Panduan Sederhana Tamasya ke Ibu Kota

Bungsuku di Kebun Binatang Ragunan,
Kamis 22 Desember
 
Bersama teman-teman bersepeda keliling desa, mandi di sungai, main bola, main kelereng, bulutangkis tak cukup lagi bagi bungsuku untuk mengisi liburannya.  Dia merengek minta liburan ke Jakarta. Saban ditelpon tak bosan-bosan merayuku. Baiklah, akhirnya aku bersetuju. Aku mengiriminya dua lembar karcis kereta, untuk dia dan ibunya tentu saja. Aku membuat jadwal ke lokasi-lokasi wisata yang pengin dia kunjungi. Kebun Binatang Ragunan, Monumen Nasional, Kota Tua, Taman Mini Indonesia Indah. Aku menjemputnya di stasiun Pasar Senen. Keretanya datang tepat waktu, pukul 19.30. Aku langsung memeluk dan menciuminya begitu melihatnya muncul dari pintu stasiun. Bungsuku tak terlihat lelah sama sekali. Begitu bersemangat. Matanya berbinar riang. Mulutnya terus bertanya tentang lokasi-lokasi wisata yang akan kami kunjungi.  
**
Entah sejak kapan pergi liburan menjadi obsesi anak-anak di kampung. Mungkin sejak media sosial menjadi bagian dari hidup semua orang. Tempat menyiarkan apa saja kegiatan yang mereka lakukan. Bre Redana dalam banyak esainya, dengan agak lebay, sering mencemaskan betapa media sosial telah melahirkan banalitas yang tak terbayangkan. Semua orang ingin terlihat paling tahu banyak hal dan memamerkan semua yang dialaminya. Bahkan kalau perlu ketika mereka menggaruk ketiak dunia harus diberitahu. Seakan dunia memerlukannya. Semua orang tak sungkan memajang foto-foto menu makan, berteman dengan siapa saja, dan tentu saja lokasi-lokasi wisata yang mereka kunjungi.

Kaum urban kelas menengah barangkali yang memelopori pergi liburan menjadi bagian dari gaya hidup.  Menginspirasi anak-anak kampung melakukan hal yang sama. Bosan— tepatanya merasa ketinggalan—kalau hanya memajang foto-foto dengan latar belakang lingkungan kampung mereka sendiri di media sosial. Berpergian untuk liburan yang sebelumnya tak pernah ada dalam khazanah kehidupan mereka, kini menjadi obsesi yang harus dipenuhi.  Pergi liburan sebagai kegiatan selingan dari kerutinan untuk menambah wawasan, pengalaman, dan menyegarkan pikiran, tanpa ampun telah bergeser menjadi sekadar untuk foto-foto, kemudian memajangnya di media sosial. Dengan begitu mereka merasa ada dan menjadi bagian dari kerumunan. Masa depan adalah kerumunan, kata esais Damhuri Muhammad. Hidup asing sendiri memang jarang yang menggemari.  

Pada masa kanakku dahuku kala. Tak pernah terpikir olehku pergi berlibur. Ketika libur sekolah adalah saat tidak perlu bangun pagi dan mandi.  Selebihnya hanyalah membantu ibu menjaga warung atau mengarit rumput untuk kambing piaraan bapak. Yang paling sering aku ikut ibu belanja ke pasar. Memanggul barang-barang belanjaan.  Selebihnya hanyalah main di sawah seperti anak-anak kampung umumnya. Pada malam hari kadang diajak bapak nonton bioskop di kota kecamatan. Lalu makan bakmi. Itu sudah mewah sekali.

Mungkin masih banyak anak-anak sekarang yang mengisi liburannya sama dengan masa kanakku, tetapi kurasa mereka tidak tenang lagi melakukannya karena sudah diganggu dengan ‘konsep’ liburan ala kaum urban yang terus dipromosikan media sosial dan tayangan-tayangan di televisi.  “Setiap zaman kan berbeda semangatnya,” celetuk ibunya bungsuku ketika aku mengkritik dirinya yang turut mengompori bungsuku terobsesi liburan ke Jakarta.       
**
Bungsuku dan ibunya
Pukul enam bungsuku sudah bangun. Mandi pagi yang biasanya diawali dengan perdebatan kali ini dia lakukan dengan sukacita. Tanpa perlu air hangat seperti ketika di rumah. Tentu saja. Karena kami bersiap untuk memulai perjalanan mengisi momen pergi liburan. Lokasi wisata yang pertama adalah Kebun Binatang Ragunan di Jakarta Selatan. Kami keluar dari kamar sewa pukul tujuh, berjalan santai ke halte Tugu Tani menunggu bis Trans Jakarta. Yupz. Cukup sekali naik bis Trans Jakarta kau akan sampai ke alamat yang kau tuju. Kalau kau mau memilih waktu yang tepat, bus Trans Jakarta cukup nyaman, lega dan adem.  Hendak ke tujuan mana pun di Jakarta, sekarang kita hanya bayar satu kali asal kita mau sedikit sabar menunggu di halte transit. Jalur-jalur kecil pun sekarang sudah dapat diakses Trans Jakarta. Misalnya kau dari Pasar Senen mau ke Mega Kuningan, naiklah jurusan Senen-Lebak Bulus. Lalu transit di Halte Patra.

