Nasihat dari Hasyim Asy’ari

model diperani oleh Maria Martha
Belajar apa pun bukan perkara mudah. Belajar sesuatu yang kau sukai sekalipun tidak mengurangi fakta bahwa bermalas-malasan, nonton sinetron sambil sms-an jauh lebih sedap. Belajar tidak cukup hanya dengan mengorbankan kesenanganmu leyeh-leyeh. Itu yang senantiasa saya nasihatkan kepada sulungku yang tahun ini memasuki jenjang baru kehidupannya: menjadi mahasiswa.
Hasyim Asy’ari, pendiri NU, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, dalam buku biografi beliau “Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan” karya Zuhairi Misrawi, menasihatkan bahwa seorang pembelajar harus membersihkan hati dari segala keburukan, dengki, dan akhlak yang jelek. Seorang pembelajar harus mempunyai niat yang tulus dalam mencari ilmu, terutama dalam rangka mengharap ridha Tuhan, membangkitkan syariat, mencerahkan hati, menghiasi batin, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sangat berat memang meneguhi moralitas semacam itu. Jangan heran tidak sedikit dari mereka yang putus sekolah di tengah jalan karena tidak mempunyai kesiapan lahir dan batin untuk mengarungi samudera ilmu. Moralitas tersebut menurut Kiai Hasyim dapat menjadi jembatan untuk memudahkan seorang pembelajar mendapatkan ilmu selama mencari ilmu.
Secara pribadi jujur saja saya bukan jenis orang yang gemar memberi nasihat, apalagi berpetatah petitih. Tetapi sebagai orangtua dari anak dara yang kini ‘tiba-tiba’ menjadi mahasiswa, hidup ngekos sendiri, jauh dari orangtua, demi menuntut ilmu, apa boleh buat, saya harus melakukan sesuatu yang tidak saya gemari: memberi nasihat.
Kepada si sulung saya menceritakan bahwa  dulu tidak pernah terlintas dalam pikiran kakeknya untuk menguliahkan anaknya. Bahkan ia mungkin tidak pernah tahu bahwa di dunia fana ini ada bangku perkuliahan. Maklum kakeknya adalah orang kampung yang tahunya menggembala kambing dan numpang nonton tivi hitam putih di rumah tetangga.
Sejujurnya saya acap merasa tidak terlalu yakin saat memberi nasihat. Mengingat saya sendiri rasanya jauh dari perilaku yang baik, saya kerap mudah menyerah kepada kemalasan. Apalagi meneladani kezuhudkan Kyai Hasyim Asy’ari. Namun saya segera merasa lega  dan haru, pasalnya tanpa perlu saya berpanjang-panjang memberi nasihat, si sulung meyakinkan saya bahwa ia dapat menjaga kepercayaan saya. Ia menyambut jenjang baru itu dengan riang gembira dan bersemangat. Bahkan ia telah menyiapkannya setahun sebelumnya  dengan mengikuti  kelas tambahan di lembaga bimbingan belajar.  
Melihat ia mengenakan jas almamter kampusnya, kadang kami tertegun, betapa lekasnya waktu berlalu. Baru kemarin rasanya melihatnya menangis dalam gendongan kami, menyesap puting susu ibunya. Tangan kami masih basah usai memandikannya, melapnya dengan handuk, menaburkan pupur ke sekujur tubuhnya, dan menciuminya dengan gemas berganti-ganti. Benar kata Sapardi Djoko Damono,  yang fana adalah waktu,  kita abadi.  Waktu kanak-kanaknya telah lewat, demikian pula waktu muda kami.  Waktu begitu fana, kita yang abadi dan terbata-bata mengeja gerakan waktu. 
Usianya kini 18. Kawan-kawan sepermainannya hampir semuanya telah menikah bahkan sebelum mereka merampungkan tsanawiyah. Zaman boleh saja terus melaju dan bertukar, merangsekkan era digital, tetapi di desa kami usia pernikahan usia dini masih terus menggejala.  Sekarang kami makin jarang bertemu. Lalu kalau bertemu sekarang kami kadang berdebat, waktu peristiwa demo 4 November kemarin misalnya. Kami punya pandangan berbeda.
Sulungku dan ibunya
Sekarang dia tidak lagi minta dibelikan novel-novel pop Raditya Dika, melainkan buku-buku filsafat pendidikan. Dia memang memilih fakultas pendidikan.  Baru-baru ini dia bilang tidak bisa pulang saban pekan, karena banyak tugas dan ikut kegiatan di kampus. Kami tentu saja tidak boleh mencegahnya. Kami senang dia semangat belajar dalam keprihatinan. Kami tak tahu persis apakah itu wujud pelaksanaan nasihat kami yang di antaranya kami kutip dari buku biografi Kiai Hasyim Asy’ari, atau semata kesadarannya sendiri.
Sejak kuliah dan ngekos sendiri, menurut ibunya badannya tambah ramping. Kami pikir mungkin karena sekarang banyaj memikirkan tugas-tugas kampus, di samping getol berpuasa. Perubahan tidak hanya terjadi pada fisiknya. Tapi juga sikapnya. Ia tampaknya berusaha  membuang jauh-jauh sikap manjanya. Kemarin ia bilang mau ikut ngajar di madrasah.
Kembali ke buku biografi, Hasyim Asy’ari. Beliau juga menasihatkan bahwa seorang pembelajar harus menghidupkan sikap asketis. Menanggalkan kenikmatan-kenikmatan dunia. Dalam arti tidak terlalu bergantung kepada fasilitas. Bagi penyusun buku biografi ini, nasihat Kyai Hasyim relevan dengan realitas banyaknya pesantren-pesantren yang sarana pembelajarannya dalam kondisi serba berkekurangan.
Tadinya saya hendak mengkritik pandangan ini, karena dalam sistem pendidikan modern, kelengkapan fasilitas pembelajaran menjadi salah satu elemen penting untuk mengukur mutu dan keberhasilan proses belajar. Tetapi saya kemudian menyadari betapa modernisme tidak selalu dapat diandalkan untuk mendekati realitas. Pemahaman ini bukan berarti menolak fasilitas penunjang pendidikan yang identik dengan sarana material. Kelengkapan fasilitas penunjang proses pembelajaran tentu saja penting. Tetapi jauh lebih penting dari itu adalah spirit. Akhlak dan kehendak kuat untuk secara tulus ikhlas belajar. 
Ohiya buku biografi ini merupakan salah satu sumber Rako Prijanto membuat film Sang Kyai. Cara menyusunnya bagi saya kurang menarik dan enak diikuti. Terlalu banyak wejangan, tidak bercerita. Nyaris seperti khotbah. Hampir membosankan.  Sosok Kyai Hasyim Asy’ari dituturkan datar dan kering. Kita tak dapat mengendus desah napasnya, caranya mengangkat cangkir saat hendak minum. Buku ini terasa lebih memunculkan pandangan penulisnya.  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka