Feminisme Jawa di Mata Perempuan Papua

Model: Utami
Irewa menyaksikan pertengkaran pasangan suami istri di pasar. Si Istri tidak hanya berani melawan dan membentak suami tetapi juga menampar dan mengusirnya. Pertengkaran pasangan yang tampaknya dari Jawa itu mengesankan Irewa. Ia tak dapat membayangkan ia dan perempuan sekaumnya berani berlaku semacam itu kepada suami. Di Papua, suami tak ubahnya raja yang harus disembah dan dituruti segala titahnya.
Jangankan membantah, sedikit saja berulah yang membuat suami kesal, gamparan dan pukulan bakal mendarat di tubuh istri. Laki-laki di Papua hanya bertugas sebagai pejantan yang menghamili istrinya. Urusan mencari nafkah, melahirkan, dan mengurus anak-anak sepenuhnya tanggung jawab perempuan. Terlahir sebagai perempuan serupa kutukan yang menyengsarakan.
Apa yang disaksikan Irewa menyusupkan kesadaran bahwa istri bisa dan boleh melawan suami. Tetapi kesadaran itu tidak mengubah Irewa secara drastis. Melawan adat tidak sekadar membutuhkan keberanian melainkan perlu strategi, dan dilakukan secara bertahap, kecuali ingin berakhir konyol. Irewa harus menerbitkan kesadaran kepada perempuan sekaumnya, dan tahap pertama yang harus dilakukannya adalah dengan pendidikan. Maka Irewa menerima tawaran Camat Selvi Warobay, membantu memberikan pendidikan kepada kaum perempuan Papua guna menumbuhkan kesadaran mereka akan hak-haknya.
Itulah yang diketengahkan Isinga, novel yang memenangi anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2015,  garapan Dorothea Rosa Herliany. Dorothea kita kenal lebih dulu sebagai penyair perempuan yang dianggap menonjol dalam mengolah diksi-diksi perempuan. Melalui novelnya ini Dorothea seolah makin mempertegas posisinya sebagai pengarang yang memihak kepada perempuan. Dengan mengambil setting Papua, sebuah wilayah yang masyarakat dan adat budayanya masih sangat kuat menindas perempuan, Dorothea lantas membandingkan nasib perempuan Papua dengan perempuan Jawa yang hadir sebagai pendatang di Papua.
Perempuan Jawa dijadikan model atawa inspirasi bagi Irewa untuk melakukan perlawanan terhadap adat yang menindas kaum perempuan. Bagi Irewa, perempuan Jawa bernasib lebih baik. Mereka berani melawan suami ketika suami memperlakukannya tidak adil. Secara kasat mata, perempuan Papua, dibandingkan dengan perempuan Jawa, terutama dari kasus pertengkaran pasangan suami istri Jawa yang dilihat Irewa, menerima nasib yang lebih baik. Padahal secara kultural dan struktural, nasib perempuan Papua dan perempuan Jawa, dan perempuan-perempuan di daerah lainnya di Indonesia sejatinya, apa boleh buat, masih tidak jauh berbeda; kaum yang tersubordinasi laki-laki. Bahkan di Sumatera Barat yang berlaku sistem budaya mathiarkis, dan sekarang makin terkikis dengan menguatnya aliran politik yang cenderung kanan. Sistem budaya mathriarkis di Sumatera Barat sebatas kultural, tidak struktural. Keputusan-keputusan penting yang menyangkut kehidupan sosial tetap berada di tangan laki-laki.     
Nasib perempuan Indonesia umumnya secara struktural dan kultural masih berada di bawah kuasa laki-laki. Sistem budaya patriarkis mencengkeram kuat masyarakat Indonesia. Dari kasus pasangan Jawa yang dilihat Irewa saja misalnya. Pertengkaran itu disebabkan si suami menghabiskan uang dari usaha mereka untuk bermain judi dan perempuan lain. Dalam masyarakat patriarkis, kelakuan suami masih dimaklumi atawa dianggap wajar. Hal yang sama tidak akan terjadi bila si istri yang menghabiskan uang untuk berjudi dan bermain serong dengan laki-laki lain.
Masyarakat akan mencap istri yang berlaku demikian sebagai perempuan sundal, nakal, bahkan sampah masyarakat. Pada titik inilah saya kira sebagai pengarang perempuan atawa sebutlah feminis, bawah sadar Dorothea masih dalam cengkeraman sistem budaya patriarkis.  
Tetapi tentu saja tidak keliru apabila dalam sebuah resensi di Jawa Pos, Isinga disebut sebagai sebuah novel yang menguar harum feminisme. Kita maklum karena penulis resensi tersebut dan pengarang novel ini membandingkan nasib perempuan Papua (Irewa dan kaumnya) dengan seorang istri dari Jawa secara selintas dan kasat mata. 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka