Menjenguk Kampung Literasi di Gorontalo

Dusun 4, Desa Daenaa, Limboto Barat, Gorontalo
Jumat (18/11/2016)
Buku kritik sastra Perlawanan Tak Kunjung Usai, Sastra Politik Dekonstruksi karya DR Faruk terlihat ganjil berada di antara buku cerita anak-anak, budidaya tanaman herbal dan hewan ternak, biografi tokoh politik lokal, bahkan buku katalog. Sambil membuka-buka sekilas, aku berpikir siapa yang membaca buku kritik sastra di rak kusam di dalam wombohe di Daenaa, sebuah desa kecil di pedalaman Gorontalo, Sulawesi. Pikiranku boleh jadi terlalu naïf, menganggap orang kampung terpencil tidak gemar membaca buku kritik sastra.
Baiklah, lupakan kenaifanku. Mari kita lihat wombohe. Dalam bahasa masyarakat Gorontalo, wombohe merujuk pada bangunan kecil semacam gardu yang kita kenal dalam masyarakat di pulau Jawa. Wombohe itu berukuran sekitar 3 x 4 meter yang terbuat dari bambu dan kayu serta beratap rumbia yang sederhana. Di dalamnya bangku dan meja panjang, serta rak buku bertinggi hanya 1,5 meter dan lebar semeter. Tidak sampai separuhnya terisi buku.
Pada Kamis siang, 17 November 2016 yang terik, wombohe itu terlihat sepi. Menurut Hi Garai Uno, Ketua Kampung Literasi Gemilang, anak-anak dan masyarakat Desa Daenaa pada pagi hingga siang hari berada di sekolah untuk belajar dan ladang pertanian untuk bekerja. Menjelang sore, selesai beraktivitas di sekolah dan ladang, barulah mereka berdatangan ke Wombohe Garda Baca Gemilang.
Namun hingga bayangan kami memanjang di tanah, tak terlihat jua anak-anak dan ibu-ibu yang datang ke wombohe untuk membaca buku selain seorang ibu dan anaknya yang menjaga wombohe. Garai Uno menuturkan, anak-anak kebanyakan memilih buku cerita, sementara ibu-ibu memilih buku-buku yang bertema budidaya. Mungkin karena pilihan buku yang disediakan sangat terbatas dan itu itu juga.
Aku meraba dada, seolah ingin memeriksa perasaanku merespons suasana di Wombohe Garda Baca Gemilang 4, Kampung Literasi Gemilang di Dusun 4, Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Aku menemukan semacam haru, sepi, yang muncul oleh perasaan ditinggalkan bersamaan dengan harapan untuk menaklukan. Entah menaklukan apa.
Rommy kepala SKB Kabupaten Gorontalo (kiri) dan
Hi Garai Uno, Ketua Kampung Literasi Gemilang
Kampung Literasi binaan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Gorontalo membangun apa yang disebut Wombohe Garda Baca Gemilang untuk berbagai kegiatan: workshop, tutorial, penyuluhan, termasuk membaca bagi anak-anak dan masyarakat di sejumlah titik strategis. Desa Daenaa sendiri terdiri dari tujuh dusun. Dusun 4 letaknya paling jauh, sekitar 10 kilometer dari pusat desa. Berada di antara bukit dan lembah. Wombohe Garda Baca Gemilang 4 melingkupi Dusun 4 dan Dusun 5. Seharian itu aku ditemani kepala SKB Kabupaten Gorontalo dan Garai Uno mendatangi satu persatu Wombohe Garda Baca Gemilang.
Garai Uno senantiasa melibatkan kepala dusun guna turut mengurus Wombohe Garda Baca Gemilang serta menggerakkan masyarakat untuk aktif dalam setiap kegiatan yang diinisiasi Kampung Literasi. “Alhamdulillah dalam mengajak masyarakat untuk  berkegiatan saya tidak mengalami masalah yang berarti. Tidak ada penolakan apa pun dari warga. Justru mereka senang menyambut Kampung Literasi,” ujar Garai Uno.
Desa Daenaa merupakan satu dari 10 desa yang berada di bawah Kecamatan Limboto Barat. Terletak sekitar 30 kilometer arah utara dari kota kabupaten Gorontalo. Wilayahnya terhampar di antara perbukitan yang tidak mudah dijangkau transportasi umum. Jalur kendaraan yang menghubungkan desa ini dengan wilayah lain di Kabupaten Limboto Barat sedang dalam proses pengaspalan. Menara telekomunikasi pun baru dibangun. Sehingga susah mengakses sinyal telepon seluler untuk berkomunikasi. Seharian di sana aku seperti diputuskan dari dunia luar. Kondisi yang mestinya membuatku tenang karena terbebas dari gangguan panggilan telepon maupun pesan masuk.
Segala keterbatasan itu alih-alih menyurutkan semangat Garai Uno. Laki-laki bersuara lirih dan berpembawaan kalem tersebut justru tekadnya makin menggelembung untuk mengentaskan warga Daenaa dari ketertinggalan informasi. Kesulitan transportasi dan sinyal telepon selular mungkin malah membuat mereka tidak punya pilihan lain untuk mendapatkan hiburan selain berkumpul di wombohe dan beraktivitas di sana. Aku baru mendapatkan sinyal dan tersambung kembali dengan dunia luar ketika kembali ke hotel Aziziyah--sekitar satu kilo dari Menara Keagungan Limboto yang mirip menara Eiffel di Paris-- tempatku menginap di kota kabupaten Gorontalo pada malam hari.
Rommy, kepala SKB Kabupaten Gorontalo, bercerita, ketika hendak melaksanakan Kampung Literasi pihaknya meminta kepada Bupati Gorontalo untuk lebih dulu membangun menara telekomunikasi untuk memudahkan masyarakat wilayah ini berkomunikasi menggunakan telepon seluler. Ternyata bukan hanya permintaan tersebut yang dipenuhi, melainkan bupati juga melakukan pengerasan dan pengaspalan jalan di wilayah ini. “Alhamdulillah ini karena Kampung Literasi. Bupati turun langsung kemari dan melihat kondisi jalan. Nanti saat penyelenggaraan Zumbara yang berlangsung selama tiga hari sejak tanggal 9 hingga 11 Desember 2016, Bupati akan turut hadir menyaksikan,” terang Rommy.    
Zumbara yang dimaksud Rommy adalah sebuah acara Kampung Literasi yang akan menampilkan bermacam lomba dan kegiatan yang selama ini didenyutkan Kampung Literasi. Hi Garai Uno, yang membuat konsep bermacam lomba dan kegiatan. Setidaknya ada lebih dari 26 jenis lomba dan kegiatan, antara lain lomba vokalia remaja, paduan suara, baca puisi, lomba memasak nasi goreng sagela, cerita daerah tentang Lahilote, pidato bahasa daerah Gorontalo, zamra tradisional, zikir, mengaji wunu-wunungo, lomba azan, shalat berjamaah, busana santai, busana muslim, busana ibu ibu PKK, membuat toyopo, membuat ketupat, merangkai bunga, voli ball, sepak takraw, catur, penataan halaman dan pekarangan dasawisma.
Lomba-lomba tersebut tidak hanya diperuntukan bagi anak dan remaja, tapi juga untuk seluruh masyarakat, termasuk untuk kepala dusun. Noho Hamani, Kepala Desa Daenaa, menuturkan bahwa Kampung Literasi memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat warga Daenaa.
Permainan tradisional
Menurutnya, Kampung Literasi tidak hanya membangun kesadaran masyarakat untuk mau belajar melalui bacaan dan diskusi, tapi juga produktif. “Berkat buku-buku bacaan tentang budi daya tanaman, kami sekarang jadi lebih memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman yang bermanfaat, baik sayur, maupun tanaman obat,” kata kepala desa yang dalam adat masyarakat di daerah Gorontalo disebut Ayahanda.
Ayahanda Noho Hamani menuturkan, ia sangat bersyukur karena Kampung Literasi juga menghidupkan kembali kearifan lokal yang belakangan mulai dilupakan masyarakat terutama anak-anak muda. Semisal ngaji wunu-wunungo, tarian danadana. Pada zambore tahun depan Noho Hamani mengusulkan untuk memasukkan permainan tradisional tepalilingo, semacam permainan sepak takraw khas Gorontalo.     
“Itulah memang tujuan dilaksanakannya Kampung Literasi. Masyarakat yang buta aksara diajari membaca lalu mengikuti program pendidikan kesetaraan Paket A, B dan Paket C. Bagi saya pendidikan sangat penting untuk meningkatkan produktifitas dan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Makanya saya sangat bersemangat sekali ketika diminta menjadi ketua Kampung Literasi oleh Ketua SKB Kabupaten Gorontalo, ” ucap Garai Uno lirih.      
Kampung Literasi Gemilang Desa Daenaa dilaksanakan sejak Juli hingga Oktober 2016, sebagai pilot project Kampung Literasi di Kabupaten Gorontalo. Berkat kerja keras Hi Garai Uno dan dukungan SKB Limboto serta seluruh masyarakat Desa Daenaa yang aktif berpartisipasi, hanya dalam waktu beberapa bulan Kampung Literasi Gemilang telah memberikan dampak positif bagi kemajuan masyarakat desa.
“Ke depan kami punya program penanaman sereh wangi di sepanjang jalan desa. Tanaman ini memiliki banyak manfaat. Selain untuk bumbu masak, obat, juga untuk membuat parfum,” ujar Garai Uno.  Ia optimis, sangat mungkin budi daya tanaman sereh wangi dilanjutkan dengan membuat produk parfum dari sereh wangi melalui industri rumahan.
Aku ke Kampung Literasi pada hari kedua di Gorontalo. Hari pertama aku mengunjungi program DesaVokasi di Kecamatan Pulu Bala. Program Desa Vokasi dan Kampung Literasi diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kedua program ini bertujuan memberdayakan masyarakat lewat berbagai pelatihan dan pendidikan. Desa Vokasi di Kecamatan Pulubala melahirkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Serimpi. PKBM lebih fokus kepada pemberdayaan ekonomi. Aku mengunjungi sejumlah kelompok ibu ibu pembuat kue tradisional, menyulam kain khas Gorontalo, Karawo. Begitu turun di bandara Djalaluddin Gorontalo pada siang yang terik penjemput langsung membawaku ke sana.
Benteng Otanaha, Sabtu 19 November 2016
Acara mengunjungi kelompok ibu-ibu rampung hampir maghrib. Dalam perjalanan ke hotel mereka membawa kami ke Danau Limboto, kemudian ke sebuah taman pemandian yang airnya mengandung panas belerang dari gunung Huntu Lobohu. Pagi pada hari ketiga, sebelum sorenya diantar ke bandara,  kami diajak mengunjungi Taman Purbakala Benteng Otanaha.
Hanya sekitar kurang dari 90 menit aku menikmati pemandangan dari atas benteng yang konon dibangun sekitar 1522 M oleh Raja Ilato atas prakarsa para nahkoda kapal Portugis yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negeri dari serangan musuh. Jadi tak sempat menggali lebih jauh benteng ini. Aku hanya sempat foto-foto seperti juga para remaja yang kutemui di sana.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka