Mengingkari Asal Usul

Model diperani pengelola blog
Meskipun novel ini berkisah tentang makna sebuah nama, sejatinya The Namesake karya Jhumpa Lahiri, pengarang India yang lahir-tumbuh di Inggris dan berkewarganegaraan Amerika, membeber perihal perbenturan nilai-nilai budaya Timur dengan Barat.
Gogol merasa aneh dan menganggap betapa tidak praktisnya budaya asal negeri kedua orangtuanya, Ashok dan Ashima. Mereka adalah migran asal Bengali, India, di Pemberton Road, Massachusetts, Amerika, yang setia menjunjung budaya leluhur negerinya. Mereka menerapkan nilai-nilai Bengali dalam mendidik, bersikap, dan bertindak kepada anak-anaknya, Gogol dan Sonia. Mulai dari hal-hal sederhana seperti ketika hendak bepergian, apalagi bepergian ke tempat-tempat yang jauh untuk tujuan belajar, orang Bengali akan mengundang seluruh saudara-saudara dan para kerabat mereka untuk mengantar, paling tidak melepasnya di pintu rumah. Dan memberikan sambutan kepada saat kepulangan. Keberangkatan dan kepulangan bagi orang Bengali bukan sesuatu yang sederhana.
Budaya Bengali juga tidak biasa menunjukkan kemesraan, semacam berpelukan dan berciuman di muka umum.  Maka di belakang orangtuanya, Gogol mengabaikan nilai-nilai Bengali. Gogol berpacaran dengan sejumlah perempuan Amerika.  Gogol berciuman dengan Kim, teman sekolahnya. Melepas keperjakananya pertama kali dalam sebuah perayaan Thanksgiving dengan seorang gadis yang bahkan tidak ia tahu namanya. Lalu menjalin hubungan kekasih dengan Ruth, kemudian Maxine. Sebagaimana galibnya gaya berpacaran Amerika, Gogol berciuman dan berhubungan badan dengan mereka.
Bahkan Gogol tinggal satu kamar dengan Maxine di rumah Gerald dan Lydia, ayah dan ibu tiri Maxine. Gerald dan Lydia dengan santai menerima kehadiran Gogol menjadi bagian dari keluarga mereka, tidur sekamar dengan Maxine. Gogol lebih memilih pergi berlibur bersama Maxine dan kedua orangtua kekasihnya ke New Hampshire ketimbang pulang melepas keberangkatan Ashok yang mendapat beasiswa untuk tugas riset  ke Ohio (meskipun Gogol akhirnya dengan terpaksa mampir—hanya mampir! sebentar menemui kedua orangtuanya).  
Ashima tidak dapat membayangkan anak-anaknya bisa mengumbar kemesraan dengan pasangannya di depan umum seperti orang-orang Amerika.  Namun pada saat yang sama orang Amerika menjunjung privasi. Ketika Ashima akan melahirkan di rumah sakit Mount Auburn, Cambridge, Ashima ingin menyapa mereka dan mendengar cerita pengalaman mereka saat persalinan. Tapi Ashima mengurungkan niat karena bagaimana pun orang-orang Amerika menganggap itu sebagai privasi yang tidak boleh diceritakan kepada orang lain.      
Meskipun tetap menghargai pilihan orangtuanya menjunjung nilai-nilai Bengali, Gogol diam-diam terus menolak. Penolakan itu pertama-tama ia lakukan dengan mengganti namanya, menjadi Nikhil. Kepada teman-teman barunya, ia mengenalkan diri sebagai Nikhil. Dengan nama itu, Gogol merasa menjadi lepas dari jeratan budaya Bengali yang tidak praktis, serta pandangan aneh teman-teman Amerikanya.
Padahal Gogol sendiri bukan nama Bengali. Gogol adalah nama belakang pengarang Rusia Nikolai Gogol yang sangat dikagumi Ashok. Tetapi sejarah pemberian nama Gogol berkaitan dengan budaya Bengali. Ketika Ashima melahirkan, sebagaimana tradisi Bengali, neneknyalah yang akan memberi nama. Tapi neneknya yang berada di India tak kunjung datang untuk memberi nama kepada cucunya. Sampai beberapa minggu tidak kunjung ada kepastian hingga datang kabar neneknya telah meninggal. Akhirnya Ashok mengambil nama depan pengarang favoritnya itu menjadi nama anaknya.
Gogol mengenal nama pengarang bernasib tragis itu dari Mr Lawson, gurunya di sekolah menengah. Nikolai Gogol lahir di provinsi Poltava dalam keluarga Ukraina. Ayahnya tuan tanah biasa yang menulis drama. Ayah Pengarang Gogol meninggal saat Gogol berusia 16 tahun. Gogol belajar di Lyceum of Nezhin, lalu pindah ke St Petersburg tahun 1928. Di sana Gogol masuk dinas pegawai negeri pada 1892, di Departemen Pekerjaan Umum dan Kementerian Dalam Negeri. Dari tahun 1830 sampai 1831, Gogol ditransfer ke Departemen Pertanahan Kementerian Kehakiman. Setelah itu ia menjadi guru, mengajar sejarah di Young Ladies Institute, kemudian di Universitas