Membaca Sajak Politik

Reog Sanggar Singo Lodro, (foto Endro Istianto)
Kalau kamu jatuh di jalan raya gara-gara jalan berlubang/ itu bukan kesalahanmu semata/ Melainkan juga negara./ Negara bertanggungjawab menyediakan jalan yang layak untuk dirimu./ Negara yang bertanggungjawab atau yang abai, dirimu yang menentukan lewat hak suara yang kamu miliki./ gunakan hak suaramu untuk memilih pemimpin kota dan daerahmu./
Penggalan puisi ini—atau apalah-apalah namanya—saya bacakan dalam acara ala ala sosialisasi Pilkada Banten di Gedung Kesenian Tangerang.  Saya menulis puisi ini secara mendadak setelah seorang kawan pengurus komite sastra Dewan Kesenian Tangerang meminta saya membaca puisi untuk acara yang diinisiasi oleh Komite Pemilihan Umum Banten dengan DKT pada Minggu, medio Januari lalu.
Sejujurnya, kegiatan menulis puisi sudah lama tidak saya lakukan. Selain karena kemalasan dan lebih menyenangkan menulis cerita, resensi, catatan untuk blog,  status Facebook, dan cuitan di Twitter, bagi saya menulis puisi merupakan pekerjaan yang terlalu rumit alih-alih menjadi terapi. Saya sedang berkunjung ke rumah seorang kawan yang lama tak jumpa. Seusai ngobrol ngalor ngidul di teras rumahnya di sebuah kompleks perumahan pelosok Tangerang, dan merasa tak tahu lagi apa yang mesti saya lakukan ketika kawan saya masuk kamar dengan istrinya, saya mulai iseng menulis puisi ini.
Sejujurnya (lagi), puisi ini ditulis dengan ingatan kepada status akun Facebook seorang kawan. Saya ingat status itu ditulis saat panas-panasnya masa kampanye pilpres 2014. Tampaknya ditulis sebagai respons  atas sinisme sekaligus apatisme sebagian masyarakat terhadap peristiwa politik bernama pilpres. Orang apatis terhadap politik lantaran kecewa pemilu demi pemilu tak mengubah kehidupan mereka.  Status itu menyindir dengan keras betapa pesimisme atawa apatisme terhadap politik lebih tidak mengubah keadaan yang semakin memburuk, atau dalam jargon KPU “Golput Bukan Solusi”.
Status yang ditulis kawan itu sangat mengena. Karena itu mengiang terus di kepala saya.  Kamu terlalu berharap banyak kepada pemilu, maka kamu akan kecewa. Berharaplah sewajarnya kepada politik. Tidak bersikap apatis. Karena kita tak pernah bisa mengelak dari politik. Jalan di depan rumahmu halus mulus atau hancur berantakan itu sangat bergantung kepada siapa yang menjadi pemimpin di negerimu, dan itu politik. Jadi pedulilah kepada politik, pilihlah pemimpin yang akan memperbaiki jalan yang rusak di depan rumahmu. 
Joko Widodo, waktu itu calon pemimpin yang dianggap membawa harapan baru, yang diharapkan mampu dan mau bekerja keras memperbaiki kehidupan bangsa yang tak habis-habis dirundung masalah mendasar. Status kawan itu terang menggiring orang untuk tidak hanya berpartisipasi dan peduli politik, tetapi juga mengarahkannya untuk memilih Joko Widodo.
**
Saya menunjukkan dan membacakan sepotong puisi itu kepada kawan itu esok harinya, menjelang sarapan, seusai main bulutangkis di lapangan bulutangkis di depan rumahnya. Menjelang tengah hari dia mengantar saya ke Gedung Kesenian Tangerang yang terletak di belakang sebuah mal yang mulai sepi—sebentar lagi mungkin bakal bangkrut.  Pengunjung beralih ke mal yang lebih besar yang berada di depannya di seberang jalan. Gedung Kesenian Tangerang? Lebih sunyi lagi. Catnya mengelupas di sana sini. Sejumlah pojoknya jadi sarang laba-laba. Bukan hanya lantaran kondisi fisiknya ia sesungguhnya tidak layak disebut gedung kesenian. Gedung ini hanya berupa joglo berukuran besar. Jangankan tempat untuk pertunjukan yang representatif, untuk sekadar pertemuan pun orang akan kena tempias air apabila hujan turun lantaran hanya pilar-pilar tanpa dinding sebagaimana bangunan joglo. Panggungnya hanya berupa bidang dengan tinggi tidak sampai setengah meter. Keberadaan gedung kesenian yang layak atau tidak, bukankah ini juga terkait politik? Saya lebih dari satu dekade silam pernah cukup akrab dengan gedung ini. Karena waktu itu saya menjadi salah satu pengurus DKT. Hmm  
Saya membacakan sajak pesanan itu dan lumayan mendapat aplaus yang bersemangat dari hadirin dan terutama orang KPU Banten. Tetapi tentu bukan aplaus itu yang penting bagi saya, melainkan bagaimana KPU Banten berinisiatif melibatkan seniman sebagai agen untuk menyosialisasikan pilkada pentingnya berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Mungkin kau curiga, KPU Banten sedang mengarahkan komunitas seniman kepada calon tertentu.  
Panggung sosialisasi Pilkada tidak hanya diisi pembacaan puisi. Melainkan juga pentas seni tradisi. Angklung, tari pendet, reog ponorogo, dan lain-lain.  Subio, pimpinan Sanggar Singo Lodro, membawa puluhan pemain reog untuk pentas.  Setelah membaca sajak, saya mendekati Subio.
“Sudah lama, Mas, memimpin Sanggar Singo Lodro?”
“Sejak 2004.”  
“Sering mentas?”
“Lumayan.”
“Berapa kali setahun?”
“Hampir setiap bulan ada saja yang nanggap.”
“Untuk acara apa saja?”
“Macam-macam. Hajatan, pemerintahan, perusahaan.”
“Sampeyan orang Ponorogo”
“Bukan. Saya dari Wonogiri.” 
Obrolan belum tuntas ketika kawan saya melambaikan tangan ke arah saya. Tampaknya dia mau memberi honor. 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka