Perang dan Neraka yang Diciptakannya

Model oleh Dianita
Kita acapkali dibikin miris melihat nasib perempuan di negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim. Kalau saya sebut mayoritas muslim dan mengaitkannya dengan perilaku buruk, please gak usah baper, apalagi ditambah uring-uringan. Karena pernyataan serupa itu sama sekali bukan hujatan kepada ajaran Islam. Melainkan perilaku buruk penganutnya. Kita hanya boleh geram dan marah manakala ada perlakukan tidak adil masyarakat terhadap perempuan berdalih demi menegakkan pesan agama (:Islam) sebagai sumber pembenaran. Kau tentu Ingat Malala Yousafzai, remaja Pakistan yang diburu untuk dibunuh Taliban gara-gara bersikeras mengampanyekan pentingnya sekolah untuk kaum perempuan. Yousafzai menjadi simbol perlawanan perempuan atas keberingsasan. Sikap Taliban yang cenderung misoginis membuat kita geram dan marah.  
Geram dan marah itu pula yang menguntitku ketika membaca novel Parvana karya Deborah Ellis, aktivis antiperang dan konselor korban perang. Ia mengetengahkan perjalanan Shauzia, bocah perempuan Afghanistan yang bermimpi pergi ke padang lavender, Paris. Meninggalkan kehidupan yang ganas di negeri yang dikuasai komplotan bersenjata Taliban yang sangat menindas perempuan.  Bagi Taliban, perempuan sepenuhnya mahkluk domestik. Tidak diperkenankan melakukan kegiatan apa pun di luar melayani laki-laki. Mereka akan menangkap perempuan yang berkeliaran di luar rumah. Melarang mereka sekolah, berkarir, dan mengekspresikan diri. Mereka tak segan menembak mati perempuan yang membantah.
Shauzia hidup sendirian setelah seluruh keluarganya tewas akibat peperangan, sekarang dia menjadi gelandangan dengan menyamar sebagai laki-laki. Dia ditemukan dan dirawat Bu Weera , aktivis perempuan yang mengelola panti penampungan janda di kamp-kamp pengungsian korban perang yang beroperasi di tepi perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Bu Weera merangkap sebagai kordinator organisasi perempuan bawah tanah yang membangun klinik, sekolah, dan mencetak majalah.
Bu Weera mengajar para perempuan mengenal huruf-huruf dan membaca. Shauzia membantu Bu Weera menghibur anak-anak dengan mendongeng. Wilayah yang panas secara geopolitik maupun iklim itu bagai neraka bagi perempuan. Kemiskinan dan keterbelakangan menjadi sahabat tak terpisahkan dari napas mereka. Mereka tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari lumpur. Panas dan berdebu.
Shauzia bosan dan tertekan, terutama sejak ia bertemu Parvana dan melihat gambar padang lavender di Prancis yang diperlihatkan temannya itu. Shauzia menuntut gaji kepada Bu Weera atas pekerjaannya mendongeng. Kelak, dari gaji yang dikumpulkannya ia berangan-angan dapat mewujudkan mimpinya pergi ke Prancis. Tetapi Bu Weera tak memberinya gaji. Hal itu membuat Shauzia kesal dan akhirnya nekat kabur dari penampungan pengungsi. 
Dia pergi ke Peshawar bersama Jasper, seekor anjingnya yang setia. Di kota yang hampir sama ganasnya dengan Kabul itu, Shauzia menjadi gelandangan dan  bekerja serabutan demi mengumpulkan uang. Menjadi penyapu toko, pengantar makanan, pencuci piring, dan pekerjaan kasar lainnya. Dia menyimpan uang penghasilannya dalam buntalan yang selalu dibawa kemana pun dia pergi. Suatu hari, ketika sedang beristirahat di taman kota, dia kena garuk kawanan polisi. Seluruh tabungannya dirampas dan dia dijebloskan ke dalam penjara.  
Jasper yang kemudian menolong Shauzia keluar dari sana. Pada bagian ini memang agak ajaib. Jasper memberi isyarat kepada Tom, seorang ekspatriat asal Amerika yang sering melihat Shauzia bersama anjingnya memungut makanan sisa di tong sampah restoran. Tom yang seorang insinyur itu menebus Shauzia dari penjara dan membawa gadis itu tinggal bersama di rumahnya yang mewah di Peshawar. Tom dan Barbara, istrinya, serta anak-anak mereka menyambut kehadiran Shauzia dengan riang. Shauzia menjadi bagian dari keluarga itu dan menikmati lantai yang bersih, ruangan yang sejuk, selimut dan kasur yang empuk, dan tentu saja roti dan buah segar yang selalu penuh di dalam kulkas mereka. 
Tetapi pada suatu hari Shauzia memasukkan para gembel ke dalam rumah Tom. Mereka berpesta pora menikmati kemewahan yang tidak pernah mereka bayangkan ada di dunia. Mereka mandi menggunakan sabun, tidur di kamar Tom dan Barbara. Shauzia berpikir apa yang dilakukannya disukai Tom dan Barbara. Bukankah mereka membawa Shauzia masuk ke rumahnya?  Apa yang dilakukan Shauzia membuat Tom dan Barbara berpikir ulang untuk merawat Shauzia. Akhirnya mereka mengembalikan Shauzia ke kamp pengungsi.
Novel ketiga dari trologi ini tidak menuding-nuding kebengisan Taliban dan kehidupan ganas di bawah kekuasaan mereka. Melainkan menunjukkan bagaimana nasib tragis yang dialami gadis kecil Shauzia. Bahkan di sana tidak dihadirkan Shauzia meratapi nasibnya. Ia gadis pintar, pemberani, dan kuat yang harus menyamar menjadi laki-laki. Kadang kita gemas melihat ulah, sikap, dan cara berpikirnya yang lugu. Peperangan membuat segala potensi dan kepintaran Shauzia ‘sia-sia’. Perang tidak pernah memberikan apa-apa selain kehancuran.
Novel ini rasanya relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini yang dikuasai sikap mau menang sendiri sebagian elemennya. Sikap menyalahkan orang lain, merasa benar sendiri. Apabila sikap serupa itu tidak direm, tidak mustahil akan menjerumuskan bangsa ke dalam jurang peperangan.  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka