Membuat Cerita dari Cinta, Seks, dan Kekerasan

Model oleh Delisa
Dalam suatu perjalanan ke Bali bersama rombongan pewarta, saya melihat seorang anak muda tekun sekali membaca buku tebal. Dia khusyu membaca di tengah keriuhan suara orang mengobrol dan cekakan di lounge Bandara Soekarno Hatta. Saya selalu penasaran sekaligus kagum melihat orang membaca buku di tempat umum, mengingat belakangan pemandangan ini makin langka. Gawai dan internet telah menggeser durasi orang menonton televisi dan terutama membaca buku. Maka saya mendekati anak muda ini untuk mengintip buku apa kiranya yang sedang dia baca. Rupanya novel Burung Burung Manyar-nya YB Mangunwijaya.
Ketika sampai di Nusa Dua, tak disangka anak muda ini satu kamar hotel dengan saya. Dia berperawakan tinggi ramping dengan rambut agak gondrong ikal. Kacamata minus yang bertengger di pangkal hidungnya membuat tampangnya terlihat serius. Suaranya lirih dan hati-hati saat membuka percakapan. Rupanya selain pewarta dia gemar menulis cerita fiksi. Anak muda ini Rahardian Shandy. Tapi dia lebih suka disapa Bo. Dia sudah menulis sebuah novel dan sejumlah cerpen. Namun sebagian besar masih tersimpan di file komputer pribadinya. Bo belum berani menyiarkannya untuk umum. Saya menyarankan mengirimkan karyanya ke penerbit dan media. Dia menyebut beberapa nama pengarang top Indonesia terkini yang dia gemari. Belakangan dia sedang membaca novel-novel pengarang Indonesia klasik.
Beberapa bulan sesudah pertemuan itu Bo mengirim beberapa cerpennya ke surat elektornik saya. Minta dikomentari. Sejak itu kami sering kontak, ngobrol tentang dunia penulisan fiksi. Beberapa bulan berikutnya dia meminta saya menulis endorsement untuk buku kumpulan cerpennya. Selang mungkin tiga atau empat bulan kemudian dia mengirimiku buku kumpulan cerita karyanya: “Mariana, Perempuan yang Selalu Menolak Cinta”, diterbitkan oleh Indi Book Corner, Yogyakarta. 
Rahardian Shandy meramu seks, cinta, dan kekerasan untuk cerita-ceritanya yang  dihimpun dalam buku ini. Tampaknya dia mengamalkan resep yang antara lain pernah diwejangkan Seno Gumira Ajidarma bahwa cerita yang digemari banyak pembaca adalah yang meramu cinta, seks, dan kekerasan. Resep ini berlaku juga bagi penciptaan karya seni lain seperti film, drama, lukisan, patung, tari bahkan mungkin juga puisi. Tiga unsur ini mudah memancing  atau menggugah keingintahuan pemirsa.
Pemirsa atau kita semua agaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kekerasan, cinta, dan terutama seks. Tiga unsur ini bahan utama yang membentuk kebudayaan kita. Ingatlah sabda psikoanalisis Sigmund Freud yang mengatakan bahwa tidak ada motif yang lebih valid yang menggerakkan tindakan manusia selain insting libido atawa hasrat seks.
Mariana, dalam cerpen “Mariana, Perempuan yang Selalu Menolak Cinta” yang dijadikan judul kumpulan cerita ini mengalami kekerasan seksual tak terperi. Kekerasan yang menyisakan gurat panjang dalam relung jiwanya; sebuah gurat traumatik yang membuatnya membenci laki-laki serta membuka peluang bagi gadis ini bunuh diri. Ironisnya, pelaku pemerkosaan tak lain ayahnya sendiri. Trauma yang dialami Mariana makin parah ketika Batara, satu dari sekian banyak pemuda yang  ia tolak cintanya, mencoba memperkosanya.
