Persilangan Jagat Maya dan Dunia Nyata

Model Vindira Yuni
Dalam pemberitaan di media massa banyak kita temui kasus-kasus kejahatan yang bersumber dari dunia maya. Penipuan, pemerkosaan, perundungan, pencemaran nama baik, dan aneka kasus kejahatan lainnya. Perdebatan antarkubu atau antarpendukung calon pemimpin pemerintahan misalnya, kerap meletupkan ketegangan bahkan pertikaian di dunia nyata. Dunia maya memunculkan kecemasan-kecemasan baru.  
Jayanegara, tokoh dalam novel Kerumunan Terakhir Okky Madasari menjalani paradoks jagat maya.  Ia menukar identitas aslinya menjadi pribadi yang diangankannya bernama Matajaya di media sosial untuk menyerang dan membongkar sisi durjana bapaknya, seorang terpelajar yang memiliki otoritas kuat di sebuah lembaga pendidikan dan dunia akademisi. Apa yang dilakukan Jayanegara dapat dilihat sebagai simbol pemberontakan generasi milenial atas kemapanan penuh dusta yang dibangun orang-orang tua di dunia nyata.
Dunia maya kita tahu sekarang telah menerobos benteng-benteng yang susah ditembus di dunia nyata. Dunia maya menyediakan tempat bagi semua orang untuk mereguk kesempatan yang sama. Dalam dunia bisnis dan ekonomi misalnya. Orang dapat menjadi pedagang atawa pengusaha tanpa perlu memiliki pabrik dan toko, bahkan tak perlu keluar dari kamarnya. Jalur distribusi telah terpangkas sedemikian rupa. Namun bagi Jayanegara, dunia maya hanyalah peralatan untuk membalas dendam kepada ayahnya yang telah mengkhianati ibunya dan nyaris merebut kekasihnya.
Matajaya memperoleh banyak hal dengan identitas barunya di jagat maya; menjadi pengagum sekaligus sosok yang dikagumi dan dikuti sabda-sabdanya oleh penghuni jagat maya yang memungkinkannya menjadi apa dan siapa saja. “Keinginan masa kecilku bukan lagi khayalan di siang bolong. Aku bisa jadi Batman, bisa jadi Superman, bisa jadi Robin Hood. Bahkan bisa jadi pendekar dari dunia persilatan ….” (hal 117)
Di dunia maya Jayanegara menemukan semacam oase sekalipun semu “Di dunia yang sudah susah sekali mencari orang yang peduli dan bisa dipercaya ini, ke mana aku bisa bercerita dan bertanya tentang hal yang memalukan ini? Hanya ada satu tempat yang bisa dipercaya: Google! Aku meng-Google semua kegelisahankau. Aku bercakap-cakap dengannya seolah-olah dia seorang teman yang sedang duduk di hadapaku. (hal 229)
Sampai kemudian Jayanegara tiba pada situasi yang enigmatik. Ia tak dapat memisahkan identitas buatannya di jagat maya dan identitas aslinya di dunia nyata. Sebuah situasi yang saya kira sekarang banyak dihadapi para penghuni jagat maya.
Jagat maya kita tahu menggelontorkan gelombang informasi yang tak pernah putus dari segala penjuru, menelan dan menggulung tanpa ampun, membuat kita tak memiliki waktu berhenti sejenak untuk mengambil napas, mendengar dan menyadari keberadaan kita sendiri. Kedirian Jayanegara yang terbelah kini saling berbenturan dan menimbulkan kekacauan yang tak terkendali.
Sisi gelap
Dunia maya yang sesungguhnya membentangkan kesempatan maha luas untuk menggali dan mengembangkan potensi, jatuh menjadi dunia yang lebih mirip hutan belantara yang penuh binatang buas. Okky Madasari tampaknya secara sengaja memilih menampilkan sisi gelap dunia maya sebaiknya dijauhi, bukan diatasi.
Ketidaksiapan generasi digital menggauli jagat yang hidup di layar gawai dalam genggaman mereka. Lihatlah, setelah dendamnya terbalas, Jayanegara berama kekasihnya Maera bertekad meninggalkan jagat maya dan kembali ke nilai-nilai akar budaya yang menghidupinya pada masa kecil yang terpencil di lereng gunung. “Aku ingin pergi ke tempat yang tidak ada HP, tidak ada internet, tidak ada televisi, tidak ada radio…”  (hal. 349). Keputusan Jayanegara barangkali cerminan sikap apatisme pengarang kepada teknologi digital.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka