Penawaran Iklan



ilustrasi dicomot dari Deviantart.com

Dia menatapku dengan bosan dan ragu. Menawariku minum dengan sorot antara merasa iba, malas, tapi juga sedikit nakal. Ekspresi yang sudah sering kulihat dari para marketing komunikasi perusahaan yang kudatangi. Map berisi paket penawaran iklan ditutupnya. Hm, baiklah. Aku meraih cangkir teh dan menyesapnya perlahan, dan memikirkan hal-hal terbaik yang pernah kumiliki dalam hidupku.
“Oplah koran kami terbesar kedua di negeri ini. Kami memiliki 250 ribu pelanggan. Produk perusahaan Bapak bisa langsung dikenal 250 ribu orang plus keluarga mereka,” ujarku, dengan nada merayu tapi kuupayakan betul-betul tetap elegan. Dan kukira aku berhasil.   
“Oke. Tapi kami harus mempelajarinya lebih dulu,” kilah lelaki itu, “nanti kita bicarakan lagi. Sekarang saya harus berangkat. Ada meeting mendadak.” Tentu saja aku sudah terlalu hapal kalimat ini, terutama kalimat nanti kita bicarakan lagi yang penuh penekanan itu. Maknanya jelas menolak dengan cara halus, kecuali dengan persyaratan yang tersembunyi pada kalimat nanti kita bicarakan. Ia berdeham sembari menegakkan posisi duduknya, membetulkan dasi sebagai isyarat untukku segera minggat atau menyepakati kalimat nanti kita bicarakan lagi.  
Tapi tidak! Tidak semudah itu dia menaklukanku. Aku memang baru hitungan tahun menjadi sales. Tapi aku sudah lumayan berpengalaman menghadapi client seperti ini. Dan aku jarang gagal. Dua bulan terakhir aku berhasil menaklukan setidaknya tiga orang client dengan siasat yang segera akan mendapatkan kembali mangsanya. Mereka menandatangi kontrak iklan bernilai miliaran tanpa aku perlu berdua-dua dalam kamar dengannya, dan mereka tidak merasa terjebak.
Aku terus menatap matanya. Udara ase berdesir mengusap rambut kelimisnya. Dia mulai terlihat antara salah tingkah dan jengah. Aku tetap duduk tenang menghadapinya dengan tatapan tepat ke wajahnya untuk melawan intimidasinya secara santun. Kuperhatikan dagunya yang terlihat biru habis dicukur. Menawan juga.
“Itu paket pertama, Pak. Saya membawa paket kedua yang lebih menarik,” kataku, terus menghujam matanya, dan tanganku merogoh map lain dari dari tas di pangkuanku. Segalanya telah kusiapkan untuk menjeratnya. Dengan suara sebisa mungkin meyakinan aku mengatakan bahwa koran kami tetap bertahan menjaring banyak pembaca. Padahal kenyataanya oplah koran kami sedang terjun bebas gara-gara penetrasi internet yang makin masif dan tak mungkin dibendung. Yang lebih parah lagi isinya lebih banyak berita kegiatan partai poitik pemilik koran kami yang narsis setengah mati. Menyerang pemerintah hanya untuk mencari popularitas.
Langit Jakarta terlihat berkabut dari jendela seperti hendak menyembunyikan matahari untuk selama-lamanya.Setengah sebelas siang pertengahan Agustus yang basah. Hujan hampir setiap hari tercurah, bahkan kadang sepanjang hari seperti hari ini, disertai embusan angin yang mengayun-ayunkan dahan-dahan pohon sepanjang Jalan Sudirman yang membuat cemas para pengendara.  
Laki-laki itu belum datang ketika aku sudah duduk di sofa di depan ruangannya. Aku bangun pagi-pagi sekali tadi. Rekanku berulangkali berpesan jangan sampai telat. “Lebih baik kau kepagian dan menunggu dia datang ketimbang kesiangan dan dia menunggumu,” kata rekanku disertai sedikit penekanan. Betul yang dikatakannya. Aku butuh waktu cukup lama untuk memilih pakaian dan berdandan.  Bahkan ketika aku bangun, aku perlu beberapa puluh menit untuk duduk menggenapkan seluruh nyawa sebelum benar-benar bangkit dan menyalakan dispenser untuk menyeduh dan menyesap kopi di teras sembari berpikir mengenakan baju warna apa. 
Aku memilih mengenakan gaun terusan sebatas lutut warna cerah, dengan tali untuk memunculkan kesan ramping dan seksi. Warna sepatuku senada. Aku memulas bibirku warna orange seperti juga rambutku yang dicat warna kulit jeruk mandarin. Aku langsung kemari menggunakan taksi dari rumahku di bilangan Kebon Jeruk. Lalulintas Jakarta tak dapat diprediksi. Aku tak mau gambling. Sepanjang perjalanan aku mengulum permen kopi untuk membangkitkan suasana nyaman dan percaya diri.
