(Tak) Lebur dalam Alunan Orkes Simfoni

Addie MS di Raflfes Hotel, Kuningan, Jakarta (9/11/2016), foto karya Budi Kosasih
Beberapa pekan lalu aku batal menyaksikan konser orkes simfoni Twilite Orchestra lantaran harus ke Gorontalo. Padahal seminggu sebelumnya aku sudah mengiyakan, bahkan mewawancarai Addie MS, pimpinan Twilite Orchestra, untuk datang meliput konser yang menandai ulang tahun orkes simfoni Twilite Orchrestra yang ke 25.
Aku mewawancarai Addie untuk tulisan di majalah internal sebuah bank. Dalam wawancara itu Addie banyak mengungkapkan keprihatinannya tentang negara yang kurang peduli terhadap kebudayaan.  Dia bercerita bahwa sebagai konduktor orkes simfoni Twilite Orchestra, dirinya kerap harus merangkap menjadi marketing guna mencari sponsor ketika hendak menggelar konser.
“Sebuah konser musik orkes simfoni membutuhkan biaya sangat besar yang tidak mungkin tertutupi dari penjualan tiket, sekalipun seluruh tiket habis terjual,” kata Addie.
Keprihatinan Addie merupakan keprihatinan bersama para budayawan yang secara serius memikirkan kebudayaan sebagai aset bangsa. Radhar Panca Dahana sering bersuara keras atas ketidakpedulian pemerintah kepada perkara satu ini. Negara kita, kritik Radhar, masih melihat kebudayaan semata sebagai tari-tarian, perlombaan baju tradisional dan sejenisnya. Kebudayaan tidak dilihat sebagai nilai-nilai untuk menuntun arah peradaban bangsa. Maka jangan heran ketika suatu masa pemerintah pernah memasukkan kebudayaan ke dalam departemen pariwisata, dan bukan pendidikan.
Menurut Addie, boleh jadi masyarakat kita yang beringas, mudah marah, dan sulit menerima perbedaan adalah akibat dari bangsa kita yang tidak menjadikan seni budaya sebagai bagian dari pendidikan dan strategi kebudayaan. 
Di negara-negara yang beradab dan memiliki strategi kebudayaan yang jelas, tidak akan membiarkan sebuah orkes simfoni mencari sponsor sendiri untuk konser. Mereka bahkan tidak sekadar membiayai setiap konser orkes simfoni, tapi juga membangun dan membiayai gedung-gedung pertunjukan seni.
Sejak berakhirnya era Ali Sadikin sebagai Gubenrur DKI Jakarta, musik orkes simfoni di Indonesia berjuang untuk bertahan secara mandiri. Orkes Simfoni Jakarta yang dulu pembentukannya diprakarsai pemerintah DKI, kini nasibnya seperti orkes simfoni yang lain, sangat bergantung kepada sponsor swasta ketika hendak menggelar seni pertunjukan musik orkes simfoni.
Ini tentu saja tidak sehat. Kesulitan mendapatkan sponsor membuat grup musik orkes simfoni, seperti yang dialami Twilite Orchestra, tidak dapat membuat jadwal konser secara reguler. Persiapan untuk konser pun kerap begitu pendek. Addie bercerita, pihaknya pernah kebingungan ketika beberapa minggu menjelang pergelaran, tiba-tiba pihak sponsor menelpon membatalkan atau setidaknya mengurangi angka budget.  Twilite Orchestra sendiri dengan kondisi seperti itu beberapa kali hampir bubar. Apabila sampai sekarang masih bertahan memasuki usianya yang ke-25, lebih karena passion para pengelola dan personilnya. Sebuah kecintaan yang keras kepala.
Menurut Addie, salah satu cara mensiasati kesulitan mendapatkan sponsor, selama ini Twilite Ochestra menggelar konser khusus di sekolah-sekolah. Membuat kelas musik, dan semacamnya. Masih dalam upaya uuntuk bertahan pula, Addie memilih pops orkes simfoni sebagai “jenis kelamin” Twilite Orchestra. Pops orkes simfoni merujuk kepada jenis orkes di Amerika yang terbuka untuk memainkan bermacam lagu, berbeda dengan orkes simfoni klasik yang hanya memainkan lagu-lagu klasik.    
Apabila kita menengok Negara maju seperti Amerika Serikat. Di Negeri Pam Sam ini terdapat puluhan orkes simfoni yang memiliki jadwal konser reguler.  “New York Philharmonic Orchestra misalnya. Dalam setahun mereka menggelar sekurangnya 100 konser,” tutur Addie.  Indonesia barangkali tidak sepadan dibandingkan dengan Amerika. Bahkan dibanding dengan negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura saja, Indonesia masih tertinggal.   
Seni pertunjukan musik orkes simfoni di kedua negeri jiran ini sangat banyak. Mereka memiliki program konser reguler. Tiketnya dapat dipesan satu tahun sebelum pertunjukan digelar.  “Di sana kalau kita mau nonton beberapa konser untuk tahun depan, sudah dapat membeli tiketnya langsung sekarang. Musik orkes simfoni sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Addie.  
Demikian pula Jepang, Korea, bahkan Tiongkok. Negeri Tirai Bambu memiliki sekurangnya 70 orkes simfoni yang disubsidi pemerintah. Termasuk dalam hal pajak tontonan. Kalau ada swasta menjadi sponsor sifatnya hanya sebagai pelengkap. Negara-negara maju yang memiliki kesadaran pentingnya kebudayaan, mereka tidak melihat orkes simfoni sekadar sebuah pertunjukan untuk hiburan. Lebih dari itu musik orkes simfoni dilihat sebagai kekayaan budaya yang memiliki peran vital dalam membentuk karakter bangsa.
Membangun karakter
Konser Twilite Orchestra di Artpreneur, Sabtu, 19.11.2016 karya Budi Kosasih 
Sayangnya, seperti dikeluhkan Addie, pemerintah kita sampai sekarang belum melihat seni pertunjukan orkes simfoni sebagai aset bangsa yang perlu dirawat keberadaanya untuk membangun karakter. Sekadar contoh kecil, Addie menuturkan bahwa para personel Twilite Orcherstra yang dipimpinnya terdiri dari dari berbagai latar belakang budaya, pendidikan, agama, ras, dan usia. “Saya merekrut personil berdasarkan kemampuan mereka bermain musik dan bekerjasama. Bukan yang lain. Setiap personil apa pun latar belakang budayanya tidak boleh menonjolkan egonya masing-masing. Mereka harus lebur jadi satu,” papar Addie.
Kultur kerja sama, saling memberi dukungan, dan membuang ego masing-masing sangat ditekankan. Tak ada seni pertunjukan musik orkes simfoni yang hebat tanpa kerja sama yang harmonis puluhan bahkan ratusan personilnya. Addie percaya, kultur yang dibangun di dalam musik orkes simfoni tanpa sadar akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi, membangun karakter manusia.
“Konser musik orkes simfoni ini cost center, bukan profit center. Dasar berpikir para pelaku musik ini adalah mengembangkan seni budaya kita. Bukan keuntungan. Kita berkarya turis datang untuk menonton dan mengenal kita sebagai bangsa berbudaya. Tapi kita belum-belum sudah berpikir balik modal,” tutur Addie. Situasi ini membuat para penikmat musik orkes simfoni termasuk turis mancanegara yang mengunjungi Indonesia sangat kesulitan ketika mencari seni pertunjukan musik orkes simfoni.

Comments