St Petersburg. Pada usia 22, ia bersahabat erat dengan Alexander Pushkin. Pada 1830 ia menerbitkan kumpulan cerita pendek pertamanya. Enam tahun berikutnya naskah drama komedinya dipentaskan di St Petersburg. Kecewa dengan sambutan buruk penonton atas drama itu, Gogol meninggalkan Rusia. Selama 12 tahun berikutnya ia tinggal di Roma, Prancis, dan tempat-tempat lain sambil menyusun jilid De Souls, novel pertamanya yang paling banyak dipuji. Gogol jenius eksentrik yang hidupnya tidak dipahami orang-orang. Ia seorang introvert yang membuat kondisi mentalnya menurun. Karir kesusastraan Gogol berlangsung selama kira-kira sebelas tahun, setelah itu ia mengalami writer block. Tahun-tahun terakhir hidupnya ia mengalami kemunduran fisik dan kesengsaraan emosional. Bertekad mengembalikan kesehatan dan ilham kreatifnya Gogol mengunjungi serangkaian spa dan sanatorium. Pada 1848 ia berziarah ke Palestina. Gogol kembali ke Rusia, pada 1852, di Moskow, kecewa dan yakin bahwa dirinya telah gagal sebagai penulis, ia menghentikan semua kegiatan menulis, membakar naskah jilid kedua Dead Souls. Lalu dia menyatakan hukuman  mati atas diri  sendiri. Dia bunuh diri perlahan-lahan dengan membiarkan dirinya kelaparan.  
Hak memilih nama
Mestinya seseorang diberi hak untuk memilih namanya sendiri ketika dewasa, kata Gogol dengan gusar. Dan itulah yang kemudian dilakukan Gogol. Kini namanya berubah menjadi Nikhil. Tindakan yang membuat Ashok dan Ashima menangis. Ashok menyayangkan tindakan Gogol mengubah nama yang bagi Ashok sangat bersejarah itu. Ashok memilih nama Gogol bukan hanya karena itu nama belakang pengarang favoritnya, melainkan karena novel The Overcoat karya Nikolai Gogol itu telah menyelamatkan nyawanya dalam sebuah kecelakaan kereta api dalam perjalanan ke rumah kakeknya di Jamshedpur. Sebuah kisah yang dipendam Ashok lantaran merasa tak pernah memiliki waktu yang tepat untuk menceritakannya kepada Gogol. Di India, hanya Ashima yang tahu kisah itu. Kisah yang membuat Gogol merasa sedih, bersalah, dan menyesal mengganti nama.
Mengapa seseorang memiliki hak memilih nama untuk dirinya sendiri? Novel pemenang penghargaan Pulitzer untuk kategori Interpreter of Maladies ini mengapungkan pertanyaan tersebut. Perbenturan budaya dikisahkan dengan lembut dan alur yang meliuk-liuk, tanpa penghakiman. Kalimat-kalimat dan metafor yang puitis. Dengarlah paragraf yang melukiskan perpindahan dari budaya Bengali ke budaya Amerika. Jadi begitulah, delapan tahun itu tersingkir, tersisih, dan langsung terlupakan seperti pakaian yang hanya dipakai untuk kesempatan khusus, untuk musim yang telah berlalu, tiba-tiba saja tidak lagi praktis, tidak relevan lagi bagi kehidupan mereka.  
Dalam khazanah sastra klasik kita, kisah perbenturan budaya yang membuat tokoh-tokohnya mengalami gegar budaya yang paling fenomenal pada masanya ditulis oleh Abdul Muis, berjudul Salah Asuhan. Hanafi, dalam novel terbitan Balai Pustaka 1928, menampik asal usulnya yang menurut Hanafi kampungan, tak modern. Dia meninggalkan Rapiah, istri pilihan orang tuanya yang dianggap ndeso, dan mengejar Corrie, perempuan blasteran Belanda-Perancis. Mereka menikah, namun pernikahan mereka tidak bahagia dan berakhir dengan kemaian Corrie oleh penyakit kolera. 
Hanafi mengingkari asal usulnya sampai akhir hayat, karena malu untuk mengakui kekeliruannya. Tidak demikian dengan Gogol. Ia akhirnya berpisah dengan Maxine dan menikah dengan Moushumi, gadis Bengali putri kolega Ashima. Sialnya, Moushumi telah mengalami gegar budaya seperti Gogol. Moushumi memandang biasa berhubungan badan dengan pacar-pacarnya. Kadang ia bisa bersebadan dengan tiga lelaki berbeda dalam satu hari. Setelah menikah dengan Gogol, Moushumi berselingkuh dengan mantan pacarnya waktu sekolah di Inggris, Dimitri Desjardins. Tampaknya kedua pengarang ini menghukum tokoh-tokohnya yang tidak menjunjung nilai budaya leluhurnya. Moushumi yang gemar selingkuh adalah hukuman bagi Gogol; dan kematian Corrie hukuman bagi Hanafi.    
  


Judul:  The Namesake (Makna Sebuah Nama) • Penulis: Jhumpa Lahiri • Penerjemah: Gita Yuliani K • Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama •  Cetakan:  Agustus 2006 • Tebal :  328 halaman

Comments