Hal-hal Menjengkelkan Ketika Piknik

Bungsuku dan pendahulunya mendaki lereng gunung Slamet,
Minggu, 8 Januari 2017
 
Pagi-pagi kakak perempuanku datang ke rumah ketika aku belum lagi mandi setelah kembali dari lari pagi mengitari lapangan desa. Dia mengajakku piknik atawa tamasya. Jauh-jauh hari dia sudah mengatakan rencana ini dan aku telah menyepakati untuk turut serta. Baru kemarin petang aku membatalkan lewat whatsapp. Pasalnya, aku dan istriku merasa capek sekali setelah seharian menghadiri resepsi pernikahan keponakan tertua.
“Kalau kamu capek, anak-anakmu saja yang ikut,” kata kakak agak memaksa.  Aku menariknya ke dapur, ke istriku yang tengah sibuk masak. “Kita berangkat aja yuks,” Aku membujuk istriku. Dia ragu sebentar, kemudian mengangguk setuju. Bungsuku yang menguping pembicaraan, langsung bersorak girang. Kakakku mengambil alih tugas memasak dan menyuruh istriku lekas mandi. “Sudah sana mandi, siap-siap,” kata kakakku. Sementara kami mandi, suami dan anak-anaknya yang menunggu di mobil, turun dan membantu kami mengemas bekal untuk piknik.
Obyek piknik yang kami tuju adalah pemandian air panas Guci di Slawi, Tegal. Ia terletak di lereng gunung Slamet. Jaraknya sekira 90 kilometer dari tempat tinggal kami dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.  Aku pernah ke tempat  ini lebih dari 20 tahun lalu. Waktu itu belum banyak orang yang tahu obyek wisata ini. Jadi jumlah pengunjungnya belum terlalu banyak sekalipun masa liburan. Kami masih leluasa memarkirkan mobil dan berjalan mendaki ke air terjun.
Bungsuku 
Sekarang, belum lagi sampai ke sana, sekitar empat kilo ke lokasi, kami sudah disergap kemacetan. Aku pikir ini bukan sekadar karena makin populernya obyek piknik satu ini, melainkan karena populasi penduduk yang bertambah berlipat-lipat dibanding  20 tahun lalu di satu sisi, dan kekurangtanggapan pemerintah mengantisipasi kebutuhan piknik masyarakatnya di sisi yang lain. Ini semua alangkah menjengkelkan.
Ini kejengkelan kedua. Kejengkelan pertama, kami sempat nyasar hingga belasan kilometer ke arah Tegal. Google map yang memandu kami rupanya bisa tidak akurat. Plang penunjuk arah, pemandu kami yang nyata, tertutup papan iklan. 
Kendaraan kami merayap pelan-pelan, bahkan sering berhenti sama sekali. Saat-saat jengkel bin kesal oleh kemacetan, seorang di antara kami minta turun, perutnya mulas pengin buang hajat. Dia lari dan mencari rimbunan semak sekenanya guna menyelesaikan panggilan alam yang tak mungkin ditolak itu.  Kemacetan belum ada tanda-tanda bakal terurai, sementara perut kami sudah keroncongan. Akhirnya kami menepikan kendaraan, mencari dataran yang landai untuk menggelar tikar, membongkar perbekalan, dan menyantapnya sambil memandang kemacetan yang tampak kontras dengan lereng gunung yang hijau segar.
Bareng si tengah.
Setelah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan. 20 tahun ternyata telah mengubah banyak hal. Aku hampir tak mengenali lagi lokasi wisata ini selain pancuran 13. Dan jalan menuju ke sana sangat padat layaknya pasar malam. Begitu besarnya jumlah orang-orang yang ingin piknik seperti kami. Barangkali pemerintah lupa bahwa piknik bukan hanya kebutuhan orang-orang kaya. 
Masuk ke area Pancuran 13 tidak dipungut biaya. Pantas berjubal. Pancuran 13 mengalirkan air jernih dan dingin. Pancuran air panas berada di sisi kanan. Keduanya penuh dengan anak-anak dan orang-orang tua mandi. Si bungsu yang senang main air segera melucuti pakaian dan nyebur diikuti sepupunya. Mereka berpindah-pindah dari pancuran berair panas ke air dingin. Cuaca redup dan mulai bergerimis.
Membongkar perbekalan
Aku dan istriku hanya mengawasi mereka. Sebenarnya aku pengin nyebur juga namun urung karena merasa agak jengah membuka kaus di tengah kepadatan pengunjung. Belum sampai sejam istriku minta si bungsu menyudahi acara berenangnya. Tentu saja si bungsu menolak karena merasa belum puas benar. Mereka berdebat. Aku diam saja tak membela salah satu dari mereka, seperti biasa. Rupanya sikapku dianggap sebagai dukungan bagi bungsuku untuk terus berenang. Istriku menyerah sambil bersungut-sungut. Dia khawatir hujan lebat dan tanah longsor. Well, kondisi Pancuran 13 memang agak menyeramkan. Tebing-tebingnya curam. Hujan lebat sangat mungkin membuat tanah longsor menimbun orang-orang yang sedang berenang. 
Beberapa menit berikutnya istriku kembali memanggil si bungsu untuk segera menyudahi renang. Si bungsu masih terus asyik dan tak memedulikan panggilan ibunya. Untuk urusan berenang bungsuku tampaknya tidak mengenal kata puas. Apabila kami biarkan bisa jadi sampai maghrib belum akan mentas dari kolam. Ibunya yang merasa kesal akhirnya menariknya dari kolam. Pemaksaan ini membuat si bungsu kesal. Situasi menjengelkan tapi juga kocak ini kerap terjadi setiap kami pergi wisata. Kedua anak beranak ini selalu berbeda keinginan.  Waktu kami piknik ke Ancol juga begitu. Bungsuku merasa belum puas berenang, sementara ibunya ingin segara pulang.  
Menuju pancuran 13
Sampai di tempat parkiran si bungsu tak habis marahnya. Untuk menghiburnya aku mengajaknya mendaki lereng yang dipenuhi pohon-pohon pinus. Ternyata pemandangan di atas lereng alangkah indah. Tidak hanya jalan ada setapak dan pohon pinus tapi juga aneka ladang sayuran, seperti seledri, stroberi, kubis, cabe, dan masih banyak lagi tanaman lalapan. Bahkan kami melihat sebuah rumah penduduk.     
Turun dari lereng, aku melihat kakakku sedang bercengkrama dengan seseorang yang ternyata saudara kami yang sudah berpuluh-puluh tahun tak berjumpa. Dia menikah dan tinggal di daerah wisata ini. Istri dan mertuanya memang orang daerah sini. Dia bekerja mengurus sebuah vila yang tidak jauh dari area parkir. Kebetulan vilanya sedang kosong, tamunya baru saja chek out.  Dia membawa kami mampir ke vilanya yang lumayan besar dan lengkap fasilitasnya, termasuk kolam renang berair hangat.  Bungsuku yang belum puas renang, langsung nyebur mengikuti aku yang lebih dulu turun ke kolam.  Kebetulan yang menyenangkan itu mampu mengobati kekesalan bungsuku. Kini kejengkelan itu bertukar dengan kegembiraan.    

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka