Ketabahan Perempuan Melawan Ketertindasan

Model oleh Ricky Mahfudin
Membaca cerita-cerita Yetti A.KA rasanya agak sulit tanpa mengaitkannya dengan isu perempuan. Bukan semata lantaran Yetti seorang perempuan, melainkan cerita-cerita Yetti begitu kuat menyuarakan persoalan perempuan. Pada sistem budaya patriarkhi, kita tahu, perempuan diletakkan di posisi kedua. Secara sosio-ekonomi, politik, hukum, dan agama, perempuan acapkali sekadar menjadi pelengkap penderita.
Lembaga-lembaga publik dan undang-undang negara yang seharusnya melindungi seluruh warganya secara setara, justru turut melemahkan perempuan. Dalam situasi yang serba sulit, ia rentan menjadi pihak yang pertama kali dikorbankan. Kekerasan yang kerap menimpanya kemudian diterima sebagai kewajaran. Tragisnya, ketidakberdayaan dan pelemahan yang dialami perempuan seolah-olah takdir yang diberikan semesta (given). Persoalan ketertindasan perempuan oleh sistem ini disuarakan Yetti A.KA.
Suara perempuan dalam cerita-cerita Yetti A.KA di buku kumpulan cerpen terbarunya Seharusnya Kami Suda Tidur Malam Itu memang tidak terdengar serupa gugatan yang meledak-ledak. Bahkan suara itu sayup saja karena ia mengungkainya dengan narasi yang lembut menyusup dan alur yang bergerak dalam pikiran. Kisah-kisahnya berlatar peristiwa pergolakan perang pemberontakan, ada unsur mistik, drama thriller, atau sekadar tentang bocah perempuan yang terlambat tidur, menunggu hujan selesai, dan peristiwa-peristiwa biasa lainnya. Namun cara itu jutru menjadi gema di kedalaman.
Cerpen Harimau di Meja Makan, misalnya. Cerita ini mengetengahkan istri seseorang korban eksekusi mati gara-gara dituduh menyembunyikan tentara hutan, sebutan untuk tentara pemberontak PRRI. Kekuatan mistik yang dimiliki keluarganya secara turun temurun muncul dalam wujud harimau yang datang memberi isyarat kepada Maina tentang eksekusi mati yang dijatuhkan kepada Malka, suaminya. Maina ingin tabah dan tetap tenang seolah tak terjadi apa-apa dengan cara mengajak anak-anaknya makan bersama tepat saat Malka dieksekusi mati.   
Harimau di Meja Makan menyodorkan sosok perempuan yang tabah kepada kita. Perempuan yang mampu menyembunyikan ketercabikan hatinya di depan anak-anak yang harus dilindunginya dari kesedihan. Ia tak mau meratap demi keutuhan hati anak-anaknya. Ketabahan Maina juga ketabahan aku dalam cerpen Wol Merah. Aku narator adalah korban laki-laki yang tidak bertangungjawab. Aku hamil tanpa suami. Ibunya sendiri korban kekerasan dalam rumah tangga (KdRT).
Dalam cerpen Sirkus, kita mendapati Simu, seorang anak perempuan yang tinggal bersama ibunya. Ia tidak merasa perlu meratapi ayahnya yang meninggalkan mereka. Kegembiraan dikaisnya dari kedatangan rombongan sirkus yang selalu ditunggunya di lapangan desa. Kepada saudara tirinya Simu berkata, “Hidup yang beruntung adalah ketika seseorang tahu cara membuat dirinya berbahagia di saat orang lain berpikir kalau itu terlalu mustahil.” (hal 61).
Model dan modal perlawanan tokoh-tokoh perempuan Yetti dengan kekuatan ketabahannya juga bergerak melalui kisah anak perempuan dalam cerpen Rama Rama Merah. Silir, bocah korban kerusuhan sosial yang hidup dalam ilusi rama rama merah untuk bertahan dari kegilaan. Silir membayangkan rama rama merah sebagai jelmaan ibunya yang tewas dicabik-cabik puluhan lelaki dalam perjalanan menyelamatkan lari ke hutan.
Ketabahan perempuan dengan wujud lain muncul pada sosok saya, perempuan kesepian dalam cerpen  Ia Tidak Boleh Beranjak Besar. Saya yang kesepian karena sering ditinggal suaminya lama kelamaan menemukan ketenteraman justru dalam kesepiannya. Kedatangan suaminya alih-alih membuatnya tenteram, justru melenyapkan kebahagiaannya.
Bentuk perlawanan tokoh-tokoh perempuan dalam cerita-cerita Yetti A.KA menegaskan betapa kekuataan perempuan justru terdapat pada kelembutan dan kelemahannya. Tetapi, tidakkah ini makin menguatkan ketakberdayaan perempuan di hadapan laki-laki? Yetti membantahnya melalui Salgi, perempuan yang kita temui dalam cerpen Tubuh yang Dikerubungi Semut. Salgi, perempuan yang dengan kecantikannya menjadi sumber dengki masyarakat. Ia yang memperdaya Bogo. Lelaki itu terjerat cinta mati kepada Salgi bahkan ketika Salgi sekarat selama 20 tahun. Bogo menunggu kesembuhan Salgi hingga ajal merenggut kedua anak manusia ini.
Perlawanan dengan cara bersiasat menggerakkan alur kisah Sophia, istri simpanan Residen Parr pada masa kolonial Inggris dalam cerpen Malam Bau Mawar. Sophia bersekongkol dengan para preman membunuh  Residen Parr di rumahnya. Sophia tipikal perempuan yang dilemahkan akhirnya meledak melawan dengan cara yang fatal dan terduga.
Jalan perlawanan Sophia jelas berbeda dengan perlawanan yang ditempuh Malina, perempuan yang sangat dicintai Goris dalam cerpen Tutuplah Pintu, Penyair Goris. Malina seperti hendak membalaskan sakit hati sederet perempuan yang pernah dicintai kemudian dicampakkan Goris. Malina bercinta dengan Goris, tetapi Malina tak sudi menyerahkan seluruh hatinya kepada penyair mantan barista itu. Malina meninggalkan Goris yang terus menantinya tanpa kepastian. Perempuan itu tegas berkata; “Kau lupa aku hanya memberikan limapuluh persen saja dari hatiku untukmu, selebihnya….” (hal.166)
Namun, Yetti juga tampak tidak sepenuhnya tabah melawan. Kadang ia jatuh dalam stigma perempuan adalah mahkluk tak berdaya dan cenderung mengedepankan emosi. Dalam Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu, cerpen yang membuhul buku ini. Mag, gadis yang merasa diasingkan keluarganya gara-gara mengetahui rahasia bahwa dirinya hanya bayi yang dulu ditemukan di depan pintu, menjadi pemurung dan mencoba bunuh diri. Lebih fatal lagi terjadi pada Luisa dalam Pengakuan Luisa tentang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri. Perempuan pengarang yang berasal dari keluarga berantakan ini mati bunuh diri gara-gara patah hati oleh laki-laki beristri. Cerita dituturkan tokoh di dalam cerita yang ditulis Luisa.
Perempuan-perempuan dalam cerpen Yetti adalah perempuan-perempuan malang yang cenderung introvert, impulsif. Sikap perlawanan yang tempuh Yetti terhadap dominasi laki-laki jelas berbeda dengan sebutlah antaranya Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Tiga pengarang ini melawan dominasi laki-laki dengan tubuhnya.
Demikian pula laki-laki yang berhubungan dengan mereka. Goris pada Tutuplah Pintu, Penyair Goris; Satire pada Mereka Berburu Lalat, dan; Mahio pada Sebatang Pohon Mahio. Mereka adalah laki-laki melankolis.
Sikap melawan Yetti jelas dipilih dengan penuh kesadaran. Dalam sebuah perbincangan Yetti secara tegas mengatakan, sebagai seorang (yang merasa) feminis, ia ingin menulis dunianya dengan perspektif feminisme dan dilakukan secara sadar dan sebagai bagian dari memperjuangkan kesetaran jender. Tetapi Yetti juga berbeda dengan pengarang feminis klasik, seperti Sutan Takdir Alisjahbana (kita tahu pengarang feminis banyak di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan sebaliknya, banyak perempuan pengarang justru melestarikan dominasi laki-laki) yang begitu lantang dan propagandis menggugat dominasi laki-laki melalui roman Layar Terkembang (1930). Yetti secara sadar menghindari propaganda. 
data buku
Judul:  Seharusnya Kami Suda Tidur Malam Itu • Penulis: Yetti A.KA • Penerbit Basabasi•  Cetakan:  I, November 2016 • Tebal : 172  halaman

resensi ini pernah disiarkan Jawa Pos, Minggu 25 Desember 2016

Comments