Menyingkap Borok Politik Identitas

foto diambil dari FB Arafat Nur
Novel Tanah Surga Merah (TSM) menyodorkan konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai latar cerita. Konflik yang muncul mendenyutkan kisah, dan memantik motif tokoh-tokohnya berpikir dan bertindak. Konflik politik dengan demikian tidak sekadar sebagai latar cerita, melainkan menukik menjadi inti cerita—seperti diungkapkan Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (2016) sebagai alasan mereka memilih novel ini menjadi salah satu pemenang.
Konflik muncul dan diletupkan oleh segelintir elite dengan mengembangkan politik identitas demi mencapai ambisi kekuasaan. Apa yang coba disodorkan TSM barangkali dapat menjadi cermin yang jernih untuk merenungkan dan melihat kembali secara kritis betapa politik identitas berbasis primordialisme agama—yang belakangan gejalanya cenderung menguat dalam realitas kita berbangsa—merupakan ancaman serius bagi kehidupan demokrasi. Politik identitas pada akhirnya hanya memecah belah, alih-alih bekerja memakmurkan kehidupan rakyat. Ia tak segan menghalalkan cara apa pun, tidak hanya membohongi pengikutnya tetapi juga menepikan rakyat yang tidak sekubu.
Secara lugas TSM membabar betapa politik identitas menjadi sekadar trik untuk menarik dan memobilisasi massa melakukan kekerasan atau sekurangnya mengintimidasi mereka yang tidak sepandangan, atau liyan. Partai Merah, sebuah partai yang mengusung identitas agama (: Islam) dalam novel ini, setelah berhasil memenangi pemilu dan menjadi penguasa terbuka kedoknya. Mereka menggunakan agama semata untuk mencapai tujuannya, memperturutkan kerakusan. Menyuburkan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Hukum hanya tajam ke bawah.
Melalui Murad, tokoh utama, pengarang membongkar kebobrokan-kebobrokan petinggi Partai Merah. Murad menjadi buronan orang-orang Partai Merah yang dulu tak lain kawan-kawan seperjuangannya. Murad menembak kelamin Jumadil hingga salah seorang petinggi Partai Merah ini tewas. Murad menembak Jumadil lantaran lelaki yang doyan kawin itu kedapatan hendak memerkosa Fitri, seorang gadis yang masih kerabat Murad. Tindakan tokoh kita ini serupa memberi maklumat permusuhannya secara terbuka kepada sepak terjang orang-orang Partai Merah. Ihwal sikapnya menolak banalitas orang-orang Suardin, petinggi Partai Merah yang kini menjadi wali kota. Sejak itu Murad mengasingkan diri selama lima tahun.
Orang-orang yang dulu berteriak-teriak demi kemerdekaan, demi martabat, dan demi Aceh yang hebat, justru merekalah yang merusaknya. Kekuasaan di tangan mereka bukannya membuat Aceh tambah baik. Aceh masih jauh lebih bagus ketika masih berada di bawah pemerintahan sebelumnya, sekalipun dikuasai orang-orang yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah Jakarta. (hal. 51)
Meski mengusung tema politik, Tanah Surga Merah tidak jatuh menjadi propaganda. Sekurangnya pengarang tak mewakili pandangan politik tertentu yang mengkritik keras politik identitas yang memicu konflik politik yang memerahkan tanah Aceh. Novel menukik ke Murad sebagai sosok yang kalah, kecewa, dan barangkali putus asa terhadap realitas politik di daerah yang dicintainya. Murad yang meninggalkan salat justru sejak dia bergabung dengan Partai Merah. Kisah asmara dan humor getir, terutama dalam penyamaran Murad menjadi Teungku, yang membalur novel memberi bumbu lumayan sedap bagi keseluruhan cerita.
Lima Tahun yang Hilang
Pelarian Murad sebagai buronan sekembali dia dari pengasingan selama lima tahun setelah peristiwa penembakan ke tanah kelahirannya inilah yang menjadi fokus sekaligus membuat novel ini asyik diikuti. Meski menggunakan alur tunggal yang bergerak maju dengan tempo lambat dan dalam beberapa bab agak bertele-tele. Misalnya perkenalan Murad dengan Nanda, gadis tetangga Abduh, serta percakapan tentang kucing. Arafat Nur tampak tidak merancang kisah pelarian Murad untuk memunculkan heroisme dan kompleksitas tokoh utama.
Kehadiran Abduh, Mukhtar, Dahli, Hadi Kriet, Usman, Imran, dan kawan-kawan seperjuangan Murad, muncul sekadar untuk mengafirmasi Murad sebagai orang yang menentang kebobrokan Partai Merah. Narasi yang muncul kurang menggali sosok Murad, pergulatan pikirannya secara lebih rinci. Saya juga tergoda oleh pertanyaan, ke mana selama lima tahun Murad mengasingkan diri, kita tidak diberi informasi, kecuali keluar dari Aceh dan diduga pergi ke Batam. Akan lebih menarik seandainya sekilas saja mengisahkan masa pengasingannya yang selama lima tahun. Saya kira ini penting untuk melihat bagaimana sikap Murad yang tetap kokoh menentang Partai Merah. Apalagi mengingat peristiwa penembakan itu, bukan semata Jumadil hendak memerkosa Fitri, tetapi juga lantaran Murad tak puas atas pembagian fee proyek.
Dalam kisah pelarian Murad yang memakan hampir seluruh novel ini, mereka muncul dan diperkenalkan satu per satu; Mereka yang terbagi menjadi dua golongan antara yang memilih hidup prihatin sebagai orang kebanyakan seperti Mukhtar, Imran; dan yang menikmati kemakmuran yang didapat dari kekuasaan, seperti Hadi Kriet. Kedua golongan kawannya ini melindungi Murad dari kejaran petinggi Partai Merah yang merasa terancam.
Di satu sisi cara yang ditempuh pengarang membuat pembaca seperti saya, dan mungkin Anda, tetap fokus kepada pelarian tokoh utama. Tetapi di tepi yang lain mengesankan meringkus tokoh utama dalam narasi-narasi klise. Dengarlah keinginan Murad kembali ke Aceh, tanah kelahiran yang bagi dia seperti surga, namun surga yang merah karena senantiasa banyak ditumpahi darah anak-anaknya yang saling bertikai. Kita juga tidak mendapat penjelasan bagaimana Murad, seorang pergerakan, tiba-tiba menyukai sastra, membaca novel, menonton pertunjukan teater.
Hal lain yang agak mengganggu adalah terlalu berhamburan dialog-dialog yang sebenarnya dapat dipadatkan melalui narasi. Bagi saya dialog diperlukan apabila narasi tidak cukup lagi menghidupkan karakter tokohnya. Misalnya dialog ini.
“Itu menurut kita,” Imran menyahut. “Yang terjadi di luar sana orang-orang Partai Merah dan orang-orang Partai Jingga saling menuding. Tak ada yang mengaku, dan mereka semua menyalahkanmu. Situasimu semakin sulit. Kau bisa ditembak siapa pun.”
Tiba-tiba aku ingat sesuatu, “mana pistolku?!”
“Aku lupa membawanya,” jawabnya enteng.
“Kau bohong,” kataku menuding. “Kau memang sengaja tidak membawanya!” ….dst.  hal (178)
Dialog di atas juga tak berfungsi efektif karena sudah dijelaskan dalam narasi di halaman-halaman sebelumnya. Tetapi di luar semua itu Tanah Surga Merah bagi saya menjadi novel penting sebagai dokumentasi sosial perihal realitas politik di NAD, sekalipun pengarang tidak meniatkan menulis novel sejarah. Tetapi bukankah Julian Barnes pernah berkata bahwa semua novel adalah novel sejarah?
data buku
Judul:  Tanah Surga Merah • Penulis: Arafat Nur • Penerbit Gramedia Pustaka Utama•  Cetakan:  I, 2016 • Tebal : 312  halaman

Resensi ini disiarkan pertama kali oleh basabasi.co pada Sabtu, 18 Maret 2017

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka