Dari Istana Kekhalifahan

Selamat malam.  Berapa pekan sudah kita tak jumpa. Lama juga rupanya. Selama itu pula rasa bersalah menguntitku. Tak ada cara lain untuk mengurangi rasa salahku selain ngeblog lagi. Sebulan terakhir dan mungkin sampai dua bulan ke depan aku memang rada disibukkan oleh pekerjaan yang menyita waktu dan perhatian sehingga nggak sempat ngeblog (kalau ini boleh dijadikan alasan). Kabar baiknya, disela kesibukan itu aku selalu menyempatkan membaca novel.
Dua novel terakhir yang kubaca adalah Kitab Salahuddin dan Bayang Bayang Pohon Delima. Ini dua dari tetralogi Tariq Ali yang mengungkap jejak peradaban Islam. Sebelumnya tepatnya Februari 2015, aku sudah membaca Perempuan Batu dan sudah pula kutuliskan catatan tentang novel tersebut di blog ini. Jadi satu lagi yang belum kubaca, Seorang Sultan di Palermo.
Tetralogi Tariq Ali ini mengungkap kehidupan di dalam dan di luar istana para khalifah. Masa kekhalifahan sering disebut sebagai masa kejayaan peradaban islam. Melalui tetralogi ini Tariq Ali membabar kurun menjelang keruntuhan kejayaan kekhalifahan. Aku rasa menarik membaca novel tentang meredupnya kekahlifahan ini di tengah mencuatnya term kekhalifahan di negeri kita hari-hari ini.
Aku pikir kalau orang-orang itu, sebagian kecil umat Islam yang ingin menghidupkan kembali kekhalifahan,  membaca tetratlogi Tariq Ali ini mereka akan dapat berpikir ulang keinginan menghidupkan kekhalifahan. Kebanyakan mereka aku kira memang bukan orang yang gemar membaca sejarah, dan berpikir rasional. Tapi ya sudahlah. Mereka tampaknya cukup berbahagia dengan keinginan itu. Berpikir tidak rasional kadangkala menjadi sumber kebahagiaan. Aku tidak bertugas merenggut kebahagiaan mereka.  
Aku sudah cukup bahagia dengan posisi itu, posisi sebagai pembaca novel. Pada dasarnya kekhalifahan hanyalah cara atau sistem sebuah komunitas besar muslim dalam menyelenggarakan kehidupan sosial politik mereka. Tidak ada kaitannya secara langsung dengan perintah Tuhan dalam ayat-ayat kitab suci Al Qur’an. Soal ini bagi kamu yang membaca sejarah tentu sudah mafhum. Dan begitu pula pemahaman kekhalifahan dalam tetralogi ini.
Kitab Salahuddin menyodorkan sosok Salahuddin Al Ayubi. Dalam sejarah Islam, ia merupakan sosok panglima perang yang agung. Ia diberkati kecerdasan dalam diplomasi dan menyusun siasat perang.  Berkali-kali ia memenangi perang salib dan membebaskan Yerusalem dari pendudukan tentara salib Barat.  Lebih penting lagi ia seorang bijak, penyayang, dan toleran. Mampu memaafkan tentara musuh yang menyerah.   
Khalifah juga manusia
Di balik keagungannya, Salahuddin tetaplah sosok manusia yang memiliki keterbatasan. Tetapi justru karena itulah Salahuddin terlihat makin menggetarkan dalam keutuhannya sebagai manusia. Pada masa remaja ia menanggalkan keperjakaannya dengan seorang janda di sebuah kolam pemandian. Dalam standar moral Islam, hal ini tentu sangat dikecam. Ketika menjadi Sultan, Salahuddin memiliki seorang istri dan sejumlah selir.
Walaupun yang diceritakan novel berdasarkan sejarah, tetapi tentu saja sepenuhnya adalah fiksi (apa pun kalau sudah dalam bentuk tulisan adalah fiksi atawa hasil rekontruksi, bukan?). Namun jangan salah, melalui fiksi justru kita dapat melihat sejarah secara lebih jernih, lentur, dan nikmat. Sastra membebaskan kita dari sekat sekat benar dan salah. Kisah Salahuddin dituturkan oleh seorang juru tulis pribadi yang seorang Yahudi bernama Ibnu Yakub. Jadi novel ini hadir dalam bentuk semacam memoar Sultan Salahuddin oleh orang Yahudi. Betapa tolerannya Salahuddin. 

