. Ia akan mengadukan kepada istrinya apabila anak atau menantu tirinya berani menyuruhnya membantu membereskan got mampat atau atap bocor. Itu pernah terjadi dan akibatnya ibu dan anak itu bertengkar hebat membela argumentasinya masing-masing. Anak beranak itu pun perang dingin, tak saling menegur beberapa lama.
Pertengkaran semacam itu kerap meletup sewaktu-waktu dengan penyebab yang kurang lebih sama. Itu yang membuat anak dan menantu tirinya makin memusuhi Bardi dari hari ke hari. Tetapi Bardi tak peduli bahkan terlihat makin jemawa karena merasa dibela oleh istrinya. Bardi bertemu perempuan itu di bioskop yang ada di kota kecamatan, demikian yang didengar anaknya dari cerita orang-orang. Yang mempertemukan mereka pemilik warung kopi yang merangkap warung remang-remang. Perempuan itu belum lama menjanda setelah ditinggal mati suaminya yang giat bekerja. Perempuan itu seperti penganut ‘hidup tanpa pasangan adalah penderitaan’. Begitu lepas masa idah, ia segera berburu laki-laki. Waktu itu anaknya yang memasuki masa akhir remaja kesal melihat ibunya seperti perempuan nakal.
Setelah beberapa kali pertemuan, perempuan itu menikahi Bardi dengan harta warisan suami pertama. Dengan harta warisan pula perempuan itu membiayai Bardi hidup berleha-leha. Anak dan menantu tirinya heran setengah mati, bagaimana ibu mereka begitu mencintai laki-laki itu. Padahal Bardi tidak tampan—bahkan bisa dikatakan jelek, tidak pintar, tidak pula banyak omong alias tidak pintar merayu. Tetapi ibunya bahkan selalu membelanya dan memperlakukannya seperti anak bungsu yang manja. Istilah cinta buta, seperti yang sering didengar dalam banyak syair lagu, menemukan wujudnya pada perempuan itu. Anak dan menantu tirinya curiga Bardi punya pengasihan, semacam pelet.    
Mereka tak jarang melihat ibunya yang kelelahan baru pulang dari pasar tergopoh-gopoh membuatkan sirup dan mengupaskan mangga untuk Bardi yang seharian nonton tivi dan membolak-balik majalah. Perempuan itu bahkan meminta maaf ketika Bardi mengomentari caranya mengupas mangga yang kurang mulus. Lalu Bardi sembari bersungut-sungut mengajari perempuan itu cara mengupas mangga yang baik, yaitu tanpa menyisakan sekelumitpun kulit mangga pada dagingnya. Gemas sekali anak dan menantu tirinya menyaksikan adegan itu. Ingin rasanya menempeleng dan membenturkan muka Bardi ke lantai. Tapi mereka tak bisa apa-apa. Semua kekesalan hanya ditelan dalam dada mereka yang semakin sesak oleh kemarahan.
Ketika anaknya mau membicarakan hal itu, perempuan itu langsung menyambar, “Tak usah mengajari orang tua. Kalian tak tahu apa-apa!”
Setiap kesempatan mereka memanjatkan doa supaya Bardi lekas mampus. Tertabrak truk ketika mengendarai motor. Namun doa mereka tak kunjung terkabul. Bardi justru makin segar bugar. Motornya malah ganti lagi, model Honda Scoopy. Tentu saja dari uang jerih payah ibunya berjualan kelontong di pasar.
“Aku mau ke kota, Mam, nonton drama. Bosan di rumah. Mami tak perlu ikut. Siapkan saja uang jajanku.” ujar Bardi, suatu sore.
“Pergilah, Pi. Kamu mungkin memang butuh hiburan. Bawakan oleh-oleh pulang nanti,” sahut perempuan itu sambil memasukkan uang ke saku kemeja Badri, tanpa bertanya-tanya lagi. Anak dan menantu tirinya yang mendengar percakapan itu dari ruang sebelah serasa ingin muntah. Mereka tak meneruskan makan. Perutnya mendadak kenyang oleh rasa muak. Begitu suara motor Bardi hilang ditelan jalanan, anaknya langsung protes kepada ibunya. Pertengkaran tak terelakan, pecah lagi.
Esoknya, ketika Bardi sedang duduk menikmati kopi seperti biasa. Anak dan menantu tirinya tak tahan lagi memendam kekesalan. Gara-garanya roda motor Bardi melindas pohon sirsak yang baru ditanam kemarin. Mereka bahu membahu mencaci-maki Bardi. Laki-laki itu bergeming dan menatap mereka dengan sorot mata campuran antara tak acuh, melecehkan, dan sedikit mengancam. Mereka sudah tak peduli lagi Bardi bakal mengadukan kejadian ini kepada istrinya yang pasti akan menyalakan kemarahan perempuan itu.
Dan itu benar-benar terjadi. Sepulang dari pasar, tanpa aba-aba apa pun ibu mereka langsung ngamuk seperti ular yang dilukai ekornya. Perempuan itu menendangi pot-pot bunga di teras hingga pecah bergelimpangan, mencabuti pohon pohon-pohon sirsak yang baru ditanam, mengobrak-abrik dan membuang buku-buku koleksi anak dan menantunya dari lemari ke halaman sambil mencaci maki. Puncaknya mengusir anak dan menantunya keluar dari rumah.
“Pergi kalian. Anak durhaka. Tak tahu sopan santun.”
Demi menjaga harga diri, apa boleh buat, anak dan menantunya benar-benar keluar dari rumah. Pindah dan mengontrak rumah milik tetangga sebelah. Berminggu-minggu anak beranak itu saling melengos bila berpapasan. Namun sesudahnya, menurut para tetangga, perempuan itu sering menangis, menyesali pengusiran itu. Para tetangga bilang, ibu meminta mereka kembali. Tapi anak dan menantunya enggan kembali. Mereka bilang tidak akan kembali sebelum Bardi keluar dari rumah itu.
Sekalipun begitu anak dan menantunya diam-diam terus memantau perkembangan ibu mereka. Hari ke hari ibu terlihat makin kurus. Utangnya mulai numpuk. Mereka merasa iba dan ingin kembali, tapi mereka merasa gengsi, dan terutama malas repot bolak balik mengangkut barang-barang. Sampai suatu hari para tetangga berteriak memangilnya, memberi tahu mereka darah tinggi ibu kambuh. Perempuan itu jatuh begitu turun dari becak.
Mereka lalu membawa ibu ke rumah sakit. Tiga hari kemudian ibu meninggal di ruang ICU. Pembuluh darahnya pecah. Ketika menjelang koma sebelum ajal menidurkannya untuk waktu yang terbatas, perempuan itu berpesan kepada anak dan menantunya supaya Bardi tetap tinggal bersama mereka dan mengurus laki-laki itu. Bardi baru muncul ketika jasad istrinya siap diusung ke pemakaman. Laki-laki itu menangis di sisi keranda mendiang istrinya.
**
Bardi meraba pusara yang dilapisi lumut yang menebal menutup pahatan nama perempuan yang sangat mencintainya itu. Bardi membersihkan lapisan lumut dari permukaan pusara seperti menggosok dan memunculkan kembali secara lebih terang ingatan kepada pertemuan pertamanya dengan perempuan itu.
Pertemuan pertama mereka sama sekali bukan di gedung bioskop. Dan pemilik warung remang-remang itu tak pernah mempertemukan mereka. Semua telah direncanakan Bardi. Saat itu ia baru pulang dari perantauan. Ia telah menyurati Ramini untuk rencana pertemuan mereka di depan warung seberang bioskop.
“Bardi, kau benar-benar kembali,” ujar Ramini, gugup campur bahagia. Lama sekali memang Bardi meninggalkan desanya, tepatnya meninggalkan orang tuanya untuk apa yang ia sebut mengejar impian menjadi pemain drama. Cinta menggebu Ramini tak dapat menahan Bardi.
Ramini sejak remaja tinggal bersama keluarga Bardi sebagai pembantu. Gadis itu hanya satu dari sekian pembantu di rumah juragan bawang paling terpandang di desanya itu. Entah kebetulan atau tidak, sepeninggal Bardi, orang tuanya perlahan-lahan jatuh bangkrut. Namun Ramini tetap tinggal bersama mereka tanpa dibayar dengan harapan Bardi akan kembali dan menikah dengannya.
Sekian lama menunggu, namun Bardi tak kunjung kembali. Akhirnya Ramini melupakan cinta pertamanya dan menikah dengan putra saudagar bawang dari desa sebelah. Rumah tangga mereka berjalan tanpa hambatan yang berarti. Menghasilkan seorang anak yang sehat dan memperkokoh ikatan perkawinan. Namun, ketika anak Ramini tumbuh remaja, ia mendengar Bardi kembali dari perantauan. Kepulangan Bardi bukan untuk Ramini. Tapi perempuan itu diam-diam menemuinya. Ia mencegatnya di pinggir desa ketika Bardi hendak kembali berangkat entah ke mana. Dengan dendam rindu yang menggebu mereka ngobrol panjang sekali di warung makan, di dermaga tua, di tepi gerumbul bakau.
“Ramini, pulanglah. Aku mau berangkat sekarang. Nanti kusurati kamu.”   
Surat yang dijanjikan Bardi datang belasan tahun kemudian untuk janji pertemuan mereka di warung seberang gedung bioskop. Waktu itu, entah kebetulan atau tidak, Ramini telah menjanda. Itulah rahasia yang tak sempat Bardi ceritakan kepada anak dan menantu tirinya. Bardi tak sempat menghindari sepeda motor yang dikendarai tiga remaja tanggung berlari kencang ke arahnya. Bardi terpental dan jatuh dengan kepala membentur tembok pembatas kuburan.

Cirebon, Agustus 2016

Cerpen ini pernah disiarkan Media Indonesia, Minggu 6 November 2016

Comments