Masuk ke Kebun Binatang Ragunan tarifnya hanya Rp6.000-an untuk dewasa dan lebih rendah lagi untuk anak-anak. Sejak sekurangnya setahun lalu pembayarannya tidak bisa lagi pakai uang tunai. Melainkan menggunakan uang elektronik yang diterbitkan Bank DKI. Uang elektronik ini dapat digunakan juga untuk membayar ongks bis Trans Jakarta. Sekarang si bungsu dapat melihat langsung hewan-hewan yang selama ini hanya dilihat melalui televisi atau buku. Harimau, gajah, menjangan, kudanil, dan aneka mamalia dan hewan melata lainnya.

Kami menyusuri hampir seluruh jengkal Kebun Binatang Ragunan dengan sepeda yang kami sewa. Kami menyewa dua sepeda. Satu yang doubel atawa tandem, satu yang single atawa tanpa boncengan dengan tarif masing-masing Rp15.000 dan Rp10.000. Yang dobel untuk aku dan ibunya bungsuku, yang single buat si bungsu.  Mungkin sampai tiga jam kami di sana, menikmati rindang pepohon dan suara-suara kera yang riuh sekali.  Dari Kebun Binatang Ragunan kami melanjutkan perjalanan ke Sarinah. Dari halte akhir Ragunan kau tinggal cari jurusan Ragunan-Monas. Kami turun di halte Sarinah dan makan siang di gerai cepat saji yang banyak bertebaran di sana.    

Maghrib di Monas
Hari kedua usai turut ke kantor, aku mengajak bungsuku naik kereta listrik ke Kota Tua. Tidak terlalu ramai, jadi leluasa bagi bungsuku berkeliaran ke sana kemari. Dia merengek minta beli ketapel berlampu. Tidak kami kabulkan. Ternyata ini membuat gusar dan kesal si bungsu hingga berhari-hari kemudian.  Kami pulang naik Trans Jakarta dan turun di halte Tosari, lalu masuk ke Grand Indonesia, mencari  gerai pizza. Sejatinya aku tak suka masuk mal dan makan makanan cepat saji di sana, tapi seorang teman menghadiahiku vocher makan pizza yang mubazir bila tidak digunakan. Jadi, belagak wisatawan berkantung tebal aku mengajak bungsuku dan ibunya masuk resto pizza mahal.

Kami ke Monas pada hari ketiga. Seyogyanya kami ingin naik bis wisata keliling Jakarta. Namun bis yang ditunggu tak kunjung muncul setelah sejam kami menunggu. Akhirnya kami naik Trans Jakarta lagi, turun di halte Monas. Seberang halte Museum Nasional ini ada Museum Nasional atawa lebih dikenal sebagi museum gajah. Aku berencana besok ke sana yang kemudian batal. Pada malam hari Monas terlihat indah sekali. Pelatarannya bersih karena para pedagang dilarang menggelar atau mengasong daganganya di sana. Para pedagang disediakan lokasi di Lenggang Jakarta, sebelah kiri pintu keluar patung kuda.

Kolam ombak, Atlantis,
Taman Impian Jaya Ancol
Esoknya ketika kami bersiap kembali ke desa, seorang teman menelpon. Dia menawari kami main ke Taman Impian Jaya Ancol. Tentu saja kami tak rela menolak. Si bungsu langsung bersorak gembira.  Dari halte kolong stasiun Gondangdia kami naik bis Trans Jakarta. Lalu transit di halte Atrium Senen. Dari sana kami menunggu Trans Jakarta jurusan Ancol.  Teman kami pegawai di sebuah resort di sana. Dia memberi kami fasilitas menikmati wahana hiburan. Kami memilih Atlantis. Pada hari libur tiketnya Rp190.000 per orang. Hampir empat jam kami menghabiskan waktu di Atlantis, mencobai hampir semua wahana permainan yang ada di dalamnya. Lalu kami jalan-jalan ke pantainya dan melihat orang main papan selancar. Ohiya untuk kembali dan dari halte Ancol disediakan bis Wara Wiri oleh pengelola ke lokasi-lokasi hiburan. Gratis. Kalau naik taksi dari halte Ancol ke lokasi hiburan tarifnya Rp30.000. Terang saja kami memilih naik bis Wara Wiri. Pada malam Natal yang hening kami pulang ke desa terpaksa menggunakan bis lantaran kehabisan karcis kereta.          

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka