Kehidupanku di Desa

Persawahan yang terdesak permukiman penduduk
Aku menyukai kegiatan bercocok tanam. Melihat proses tumbuh perlahan dan bagaimana bertahan mengalahkan setiap ancaman bagiku menyenangkan sekali. Aku membeli pot-pot untuk menanam bebungaan, sayuran, dan buah. Mereka kuletakkan di pekarangan samping rumah yang tak seberapa luas. Aku juga senang memelihara hewan. Aku punya beberapa ekor unggas. Aku memelihara kucing  (aku berencana memlihara anjing).
Aku menanam pohon mangga. Aku menanam sirsak. Aku juga menanam jeruk, alpukat,  dan belimbing. Mereka kutanam di tanah. Akarnya menancap kuat ke kedalaman bumi. Sekarang batangnya mulai tinggi, daunnya lebat, dahan dan rantingnya banyak. Menaungi pekarangan rumah dan memberi hawa segar.  Tapi sayuran dan bebungaan yang kutanam tak pernah berumur panjang. Unggas-unggasku mematuki daun-daunnya, membuat mereka ranggas dan mati. Namun aku tak pernah bosan menanam dan menanam lagi. Kemudian rusak dan rusak lagi.
Aku membeli bambu dan membuat kandang untuk unggas-unggasku. Kini tanaman sayuran dan buahku ada beberapa yang selamat. Pohon pepayaku mulai meninggi. Paruh unggas-unggasku yang menerobos keluar kandang sudah tak bisa lagi menjangkaunya.  Juga bunga-bungaku. Mulai melebat daun-daunnya. Putik-putik bunga bertebaran dan mulai mekar. Tetapi bagaimana caranya tanaman cabe dan tomatku sanggup bertahan sampai berbuah? Ketika mereka terbebas dari paruh unggas, hama menyerang daun-daunnya. Mereka mengerut dan menghitam, lalu layu, mengering, sebelum akhirnya pingsan.

Kini istriku mulai turut mengurus dan memelihara tanaman dan unggas-unggasku. Aku senang memandang dia menyiram tanaman dan memberi makan unggas dan kucingku pada keremangan pagi. Puitis sekali seperti adegan  film dokumenter buatan anak-anak sekolah film tingkat pertama. Aku gembira karena sebelum ini dia sering bilang tanaman dan unggas-unggasku bikin kotor pekarangan. Sulungku hanya akan menyiram tanaman kalau aku menyuruhnya.  Ia lebih sering duduk di depan laptop mengerjakan tugas kuliah atau memeriksa toko online-nya, dan pergi mengantar dagangan pesanan pembeli.


Aku mengumpulkan sampah-sampah organik dan kotoran unggas untuk kupermentasi  menjadi pupuk. Aku memeriksa tanamanku setiap pagi dan sore. Membersihkan ulat-ulat yang melekat di dedaun sirsak dan alpukat.  Aku melakukanya saban pulang dengan hati semarak.
Anakku yang tengah membeli ayunan anyaman pita. Dia memasangnya di batang pohon mangga dan pilar rumah. Ia tiduran terayun-ayun di sana. Menikmati segarnya semilir angin sambil menyesap es krim. Kadang aku meniru tingkahnya, tapi sambil membaca novel dan membayangkan berada di pantai laut utara. Kuminta tolong istriku membuatkan teh panas dan dan jagung rebus.  Bungsuku datang dan ikut duduk di ayunan sehingga badan kami berhimpitan.     
anak-anak berburu bunglon
Sore hari aku bersepeda dengan si bungsu duduk di belakang menyusuri  lurung-lurung desa. Melihat hamparan sawah yang terus terdesak permukiman. Kubayangkan hamparan sawah tak lama lagi bakal makin menyempit oleh rumah-rumah beton milik orang-orang desa yang bekerja di Korea dan Saudi Arabia. Memikirkannya kadang aku merasa agak ngeri. Bagaimana caranya mengerem laju pertumbuhan penduduk?  Aku melihat gunungan sampah yang tak tertampung lagi bak sampah yang dibangun di pojok persilangan jalan seberang irigasi. Aku melihat anak-anak desa berburu bunglon dan jangkrik. Aku mengayuh sepedaku ke selatan, mampir di masjid kecil tepi lapangan bola untuk sebentar sembahyang.
Dalam pengelanaanku mengelilingi desa aku mendapatkan bibit tanaman. Kadang ia berasal dari tanah perkuburan. Kadang pekarangan rumah seorang kawan yang kukunjungi. Minggu kemarin aku mendapatkan bibit cabe dari kawan baikku. Dia menanam cabe dalam pot kantong-kantong hitam (polybag).  Pot-pot itu dia tata secara rapi di pekarangan belakang rumahnya yang lumayan luas. Ada sekurangnya seratus batang cabe.  Ia anak muda yang mengundang rasa salut. Anak muda yang secara tegas menolak menghambur ke kota-kota besar jadi mesin kapitalis seperti kawan-kawannya.  Ia memilih tetap tinggal di desa. Menanam cabe. Menanam tomat. Ia juga membuat pupuk organik. Ia memelihara burung dan ayam-ayam kampung.  Ia beternak jangkrik. Membuat peti-peti kayu untuk kandang jangkrik. Memisahkan jangkrik yang masih kecil dan yang siap dipanen. Jangkrik yang telah dipanen ia jual ke pengepul. Dari sanalah dia mendapatkan uang buat membeli kopi, rokok, dan membiayai adiknya kuliah. Aku suka melihat caranya menangani hidupnya: sabar, tekun, dan bersahaja. Tetapi bagi orang tuanya terlihat rumit dan aneh.
kebun cabe
“Mereka tak pernah mendukung usahaku. Mereka maunya aku bekerja memanfaatkan ijazah sarjanaku,” akunya agak sedih.           
Aku menyimak dia bicara tentang cara beternak jangkrik. Cara dia membuat pupuk organik.  Aku senang melihat kebun cabe dalam pot-pot kantong hitam. Ternyata dia juga beternak kambing. Pada hari yang lain diajaknya aku ke peternakannya. Usaha ternak kambing dia lakukan bersama seorang kawannya. Semula tidak hanya mereka berdua yang mengurus peternakan kambing dengan bantuan dana dari pemerintah desa. Tetapi satu persatu kawan-kawannya surut. Beberapa di antaranya karena tidak siap dengan pengelolaan modern yang menuntut  transparansi.
“Tidak mudah mengajak kawan-kawan yang siap mengelola usaha ini dengan rasa cinta dan kejujuran,” kata dia, masgul. Ada belasan kambing yang dia pelihara. Memanfaatkan lahan kosong di belakang rumah pojok desa.  Dari belasan kambing di kandangnya, beberapa di antaranya punya teman-teman dia yang dititipkan kepadanya sebagai investasi.  Dia menjelaskan sistem pembagian keuntungan secara rinci.
Di sebelah kandang kambing dia membuat kolam-kolam terpal untuk menanam ikan gurame dan lele. Aku dan bungsuku senang berlama-lama berada di sana. Dan baru akan pulang menjelang maghrib. Esoknya aku bersama dia ke pasar hewan unuk membeli kambing. Aku membeli dua ekor kambing jantan untuk kutitipkan pemeliharaannya kepadanya. Setidaknya sebagai bentuk dukunganku kepada sikap idealisme dan ketegarannya melawan arus urbanisasi.

Comments