Semua Sejarah Adalah Fiksi

Sebuah adegan Istirahatlah Kata Kata
Menonton Istirahatlah Kata Kata mengenangkan saya pada masa-masa bekerja menjadi buruh pabrik di Tangerang. Kawan saya langsung nyeletuk, kok bisa? Pada bagian mana. Bukankah di film ini tak ada adegan buruh sedang bekerja atau aksi demonstrasi? Jadi begini, buruh juga manusia. Ia tidak melulu bekerja dan aksi demonstrasi. Ia juga bisa sendirian dan merasa ketakutan dikejar-kejar aparat setelah menggerakkan aksi. Tetapi tentu saya tidak seheroik Wiji Thukul. Saya hanya buruh yang ikut-ikutan aksi demontrasi menuntut perbaikan upah. Seusai aksi itu malam-malam ada orang yang mencari para buruh yang ikut dan menggerakkan aksi, termasuk saya.
Saya ingat, kami berjumlah 40-an orang melakukan aksi demonstrasi hingga berminggu-minggu. Sampai membuat tenda di depan pagar pabrik karena kami tak diperkenankan masuk. Pabrik milik orang Korea itu mengupah kami tidak sesuai aturan pemerintah. Itulah yang memicu aksi. Serikat pekerja yang ada di pabrik kami, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) bentukan Orde Baru, tak menolong buruh yang mereka wakili. Maka kami berencana membuat serikat buruh baru. Pemogokan pun meletus.    
Tetapi, lagi-lagi, penting saya jelaskan bahwa saya tidaklah sedramatis Wiji Thukul, saya cuma ikut-ikutan. Dan aksi saya dan kawan-kawan tidak terjadi pada era berkuasanya raja rezim Orde Baru yang bengis itu. Melainkan dua atau tiga tahun setelah periode Orde Baru berlalu, dan yang mencari kami pun bukan tentara, melainkan petugas keamanan pabrik. Namun tak urung membuat saya, yang cemen ini, kecut. Malam itu saya meninggalkan kamar kontrakan dan bergabung di sebuah kontrakan kawan yang dituakan dalam aksi tersebut. Kami bergerombol dan merencanakan aksi berikutnya. 
Perasaan kecut, takut, ngeri yang dialami Wiji Thukul dalam film itu yang mengingatkan pada situasi yang saya alami. Dan saya rasa Gunawan Maryanto menafsirkan dengan baik ketakutan Wiji hukul di sepanjang film berdurasi 97 menit ini. Dari gestur tubuh, tekanan nada bicaranya menyusupkan perasaan sesak dan ngilu, kepada saya, dan barangkali juga Anda yang menonton.
Film ini memilih memotret periode Wiji Thukul saat dalam pelarian ke Pontianak, Kalimantan Barat. Beberapa saat setelah kekisruhan politik di Jakarta yang menyusul aksi demonstrasi  di kantor PDIP hanya ditampilkan melalui siaran radio. Kita lalu mengikuti perjalanan Wiji Thukul mengarungi laut dan hutan-hutan Kalimantan yang sunyi dan kelabu. Tinggal berpindah-pindah, dan akhirnya tinggal di rumah kawannya yang orang Medan. Ekspresi Wiji Thukul begitu tertekan, tak mampu menulis puisi, tak ada teriakan “hanya satu kata, lawan!” dari bibirnya yang agak monyong; sebelah matanya terlihat memar dan menyorotkan keputusasaan.
Wiji Thukul yang saya kenal sebagai penyair, aktivis, dan pejuang demokrasi yang pemberani lesap dalam film ini; yang kita temui hanya tubuh kerempeng dan rapuhnya. Wajahnya yang sering menunduk kelu, tangannya sibuk menarik topi kusamnya dalam-dalam.  Ini yang membuat sebagian kalangan yang mengenal Wiji Thukul sebagai sosok pemberani, protes dan bahkan marah dengan penggambaran Wiji Thukul yang penakut, cemen, dan loyo. “Film ini telah mederadikalisasi Wiji Thukul!” protes mereka. Wiji Thukul telah dilepaskan dari keberaniannya memperjuangkan hak-hak buruh dan melawan rejim penindas.
Sebagai film biopik, untuk mengenalkan Wiji Thukul sebagai sosok penyair dan aktivis yang cerdas dan pemberani kepada generasi yang tumbuh jauh setelah periode rejim Orba,  Istirahatlah Kata-Kata mungkin gagal. Tetapi sebagai sebuah karya seni, film ini bagi saya sangat menarik. Melalui gambar-gambar yang redup-muram dan bergerak lambat, mampu menyajikan dan menggali sosok Wiji Thukul tidak sekadar seperti yang kita kenal yang hampir menjadi mitos.  Yosep Anggi Noen saya kira sudah tepat memilih hanya menampilkan sebuah periode tertentu dari perjalanan hidup Wiji Thukul.  Bagaimana pun Wiji Thukul tetaplah seorang manusia dan justru karena itu sangat kompleks dan tak mungkin ditampilkan secara utuh dalam sebuah film. 
Film biopik sekalipun, tetaplah sebuah film, karya seni, kerajinan. Ia tidak dapat dilepaskan dari kerja penafsiran dan imajinasi. Sebuah peristiwa atau sosok nyata dalam sejarah, ketika diwujudkan dalam bahasa ataupun gambar adalah hasil kontruksi yang mustahil serupa dengan gambaran setiap orang. Kalangan yang memprotes tentu boleh membuat film Wii Thukul sesuai versi mereka. Seperti Sukmawati membuat film ‘Soekarno’ lantaran tidak puas dengan ‘Soekarno’ besutan Hanung Bramantyo beberapa tahun lalu.  Bukakah sejarah ketika ia mewujud dalam rangkaian kata-kata maupun gambar adalah fiksi?
Pembacaan sahak-sajak Wiji Thukul
di pelataran Teater Jakarta, TIM, Selasa (24/1)
Sekadar informasi, saya menonton film ini pada pemutaran hari kedua di Blok M Square. Penontonnya tidak semembludak pada hari pertama. Untuk sebuah film drama biopik aktivis penyair yang sama sekali tidak ‘populer’, sambutan penonton sangat di luar kebiasaan. Sampai-sampai jaringan bioskop 21 langsung menambah dua layar menjadi lima layar pada hari kedua. Dan hingga sekarang Istirahatlah Kata Kata memasuki pemutaran hari keempatbelas. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  merasa perlu menggelar nonton bareng film ini Plaza Senayan pada 24 Januari. Malamnya sekelompok anak-anak muda membacakan pusi-puisi Wiji Thukul di pelataran Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.   

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka