Posts

Showing posts from December, 2016

Ketabahan Perempuan Melawan Ketertindasan

Image
Membaca cerita-cerita Yetti A.KA rasanya agak sulit tanpa mengaitkannya dengan isu perempuan. Bukan semata lantaran Yetti seorang perempuan, melainkan cerita-cerita Yetti begitu kuat menyuarakan persoalan perempuan. Pada sistem budaya patriarkhi, kita tahu, perempuan diletakkan di posisi kedua. Secara sosio-ekonomi, politik, hukum, dan agama, perempuan acapkali sekadar menjadi pelengkap penderita. Lembaga-lembaga publik dan undang-undang negara yang seharusnya melindungi seluruh warganya secara setara, justru turut melemahkan perempuan. Dalam situasi yang serba sulit, ia rentan menjadi pihak yang pertama kali dikorbankan. Kekerasan yang kerap menimpanya kemudian diterima sebagai kewajaran. Tragisnya, ketidakberdayaan dan pelemahan yang dialami perempuan seolah-olah takdir yang diberikan semesta (given). Persoalan ketertindasan perempuan oleh sistem ini disuarakan Yetti A.KA.

Penawaran Iklan

Image
Dia menatapku dengan bosan dan ragu. Menawariku minum dengan sorot antara merasa iba, malas, tapi juga sedikit nakal. Ekspresi yang sudah sering kulihat dari para marketing komunikasi perusahaan yang kudatangi. Map berisi paket penawaran iklan ditutupnya. Hm, baiklah. Aku meraih cangkir teh dan menyesapnya perlahan, dan memikirkan hal-hal terbaik yang pernah kumiliki dalam hidupku. “Oplah koran kami terbesar kedua di negeri ini. Kami memiliki 250 ribu pelanggan. Produk perusahaan Bapak bisa langsung dikenal 250 ribu orang plus keluarga mereka,” ujarku, dengan nada merayu tapi kuupayakan betul-betul tetap elegan. Dan kukira aku berhasil.

Novel Natal Wendo

Image
Mungkin kebetulan mungkin juga tidak, bulan Desember ini saya mendapat novel bertema Natal. Barangkali kurang tepat dikatakan demikian, karena novel ini ternyata tidak hanya menyinggung soal Natal. Tetapi sekurangnya setting waktu novel ini berada di sekitar Natal dan ada adegan perayaan Natal, Sinterklas bagi-bagi hadiah dan semacamnya.  Judulnya Horeluya (nampaknya plesetan dari Haleluya atawa Puji Tuhan dalam bahasa Ibrani), besutan Arswendo Atmowiloto (Wendo).  Selain menyinggung soal Natal, Wendo  menyoal takdir, Tuhan, keserakahan, bahkan identitas seksual.
Ceritanya tentang keluarga muda Johanes Kokrosono (Kokro) dan Maria Ludwina Ecawati (Eca). Pasangan ini memiliki seorang putri Teresa Lilin Sekartaji (LIlin). Di rumah mereka ikut tinggal Elizabeth Stefani alias Mbak Ade (adik Eca) dan Nayarana atau Naya (adik Kokro). Hidup mereka baik-baik saja. Dalam arti berjalan mulus, rukun, bahagia, sebelum Lilin didiagnosa mengidap penyakit sumsum tulang belakang. Lilin butuh donor dara…