Memoar Salahuddin berisi tidak hanya kisah kegemilangan Salahuddin membebaskan Yerusalem, serangkaian peperangan merebut pengaruh dan memahsyurkan peradaban dunia Islam. Tetapi berbagai kisah manusia yang penuh paradoks. Ada hubungan asmara sejenis antara Jamilah dengan Halimah. Juga tentang hasrat tubuh seorang juru tulis istana Imaduddin kepada sesama lelaki. Tak lupa bumbu pengkhianatan cinta yang istri Ibnu Yakub, sang penutur novel ini, yang berhubungan badan dengan lelaki lain ketika sang suami tak ada di rumah, dan tragisnya lelaki lain itu guru Ibnu Yakub sendiri yang dikagumi. Semuanya diolah dengan menarik, menakjubkan. Kita diombang ambing antara perasaan benci dan cinta kepada tokoh-tokohnya.
Tariq Ali pencerita yang cerdik dan nakal. Dia menceritakan adegan-adegan seks secara rinci namun tidak jatuh ke dalam pornografi. Simaklah bagaimana Ali menggambarkan Salahuddin melakukan al-asyl atau yang sekarang kita sebut dengan coitus interuptus kala bersenggama dengan Jamilah. Salahuddin memuncratkan spermanya di atas perut Jamilah. Tariq Ali begitu obsesif ketika menceritaakan perilaku seks tokoh-tokohnya, termasuk gairah dan hasrat tubuh Imaduddin kepada seorang pemuda kerabat Ibnu Khaldun. 
Pada titik inilah barangkali novel ini dapat mengundang kemarahan kelompok kecil umat Islam yang memuja kekhalifahan. Seorang pembaca dari Malaysia misalnya, dalam catatan di blognya, mengecam Tariq Ali yang dianggapnya mendiskreditkan Sang Sultan. Ia menyesalkan penggambaran  Salahuddin yang tidak berakhlak.
Mengatasnamakan agama
Pada Bayang Bayang Pohon Delima, Tariq Ali membawa kita pada keruntuhan kesultanan Islam di Andalusia. Pembantaian dan pemberangusan budaya dan jejak peradaban Islam oleh inkuisisi gereja. Francisco Ximenes de Cisneros, seorang uskup yang memliki persoalan pribadi terkait dengan seksualitas dan keuskupannya, melampiaskan dendam pribadi. Dengan mengatasnamakan gereja ia menghasut tentara dan penguasa Kristen membakar buku-buku berbagai sumber ilmu pengetahuan peninggalan penguasa Islam, dari kedokteran, astronomi, tata pemerintahan, filsafat, sastra, dan sebagainya.
Ratu Isabela mencurigai bahwa ada darah Yahudi di dalam tubuh Cisneros. Sebuah tuduhan yang menyakitkan bagi Cisneros. Untuk membuktikan kekristenannya Cisneros memimpin  inkuisisi sisa-sisa masyarakat dan bangsawan muslim di Andalusia. Membaptis mereka menjadi Kristen atau disiksa sampai mati. Jadi, peperangan antara Islam dan Kristen lebih dipicu oleh keserakahan dan hasrat menguasai.
Siapakah Tariq Ali? Lelaki ini lahir di Lahore, Punjab, Pakistan, pada 1943. Ia bukan hanya seorang novelis dengan karya-karyanya yang banyak menggali sejarah peradaban Islam. Ia juga seorang aktivis. Keluarganya mempunyai latar belakang progresif. Ayahnya seorang pendukung komunis. Dia mendapatkan pendidikan di Pakistan dan kemudian melanjutkan ke universitas Oxford, Inggris. Sejak  1960-an, ia sudah menjadi salah satu intelektual  gerakan kiri  tekemuka. Dia menulis artikel secara reguler untuk  Guardian yang terbit Inggris.  Menjadi editor jurnal kiri terkemuka New Left Review.  Tariq Ali juga memroduksi film dokumenter, menulis skenario untuk teater dan film. 
Kedua novel ini diterjemahkan masing-masing oleh Anton Kurnia dan Julkifli Marbun, dan diterbitkan oleh Serambi, Jakarta, Juli 2006

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka