Posts

Showing posts from March, 2017

Menyingkap Borok Politik Identitas

Image
Novel Tanah Surga Merah (TSM) menyodorkan konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai latar cerita. Konflik yang muncul mendenyutkan kisah, dan memantik motif tokoh-tokohnya berpikir dan bertindak. Konflik politik dengan demikian tidak sekadar sebagai latar cerita, melainkan menukik menjadi inti cerita—seperti diungkapkan Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (2016) sebagai alasan mereka memilih novel ini menjadi salah satu pemenang. Konflik muncul dan diletupkan oleh segelintir elite dengan mengembangkan politik identitas demi mencapai ambisi kekuasaan. Apa yang coba disodorkan TSM barangkali dapat menjadi cermin yang jernih untuk merenungkan dan melihat kembali secara kritis betapa politik identitas berbasis primordialisme agama—yang belakangan gejalanya cenderung menguat dalam realitas kita berbangsa—merupakan ancaman serius bagi kehidupan demokrasi. Politik identitas pada akhirnya hanya memecah belah, alih-alih bekerja memakmurkan kehidupan rakyat. Ia tak s…

Voice of an Angel

Image
As a singer, Asnah’s stage performance is definitely something else. No one has ever been able to outdo her. Accompanied by an organ, her performance has always been the sort that leaves many trembling with excitement, as if she is a superstar. And that is exactly what Asnah is good at: imitating real superstars with her star-like quality and malleable voice. For example, when she performs a number by Elvy Sukaesih, the Queen of Dangdut, Asnah channels the superstar by twirling her eyes, letting out a characteristic moan and shaking her shoulders just so. And when she performs a number by Rita Sugiarto, Nur Halimah or Ikke Nurjanah, she channels them, too. The stage is her acting chamber and everyone is enthralled by her performance.

Dongeng Cinta Sepasang Monyet

Image
Kalau kamu pernah mendengar cerita tentang monyet-monyet penghuni Taman Wisata Plangon yang dulunya adalah manusia yang dikutuk, kemarin aku bertemu dengan sumber pertama cerita ini. Ia seorang nenek yang telah berusia lebih dari 200 tahun, yang menyaksikan langsung bagaimana kawanan prajurit itu berubah menjadi monyet. Aku tak sengaja bertemu dengan nenek itu. Ia tengah celingukan hendak menyeberang jalan yang penuh iring-iringan aneka kendaraan yang melaju perlahan, tak putus-putus. Ia datang dari arah pantai berhutan bakau dan hendak pulang ke arah perkampungan yang bersebelahan dengan kompleks perkuburan tua di seberang jalan Pantura. Ia terlihat kebingungan melihat iring-iringan kendaraan yang tak habis-habis.

Feminisme Jawa di Mata Perempuan Papua

Image
Irewa menyaksikan pertengkaran pasangan suami istri di pasar. Si Istri tidak hanya berani melawan dan membentak suami tetapi juga menampar dan mengusirnya. Pertengkaran pasangan yang tampaknya dari Jawa itu mengesankan Irewa. Ia tak dapat membayangkan ia dan perempuan sekaumnya berani berlaku semacam itu kepada suami. Di Papua, suami tak ubahnya raja yang harus disembah dan dituruti segala titahnya. Jangankan membantah, sedikit saja berulah yang membuat suami kesal, gamparan dan pukulan bakal mendarat di tubuh istri. Laki-laki di Papua hanya bertugas sebagai pejantan yang menghamili istrinya. Urusan mencari nafkah, melahirkan, dan mengurus anak-anak sepenuhnya tanggung jawab perempuan. Terlahir sebagai perempuan serupa kutukan yang menyengsarakan.

HOOQ, Penyelamat Penggemar Film

Image
Kegemaran saya banyak sekali. Salah satunya dan yang paling penting adalah menonton film. Bila dideretkan, kegemaran menonton film menempati ranking pertama. Kegemaran ini tumbuh sejak masa kanak. Gara-garanya mungkin karena saya sering diajak ayah dan bibi saya  menonton film di bioskop yang kala itu ada berdiri di kota kecamatan saya di kota kecil saya, pesisir Cirebon. Film yang acap kami tonton adalah film India dan film laga nasional. Biasanya kami berangkat ke bioskop usai salat maghrib berjamaah, menunggang sepeda ontel. Sepanjang jalan kami mendengar sayup-sayup suara orang mengaji dari mesjid atau musala yang kami lewati. Itu seperti melarikan diri dari hukuman demi menikmati kesenangan yang membius. Duduk dalam keremangan studio menghadap layar bioskop bagi saya menikmati sensasi tersendiri yang membuat ketagihan. Bagi saya itulah momen paling menyenangkan dalam hidup saya. Menyaksikan film adalah menyimak kisah manusia dan mimpi-mimpinya. Maka sebisa-bisanya saya akan senant…