Menjenguk Kampung Literasi di Gorontalo

Image
Buku kritik sastra Perlawanan Tak Kunjung Usai, Sastra Politik Dekonstruksi karya DR Faruk terlihat ganjil berada di antara buku cerita anak-anak, budidaya tanaman herbal dan hewan ternak, biografi tokoh politik lokal, bahkan buku katalog. Sambil membuka-buka sekilas, aku berpikir siapa yang membaca buku kritik sastra di rak kusam di dalam wombohe di Daenaa, sebuah desa kecil di pedalaman Gorontalo, Sulawesi. Pikiranku boleh jadi terlalu naïf, menganggap orang kampung terpencil tidak gemar membaca buku kritik sastra. Baiklah, lupakan kenaifanku. Mari kita lihat wombohe. Dalam bahasa masyarakat Gorontalo, wombohe merujuk pada bangunan kecil semacam gardu yang kita kenal dalam masyarakat di pulau Jawa. Wombohe itu berukuran sekitar 3 x 4 meter yang terbuat dari bambu dan kayu serta beratap rumbia yang sederhana. Di dalamnya bangku dan meja panjang, serta rak buku bertinggi hanya 1,5 meter dan lebar semeter. Tidak sampai separuhnya terisi buku.

Membuat Cerita dari Cinta, Seks, dan Kekerasan

Image
Dalam suatu perjalanan ke Bali bersama rombongan pewarta, saya melihat seorang anak muda tekun sekali membaca buku tebal. Dia khusyu membaca di tengah keriuhan suara orang mengobrol dan cekakan di lounge Bandara Soekarno Hatta. Saya selalu penasaran sekaligus kagum melihat orang membaca buku di tempat umum, mengingat belakangan pemandangan ini makin langka. Gawai dan internet telah menggeser durasi orang menonton televisi dan terutama membaca buku. Maka saya mendekati anak muda ini untuk mengintip buku apa kiranya yang sedang dia baca. Rupanya novel Burung Burung Manyar-nya YB Mangunwijaya. Ketika sampai di Nusa Dua, tak disangka anak muda ini satu kamar hotel dengan saya. Dia berperawakan tinggi ramping dengan rambut agak gondrong ikal. Kacamata minus yang bertengger di pangkal hidungnya membuat tampangnya terlihat serius. Suaranya lirih dan hati-hati saat membuka percakapan. Rupanya selain pewarta dia gemar menulis cerita fiksi. Anak muda ini Rahardian Shandy. Tapi dia lebih suka dis…

(Tak) Lebur dalam Alunan Orkes Simfoni

Image
Beberapa pekan lalu aku batal menyaksikan konser orkes simfoni Twilite Orchestra lantaran harus ke Gorontalo. Padahal seminggu sebelumnya aku sudah mengiyakan, bahkan mewawancarai Addie MS, pimpinan Twilite Orchestra, untuk datang meliput konser yang menandai ulang tahun orkes simfoni Twilite Orchrestra yang ke 25. Aku mewawancarai Addie untuk tulisan di majalah internal sebuah bank. Dalam wawancara itu Addie banyak mengungkapkan keprihatinannya tentang negara yang kurang peduli terhadap kebudayaan.  Dia bercerita bahwa sebagai konduktor orkes simfoni Twilite Orchestra, dirinya kerap harus merangkap menjadi marketing guna mencari sponsor ketika hendak menggelar konser.

Nasihat dari Hasyim Asy’ari

Image
Belajar apa pun bukan perkara mudah. Belajar sesuatu yang kau sukai sekalipun tidak mengurangi fakta bahwa bermalas-malasan, nonton sinetron sambil sms-an jauh lebih sedap. Belajar tidak cukup hanya dengan mengorbankan kesenanganmu leyeh-leyeh. Itu yang senantiasa saya nasihatkan kepada sulungku yang tahun ini memasuki jenjang baru kehidupannya: menjadi mahasiswa. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, dalam buku biografi beliau “Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan” karya Zuhairi Misrawi, menasihatkan bahwa seorang pembelajar harus membersihkan hati dari segala keburukan, dengki, dan akhlak yang jelek. Seorang pembelajar harus mempunyai niat yang tulus dalam mencari ilmu, terutama dalam rangka mengharap ridha Tuhan, membangkitkan syariat, mencerahkan hati, menghiasi batin, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sangat berat memang meneguhi moralitas semacam itu. Jangan heran tidak sedikit dari mereka yang putus sekolah di tengah…