Kemarin dia telah menyepakati  kedatanganku hari ini setelah berkali-kali kuhubungi, menyusul paket penawaran yang telah kukirim terlebih dulu melalui jasa kurir. Tetapi, seperti  kau dengar tadi, dia harus mempelajarinya lebih dulu.
Dia tersenyum sekadarnya ketika muncul dan melihatku duduk menantinya. Aku bangkit, tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tercium oleh hidungku aroma parfum mahal. Tubuhnya ramping dengan celana warna gelap dan kemeja kuning gading yang tersetrika rapi. Dari penampilannya kubayangkan dia seorang suami yang lihai mengibuli istrinya. Barangkali semalam dia terlambat sampai ke rumah setelah bertemu selingkuhannya di sebuah hotel, atau seorang perempuan sekadar untuk one night stand.  Perempuan itu mungkin  seorang sales seperti diriku. Hal seperti ini sudah menjadi rahasia umum di dunia kami. Tak ada makan siang yang gratis, kata orang Inggris.
Dia membuka paket kedua yang kusodorkan. Hanya sekilas. Lalu matanya kembali menatap dengan bosan ke wajahku, bicara “Bagaimana menjelaskan media Anda cocok untuk produk minuman kesehatan?” katanya, menatapku seperti ingin menguji kelihaianku berjualan. “Perusahaan kami berencana akan memangkas belanja iklan. Biaya untuk iklan yang kami keluarkan harus seefektif  mungkin mendongkrak penjualan produk kami,” sambungnya.
“Paket kedua ini bundling, Pak. Bapak cukup membayar harga sedikit di atas paket pertama tapi produk bapak disiarkan di semua media grup kami. Portal, majalah, tabloid, dan televisi,” kataku meyakinan. Dia tersenyum misterius. Rekanku bilang, lelaki ini seperti kebanyakan lelaki yang lain, mudah ditundukkan dengan sedikit rayuan.
Dia kembali membuka paket penawaran. Lalu bicara tentang keuangan perusahaan yang sedang tak bagus. Penjualan yang menurun. Aku mengatakan bahwa dengan beriklan di media kami akan menaikkan kembali penjualan produknya. Di akhir penjelasan yang lumayan menggebu, aku memberi kerlingan mata kepadanya.
“Dasinya bagus, Pak,” kataku mulai melancarkan trik yang dipakai rekanku. Benar, dia mulai tersipu. Sambil meraba dasi warna coklat muda itu dia bercerita dasi itu dibelinya dari Singapura. Aku terus melancarkan jeratan dengan mengatakan bahwa dasi itu serasi dengan pembawaannya yang flamboyan dan maskulin. Parfum yang menguar dari tubuhya sangat menggoda. Dia makin tersipu, tapi dilapisi sikap sedikit waspada. Apakah dia mulai mencium siasatku atau sekadar untuk tetap menjaga wibawa.  
Telepon selularnya bergetar. Ia meminta ijin keluar ruangan sebentar untuk mengangkatnya. Aku mengangguk sembari tersenyum. Dalam beberapa menit mataku menyapu ruangannya. Sebuah ruangan yang tertata rapi dengan selera seni yang lumayan. Buku-buku teori bisnis dan motivasi, laptop, pulpen, beberapa plakat penghargaan menempati posisinya dengan pas. Juga foto keluarga berbingkai kayu di sudut meja sisi lemari kaca. Sebuah lukisan sebuah pasar di masa lalu dalam gradasi warna-warna vintage menggantung di dinding atas belakang mejanya.
Laki-laki itu kembali dengan ekspresi wajah bahwa ia harus pergi sekarang. Aku tahu dia sedang berpura-pura. Tetapi dengan berbagai cara aku menahannya. Lalu mengatakan sekali lagi berbagai keuntungan yang dia dapat apabila memasang iklan di media kami. Salah satunya, media kami menjamin tidak akan menulis perihal kandungan zat berbahaya dalam produk minuman kesehatan perusahaannya. Dia terperanjat sebentar. “Kami punya datanya,” kataku seraya menyodorkan surat kontrak kepadanya untuk ditandatangani.
Aku menggenggam tangannya agak lama saat bersalaman sekadar mengikuti ajaran etiket setelah aku menyebutkan tanggal bagi kami untuk bertemu lagi. Tapi kali ini dia yang menahanku. Menawariku naik mobilnya karena ia akan pergi ke arah yang sama. Aku pura-pura enggan  sebelumnya akhirnya menyetujui. Aku duduk di sisinya di dalam mobil sambil bicara soal remeh temeh yang beberapa jam kemudian akan terlupakan.   
Cerpen ini pertama kali disiarkan di Basabasi.co

Comments