Kekerasan seksual juga menimpa Nur dalam cerpen “Sepasang Mata di Balik Kegelapan”. Nur, yang sikap dan kecantikannya telah menaklukan dan mengubah jalan hidup seorang preman bernama Topan, mengalami perampokan dan pemerkosaan oleh Codet, preman yang merupakan saingan Topan. Mengetahui bahwa Codet pelaku kekerasan kepada Nur, Topan mengejar Codet. Keduanya terlibat pertikaian yang berakhir dengan kematian.
Kekerasan juga menimpa sepasang anak gelandangan dalam cerpen “Sesal”. Kekerasan pertama datang dari kedua orangtua mereka yang begitu saja meninggalkan kedua anaknya pada suatu malam. Kekerasan kedua diterima kedua bocah ini dari preman yang memperalatnya menjadi pengemis yang harus membayar setoran saban hari dalam jumlah tertentu sebagai upah dari perlindungan yang diberikan si preman.
Sejatinya seluruh kekerasan yang dialami kedua bocah gelandangan ini, apabila kita merujuk kepada perspektif sosiolog Johan Galtung, bersumber dari negara yang telah menelantarkan mereka. Karena dalam undang-undang disebutkan bahwa gelandangan dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Bagi sosiolog kelahiran Oslo, Norwegia, 24 Oktober 1930, itu, kekerasan bisa muncul jika manusia dipengaruhi sedemikian rupa, sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya.
Sedangkan unsur cinta juga jelas melekat kepada alur ketiga cerpen di atas. Pada cerpen yang pertama, cinta hadir dalam bentuk yang menakutkan, dan akhirnya beralih rupa menjadi kekerasan. Pada cerpen kedua cinta mewujud dalam kasih sayang yang mampu mengubah seseorang dari kebiasaan buruk pindah ke kebiasaan baik.  Sedangkan pada cerpen ketiga cinta muncul dari bocah gelandangan yang ingin melindungi adiknya dari hajaran si preman.
Unsur cinta dominan hadir di cerpen “Akhir Riwayat Tarman”. Tarman merelakan tubuhnya dimangsa seekor hiu demi menggenapkan cintanya kepada sang kekasih yang ia yakini berubah wujud menjadi seekor hiu. Pada masa mudanya Tarman adalah seorang pemburu hiu yang tangguh dan terkenal di sepanjang daerah pantai di pulau itu. Namun ironisnya, ia tak mampu menyelamatkan kekasihnya yang hilang dimangsa hiu di laut. Peristiwa itu memberi pukulan telak bagi Tarman; ia merasa bersalah dan itu mendorongnya berhenti dari profesinya sebagai pemburu hiu. Untuk menebus rasa bersalahannya Tarman menjadi penjaga kakus umum di pasar. Suatu hari pantai itu dihebohkan dengan kemunculan hiu yang begitu ganas. Tarman datang menemui hiu ganas itu untuk menyerahkan tubuhnya dimangsa sang hiu untuk menggenapkan cintanya.   
Cerpen “Sumpah Cinta Mati” menghadirkan cinta yang menyeramkan. Sekelompok pemuda resah gara-gara mengucap sumpah cinta mati kepada gadis pujaan mereka. Pasalnya kematian benar-benar datang menyeret mereka satu persatu tatkala gadis pujaan mereka mati. Cerpen “Sumpah Cinta Mati” hadir dalam bentuk semacam horor atawa thriller dan tentu saja magis. 
Apakah resep cinta, seks, dan kekerasan yang diamalkan Rahardian Shandy dalam cerpen-cerpennya berhasil menghadirkan kisah yang mengundang rasa penasaran pembaca, mengandung keasyikan membaca? Beberapa boleh dikatakan cukup berhasil. Sebagian lainnya apa boleh buat hampir saja gagal. Apa yang membuat resep itu tak ampuh menjadikan cerita-cerita di buku ini enak dinikmati? Banyak faktor, mulai dari cara bertutur, penyusunan kalimat yang kurang cakap, dan motif tindakan serta pikiran tokoh-tokohnya.
Kerancuan kalimat
Namun bagi saya, hal yang paling mengganggu adalah penyusunan kalimat. Perhatikan kata ’terkadang’, ‘kerap’, dan ‘jika’ pada kalimat ini:  Terkadang, hal itu membuatku kerap berpikir jika Mariana tak ubanya wanita dengan sejuta sihir yang hidup dari masa lalu,….(cerpen “Mariana, Perempuan yang Selalu Menolak Cinta” hal 154). Kata ’terkadang’, ‘kerap’, dan ‘jika’ dalam kalimat tersebut bukan saja tidak efisien, tapi juga menimbulkan kerancuan makna.
Kerancuan dalam penyusunan kalimat, terutama karena kekeliruan penempatan kata ‘jika’ dan ‘bila’ bertebaran nyaris di semua cerpen. Beberapa di antaranya saya kutipkan di sini: 
Lagi-lagi, Rustam mengatakan bila ia tidak tahu bagaimana cara mengajarkan Lara melakukan hal itu; dan Dan sampai kabar tersebut disiarkan, penyiar itu memastikan jika tak ada seorang pun warga di desa tersebut yang ditemukan selamat.  (Cerpen “Dunia Mimpi dan Bualan”, hal. 38);
.…. Itulah yang kusadari ketika kau terlahir di jiwa Comel sesaat setelah Vicky mengatakan jika ia sudah memliki seorang kekasih. (Cerpen “Membunuh Cemburu”, hal 48);
Tetapi keluarganya percaya bila Kalimi mati dengan tenang. (Cerpen “Sumpah Cinta Mati”,  hal 59);
Masih nyata betul di benak Wisnu bagaimana kemudian menyadari bila kedua orang tuanya telah pergi meninggalkanya. (Cerpen “Sesal”, hal 70);
Ia mengatakan kepada Laras bila tak perlu malu dengan kekurangan itu. (Cerpen ”Budak Cinta”: hal 132);
Rusman tak menampik bila ia sudah telanjur kepincut pada gadis belanda itu sejak pandangan pertama. (Cerpen “Rindu Tak Sampai dan Sejarah yang Tak Termaktub, hal 78);
Tahu bila tak sedang ditipu, maka tanpan berpikir panjang ia pun lekas menangkast kaki dari persembunhiannya yang berada di pinggirna ibukota. (Cerpen “Hari Pembebasan”, hal 111);
Kerancuan kata ‘jika’ dalam kalimat-kalimat tersebut bermakna peristiwa yang dijelaskan tidak atau belum terjadi, padahal peristiwa yang dimaksud sudah terjadi. Kerancuan penggunaan ‘jika’ juga melanda pada karya-karya jurnalistik sejumlah media on line dan televisi ita. Kata ‘jika’ di sana sebenarnya adalah ‘bahwa’. Tetapi entah kenapa ‘bahwa’ tidak populer digunakan dan berubah jadi ‘jika’.
Saya temui pula kalimat semacam ini:…., maka enam bulan berselang mereka pun memutuskan mengadopsi seorang bocah untuk dijadikan anak. (Cerpen “Ingin Punya Adik”: hal 151). Kalau kita hapus tiga kata terakhir, susunan kalimat jadi efisien dan jelas. Begitulah. Kiranya Rahardian Shandy harus lebih giat belajar menyusun kalimat dengan benar. Lebih dari itu, yang mengherankan saya adalah di manakah peran editor Indi Book Corner yang telah menerbitkan buku ini.
Data Buku
Judul:  Mariana, Perempuan yang Selalu Menolak Cinta, 2016) • Penulis: Rahardian Shandy • Penerbit:  Indie Book Corner •  Cetakan:  I,  2016 • Tebal : x + 167 halaman

Comments

Wohoo!!! Terima kasih banyak Mas Aris atas resensi buku saya! Untuk yang penasaran dan mau membacanya sila pesan di sini: http://www.bukuindie.com/buku/sastra/novel/mariana/ Segera pesan sebelum kehabisan stok ;))