Posts

Showing posts from January, 2017

Membaca Sajak Politik

Image
Kalau kamu jatuh di jalan raya gara-gara jalan berlubang/ itu bukan kesalahanmu semata/ Melainkan juga negara./ Negara bertanggungjawab menyediakan jalan yang layak untuk dirimu./ Negara yang bertanggungjawab atau yang abai, dirimu yang menentukan lewat hak suara yang kamu miliki./ gunakan hak suaramu untuk memilih pemimpin kota dan daerahmu./ Penggalan puisi ini—atau apalah-apalah namanya—saya bacakan dalam acara ala ala sosialisasi Pilkada Banten di Gedung Kesenian Tangerang.  Saya menulis puisi ini secara mendadak setelah seorang kawan pengurus komite sastra Dewan Kesenian Tangerang meminta saya membaca puisi untuk acara yang diinisiasi oleh Komite Pemilihan Umum Banten dengan DKT pada Minggu, medio Januari lalu.

Perang dan Neraka yang Diciptakannya

Image
Kita acapkali dibikin miris melihat nasib perempuan di negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim. Kalau saya sebut mayoritas muslim dan mengaitkannya dengan perilaku buruk, please gak usah baper, apalagi ditambah uring-uringan. Karena pernyataan serupa itu sama sekali bukan hujatan kepada ajaran Islam. Melainkan perilaku buruk penganutnya. Kita hanya boleh geram dan marah manakala ada perlakukan tidak adil masyarakat terhadap perempuan berdalih demi menegakkan pesan agama (:Islam) sebagai sumber pembenaran. Kau tentu Ingat Malala Yousafzai, remaja Pakistan yang diburu untuk dibunuh Taliban gara-gara bersikeras mengampanyekan pentingnya sekolah untuk kaum perempuan. Yousafzai menjadi simbol perlawanan perempuan atas keberingsasan. Sikap Taliban yang cenderung misoginis membuat kita geram dan marah.  

Hal-hal Menjengkelkan Ketika Piknik

Image
Pagi-pagi kakak perempuanku datang ke rumah ketika aku belum lagi mandi setelah kembali dari lari pagi mengitari lapangan desa. Dia mengajakku piknik atawa tamasya. Jauh-jauh hari dia sudah mengatakan rencana ini dan aku telah menyepakati untuk turut serta. Baru kemarin petang aku membatalkan lewat whatsapp. Pasalnya, aku dan istriku merasa capek sekali setelah seharian menghadiri resepsi pernikahan keponakan tertua. “Kalau kamu capek, anak-anakmu saja yang ikut,” kata kakak agak memaksa.  Aku menariknya ke dapur, ke istriku yang tengah sibuk masak. “Kita berangkat aja yuks,” Aku membujuk istriku. Dia ragu sebentar, kemudian mengangguk setuju. Bungsuku yang menguping pembicaraan, langsung bersorak girang. Kakakku mengambil alih tugas memasak dan menyuruh istriku lekas mandi. “Sudah sana mandi, siap-siap,” kata kakakku. Sementara kami mandi, suami dan anak-anaknya yang menunggu di mobil, turun dan membantu kami mengemas bekal untuk piknik.

Persilangan Jagat Maya dan Dunia Nyata

Image
Dalam pemberitaan di media massa banyak kita temui kasus-kasus kejahatan yang bersumber dari dunia maya. Penipuan, pemerkosaan, perundungan, pencemaran nama baik, dan aneka kasus kejahatan lainnya. Perdebatan antarkubu atau antarpendukung calon pemimpin pemerintahan misalnya, kerap meletupkan ketegangan bahkan pertikaian di dunia nyata. Dunia maya memunculkan kecemasan-kecemasan baru.   Jayanegara, tokoh dalam novel Kerumunan Terakhir Okky Madasari menjalani paradoks jagat maya.  Ia menukar identitas aslinya menjadi pribadi yang diangankannya bernama Matajaya di media sosial untuk menyerang dan membongkar sisi durjana bapaknya, seorang terpelajar yang memiliki otoritas kuat di sebuah lembaga pendidikan dan dunia akademisi. Apa yang dilakukan Jayanegara dapat dilihat sebagai simbol pemberontakan generasi milenial atas kemapanan penuh dusta yang dibangun orang-orang tua di dunia nyata.

Panduan Sederhana Tamasya ke Ibu Kota

Image
Bersama teman-teman bersepeda keliling desa, mandi di sungai, main bola, main kelereng, bulutangkis tak cukup lagi bagi bungsuku untuk mengisi liburannya.  Dia merengek minta liburan ke Jakarta. Saban ditelpon tak bosan-bosan merayuku. Baiklah, akhirnya aku bersetuju. Aku mengiriminya dua lembar karcis kereta, untuk dia dan ibunya tentu saja. Aku membuat jadwal ke lokasi-lokasi wisata yang pengin dia kunjungi. Kebun Binatang Ragunan, Monumen Nasional, Kota Tua, Taman Mini Indonesia Indah. Aku menjemputnya di stasiun Pasar Senen. Keretanya datang tepat waktu, pukul 19.30. Aku langsung memeluk dan menciuminya begitu melihatnya muncul dari pintu stasiun. Bungsuku tak terlihat lelah sama sekali. Begitu bersemangat. Matanya berbinar riang. Mulutnya terus bertanya tentang lokasi-lokasi wisata yang akan kami kunjungi.