Novel Natal Wendo

Model diperani oleh Dianita
Mungkin kebetulan mungkin juga tidak, bulan Desember ini saya mendapat novel bertema Natal. Barangkali kurang tepat dikatakan demikian, karena novel ini ternyata tidak hanya menyinggung soal Natal. Tetapi sekurangnya setting waktu novel ini berada di sekitar Natal dan ada adegan perayaan Natal, Sinterklas bagi-bagi hadiah dan semacamnya.  Judulnya Horeluya (nampaknya plesetan dari Haleluya atawa Puji Tuhan dalam bahasa Ibrani), besutan Arswendo Atmowiloto (Wendo).  Selain menyinggung soal Natal, Wendo  menyoal takdir, Tuhan, keserakahan, bahkan identitas seksual.

Ceritanya tentang keluarga muda Johanes Kokrosono (Kokro) dan Maria Ludwina Ecawati (Eca). Pasangan ini memiliki seorang putri Teresa Lilin Sekartaji (LIlin). Di rumah mereka ikut tinggal Elizabeth Stefani alias Mbak Ade (adik Eca) dan Nayarana atau Naya (adik Kokro). Hidup mereka baik-baik saja. Dalam arti berjalan mulus, rukun, bahagia, sebelum Lilin didiagnosa mengidap penyakit sumsum tulang belakang. Lilin butuh donor darah jenis rhesus negatif. Ini jenis darah yang sangat langka. Apabila dalam waktu enam bulan tidak ditemukan orang dengan darah rhesus negatif yang mau mendonorkan darahnya untuk Lilin, riwayat hidup gadis kecil itu selesai.  Cobaan itu disusul cobaan berikutnya: Kokro di-PHK dari pabrik biskuit tempatnya bekerja sebagai staf promosi tapi mengerjakan banyak hal, mulai mendesain, menyusun teks, membuat iklan.

Mereka nyaris putus asa dan hanya berharap mujizat Tuhan. Di titik inilah pertanyaan-pertanyaan soal takdir muncul. Apakah penyakit yang diidap Lilin adalah merupakan takdir dari Tuhan atau tidak ada hubungannya sama sekali? Kalau takdir, kenapa ditimpakan kepada pasangan  muda dan terutama Lilin yang tak punya salah, hidup lurus dalam kesederhanaan.

Pergolakan ihwal keimanan yang dialami keluarga ini sangat menarik. Berlangsung secara  mengalir secara wajar. Alih-alih dakwah, Wendo menuliskannya hampir dengan nada sinis. Tapi jadi memilik daya renung yang kuat. Wendo, seperti pengarang mumpuni, membiarkan dialog tentang takdir dan Tuhan tidak selesai, atawa berakhir ambigu.

Eca sangat saleh. Ia menganggap ‘malapetaka ‘  yang dihadapinya sebagai takdir. Dan itu membuatnya jadi makin rajin berdoa di depan patung Bunda Maria di sebuah gereja lama  yang letaknya lebih rendah dari jalan raya, sehingga ketika Eca berdoa orang yang lewat di jalan itu dapat melihatnya. Adam, seorang  pewarta yang sering melihat kebiasaan Eca berlama-lama berdoa di depan patung Bunda Maria kemudian memotretnya dan menayangkannya di media.  Ulah Adam membuat Kokro jengah dan Naya marah. Naya memburu Adam untuk memberi pelajaran karena dianggap menghina dan bersikap sinis kepada penderitaan kakak iparnya.

Secara sekilas diinformasikan tentang masa lalu Kokro dan Naya. Mereka kakak beradik yang berasal dari keluarga yang dituduh komunis. Bapaknya ditembak mati oleh tentara dan ibunya hilang sehingga mereka sempat menjadi gelandangan yang akrab dengan perut kelaparan. Sekalipun bersaudara Kokro dan Naya memiliki watak yang berbeda. Kokro sosok pribadi yang tenang dan menjalani hidup secara teratur. Sebaliknya Naya menjadi anak muda yang berangasan, gemar berkelahi, dan akhirnya menjadi preman yang disegani para pemilik kios di pasar.

Sekalipun begitu Naya sangat lembut kepada keponakannya, Lilin. Dia akan melakukan apa saja yang diminta Lilin, termasuk berhenti merokok saat berada di rumah. Mbak Ade memiliki watak yang mirip Naya, agak urakan dan suka memberontak. Ia punya teman bernama Siti yang bekerja di pabrik biskuit yang sama dengan Kokro. Siti memiliki tubuh tinggi ramping, dan seksi seperti  model. Karena itu Siti selalu menjadi pusat perhatian laki-laki. Setiap laki-laki ramah padanya, tapi Siti menganggap mereka bersikap begitu karena ingin bercinta dengannya. Ini yang membuat Siti membenci laki-laki yang dipandangnya hanya mengincar tubuhnya. Ia jadi lebih nyaman dengan sesama perempuan.
  
Dialog tentang lesbianitas (eh bener gak sih istilah ini) antara Mbak Ade dan Siti sangat santai. Dengarlah
“Jangan-jangan kamu lesbi.”

“Mungkin”

“Kamu lesbi ndak?”

“Kayaknya tidak. Aku kan pernah punya pacar serius. Tapi Mbak ndak setuju. Begonya, aku nurut saja. Pacarku juga mundur teratur. Kalau sekarang masih ada, ngajak aku kabur, aku mau.”

Ulah Adam menayangkan potret Eca yang sedang berdoa sambil menangis di depan patung Bunda Maria rupanya menjadi viral di media sosial. Berita itu sampai ke telinga Devi, seorang sosialita Indonesia yang tinggal di Kualalumpur yang memiliki darah jenis rhesus negatif. Sosialita yang merasa hampa dan berusaha menepis kehampaannya dengan cara membantu sesama terketuk hatinya untuk mendonorkan darahnya untuk Lilin. Namun pada saat bersiap berangkat ke Indonesia, Devi kerampokan. Ia cidera serius yang mengakibatkan kehabisan banyak darah. Mendengar calon pendonornya butuh darah, Lilin berteriak "mauuu"  mendonorkan darahnya untuk Devi.

Wendo lihai sekali meliuk-liukkan alur, mendedah perasaan dan watak tokoh-tokohnya. Relasi psikologis yang agak rumit di antara mereka digambarkan secara segar menyenangkan. Kita dibuat haru melihat Lilin, gemas dengan sifat Naya. Mengelus dada untuk Eca. Ketawa tertahan untuk Siti. Ada beberapa yang terkesan kebetulan untuk menciptakan drama, seperti kerampokan mendadak yang dialami Devi itu. Tapi tak apalah. Endingnya seru kok. Tapi apa sih endingnya? Yang jadi pendonor Devi apa Lilin. Aduh, saya kok jadi lupa. Ini tampaknya karena Wendo memang menghindari ending tertutup.  

Meskipun menyinggung ihwal serius perihal takdir, Tuhan, dan orientasi seksual, namun Wendo menuliskannya dengan ringan, sedikit kocak, dan sangat menghibur.  Enak sekali dibaca sambil menyesap kopi dan mengunyah kacang. Bagi kamu yang muslim insya allah gak bakal jadi murtad.

Comments